Sunday, 29 September 2019

Gerakan Generasi Milenial di Era Digitalisasi Demokrasi

RIBUAN mahasiswa melakukan demonstrasi di seluruh nusantara. Bahkan, gelombang aksi turun ke jalan ini berlangsung sepekan tanpa henti. 

Aksi mahasiswa di DPRD Sulsel, Jl Urip Sumahardjo, Makassar, Sulsel, Kamis (24/9/2019). 


Sampai-sampai aksi ini merembes hingga siswa STM/SMK ikut-ikutan aksi di jalan. Bahkan, hingga terjadi perang antar warga di Jl Urip Sumohardjo.

Puncak aksi di Makassar, terjadi kerusuhan dan kerusakan di pusat kota. Jalanan terblokir hingga kemacetan dimana-mana. Selain itu, jatuh korban di pihak mahasiswa dan apparat keamanan.

Aksi ini cepat meluas dan bisa disaksikan langsung melalui live facebook dan video-video dari lokasi aksi karena kamera-kamera demonstran juga menyorot aksi ini. Sehingga, aksi ini bisa cepat meluas ke berbagai lapisan masyarakat yang punya smartphone.

Jadilah, aksi mahasiswa dari berbagai negeri ini bisa disaksikan melalui layar smartphone masing-masing masyarakat.

Awalnya, mahasiswa ini melakukan demonstrasi untuk memprotes pengesahan undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kenaikan iuran BPJS Kesehatan, dan berbagai rancangan undang-undang di akhir masa periode Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Aksi ini terus berlangsung di Makassar. Apalagi, belum ada titik temu antara mahasiswa dan pemerintah pusat di Jakarta terkait tuntutan mereka.

Mahasiswa yang berasal dari Generasi Milenial ini mulai menggugat kebijakan dan kerja-kerja pemerintahan di jalanan dan sosial media.

Generasi Milenial sudah terlibat dalam aksi-aksi politik dan kenegaraan saat Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 lalu. Para calon presiden sudah melibatkan mereka dalam tim sukses.

Ada pro, ada kontra dengan pemerintahan. Wacana pemilihan presiden menggema di auditorium kampus-kampus.

Hingga, akhirnya mereka mulai turun secara terstruktur, sistematis, dan massif ke lapangan untuk menggugat keputusan dari pemerintah dan DPR RI di ujung periode. Generasi Milenial ini sudah bertrasformasi sebagai “oposisi” pemerintah.(*) 


Video aksi mahasiswa UNM: 

Video aksi mahasiswa Unismuh: 


bentrok mahasiswa versus polisi: 


Penjelasan presiden Joko Widodo untuk aksi di Indonesia: 

Saturday, 28 September 2019

Aksi Generasi Milenial Mahasiswa UNM di Makassar

Saya ingin melihat sisi lain masa depan politik Indonesia melalui gerakan generasi Milenial.

Demonstrasi mahasiswa di DPRD Sulsel, Jl Urip Sumohardjo, Makassar, Jumat (27/9/2019) (property by: Achmad Adam Abdillah)


Inilah gambaran bonus demografi Indonesia 2020. Mereka mulai menyuarakan sendiri aspirasinya tanpa ditunggangi elite tertentu.

Mereka ingin mendapatkan perhatian dari pemerintah. Mereka menyuarakan menurut pengalaman dan pemikirannya sendiri.




Video: pergerakan mahasiswa UNM saat aksi demonstrasi menolak UU KPK, RKHUP, dan Iuran kenaikan BPJS, Selasa (24/9/2019).


Bisa saja aspirasi mereka berakhir dengan damai tapi bisa juga berakhir dengan anarkis.

Inilah kelompok besar dalam demokrasi Indonesia saat ini. Mereka adalah generasi Milenial.

Generasi yang memikirkan sendiri model pergerakannya.

Generasi yang lebih banyak bergumul dengan internet dan sosial media. (*)

Sunday, 22 September 2019

Raatchasi, Jyothika Saravanan Ubah Sekolah Bobrok Jadi Berprestasi

Kepala sekolah perempuan bisa mengubah kondisi sekolah dari semrawut menjadi juara.

Padahal sekolah itu sangat tak disiplin. Siswa merokok, membolos hingga bertengkar dalam kelas. Guru tak menjalankan tugasnya. Bahkan, guru-gurunya tak mampu mengajar. 


Jyothika Saravanan (sumber: https://gulfnews.com)


Bayangkan jika guru yang mengajar anak Anda tak mampu mengajar. Tak hanya itu, sekolah negeri menjadi pasar karena ada transaksi ketika Anda masuk maka harus membayar.

Selain itu, ada preman yang selalu meneror sekolah untuk mencari pekerja dari anak-anak. Tak hanya itu, pemilik sekolah swasta dan berpengaruh di kota itu selalu ingin menjatuhkan sekolah milik negara itu.

Cerita itu adalah bagian dari film dari negara India berjudul Raatchasi. Film ini rilis di India, 5 Juli 2019. Pemeran utamanya adalah Jyothika Saravanan. Artis kebangsaan India ini menjadi kepala sekolah baru di daerah paling selatan India.

Pertama-tama, Jyothika Saravanan memperbaiki siswanya. Jyothika Saravanan sampai mendatangkan kembali siswa yang drop out.

Menurutnya, ketika pendidikan hilang dari seseorang maka itulah awal dari kiamat.

Kebijakannya ini ternyata mendatangkan masalah untuknya, konglomerat sekolah swasta yang tak suka dengannya kini  mencarikan jalan sehingga Jyothika Saravanan dipenjara karena mengikutkan siswa yang sudah drop out dalam ujian nasional.

Desakan orang tua, siswa dan guru tak berhenti hingga pengadilan memenangkan kebijakan Jyothika Saravanan.

Jyothika Saravanan mengajak orang tua untuk berkontribusi dalam pendidikan karena anggaran pemerintah sangat kurang. Selain itu, dukungan orang tua akan mampu mempercepat perkembangan anak.

Jyothika Saravanan terakhir menyelesaikan persoalan kompetensi guru. Hingga, akhirnya guru-guru ikut belajar semalaman sebelum belajar mengajar dimulai.

Alhasil manajemen perbaikan siswa, orang tua dan guru membuat sekolah ini mendapatkan juara pada pertandingan junior di wilayah itu.

Menurut Jyothika Saravanan, ia bukanlah yang berhasil tapi karena kemauan dari siswa, orang tua dan guru untuk berubah dan maju.

Dirinya hanya mendorong ketiga komponen untuk maju.

Selama 2 jam film Raatchasi, Jyothika pelit senyum. Ia sangat serius. Apalagi, ia memang alumnus militer. Pangkat terakhirnya adalah letnan kolonel.

Dari film ini memperlihatkan gambaran sekolah masa kini di belahan dunia mana pun. Setiap sekolah bisa berubah jika memang pemimpinnya kuat, cerdas, pekerja keras dan berani.

Jyothika Saravanan adalah pemimpin kuat fisik dan mental. Ia adalah militer berpangkat letnan kolonel. Militer mengajarkan untuk kuat fisik dan mental.

Selain itu, ia juga cerdas dalam komunikasi publik hingga semua orang ikut dengan idenya. Menjadikan orang yang melawannya menjadi kawan.

Bahkan, polisi menjadi salah satu tim, tugas polisi adalah mencari orang tua yang tak membiarkan anak-anaknya sekolah. Polisi mengancam hukuman karena melanggar undang-undang wajib belajar sekolah.

Dari beberapa sesi, ia sangat rajin membaca. Bahkan, dalam penjara, ia masih sempat membaca buku peninggalan ayahnya. Ayahnya meninggal dunia dengan buku di pelukannya.

Jyothika Saravanan pekerja keras karena tetap memikirkan strategi dalam memimpin sekolah ketika malam tiba. Beberapa kali ayahnya menegur tapi tetap saja memikirkan sekolah. 


Bahkan, saat hari libur, Jyothika Saravanan tetap ke sekolah untuk memantau kelas Minggu.

Jyothika Saravanan pemberani karena melawan kekuasaan dengan mengandalkan idealisme. Bahkan, ada sesi dalam film, ia mengusir penjual toko kelontong karena menjual rokok, mengacuhkan politisi berpengaruh, mengusir konglomerat.

Terakhirnya, ia menggebuk para preman yang ingin menjadikan anak-anak sebagai pekerja kasar.

Film Raatchasi jadi salah satu rekomendasi untuk Anda yang suka film pendidikan. Film ini selevel dengan film yang dibintangi Amir Khan, Three Idiots. (*)


Trailer film Raatchisi: 


meet and great dengan Jyothika Saravanan: 

Saturday, 21 September 2019

Pak Habibie yang Aku Kenal! (2)

Awal Mulanya....

Aku pertama kali mengetahui nama Habibie ketika masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar (SD). Kala itu, televisi berwana masih awal muncul. 

Aku dan Pak Habibie. 

Ibuku membeli televisi itu dan jadilah tv pertama di rumah kami, Mei 1998.
Aku melihat Habibie kala itu menggantikan Presiden Soeharto. Aku melihat Habibie pertama sebagai presiden pengganti Soeharto. 

Setahun itu, wajah Habibie banyak muncul di tv-tv untuk membahas demokrasi. Setelah itu, ada informasi BJ Habibie menyetujui referendum pelepasan Timor Timur dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Aku melihat di tv, keputusan ini menyebabkan pro kontra. Sehabis itu, setahun kemudian, Habibie sidang DPR RI. Laporan Pertanggungjawaban Habibie kala itu ditolak. 

Sehabis itu, nama Habibie tak lagi ada di belantara politik Indonesia. Nama Habibie tak muncul kala pemerintahan Abdul Rahman Wahid atau Gusdur dan Megawati Soekarno Putri. 

Sampai Habibie muncul kembali melalui karyanya buku "Detik-detik Menentukan" kala masa reformasi. 

Buku ini kembali mempopulerkan nama Habibie di dunia politik. Apalagi, ada pertemuan dengan mantan Pangkostrad TNI AD sekaligus Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Prabowo Subianto yang misterius hingga saat ini. Hingga, Prabowo dicopot sebagai Pangkostrad kala itu. 

Para petinggi militer belum ada kesamaan cerita hingga saat ini. Apalagi, Prabowo tak mau mengungkap lebih detail tentang pertemuan ini. 

Selanjutnya, Aku kembali melihat Habibie menjadi populer ketika ditinggal istrinya, Asri Ainun. Wanita yang menemaninya ketika suka dan duka. 

Dari kematian istrinya, Habibie nampak sangat sedih dan apapun kenangannya menjadi viral. Bahkan, ada kata-katanya yang paling aku kenang hingga saat ini. 

"Tak perlu orang sempurna di sisi, cukup temukan yang membuatmu bahagian." Qoute Habibie cepat sekali viral. 

Aku pertama kali bertemu Habibie pada peringatan hari kebangkitan teknologi nasional di rumah jabatan gubernur Sulsel, Agustus 2017. Memang, kala itu Habibie adalah pribadi yang serius. Tak ada candaan dengan lawan bicaranya. 

tatapannya sekali serius ketika berbicara dengan Menteri Koordinator Kemaritiman RI, Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Riset Dikti Mohamad Nasir, Gubernur Sulsel periode 2008-2018, Syahrul Yasin Limpo. 

Bahkan, ketika dia membawakan pidato tentang teknologi. Tak ada nada bercanda. Ia bukan memberikan sambuatan tapi pidato teknologi. Ia nampak baru tersenyum kala Mohammad Nasir "dibakar" penari pepe'-pepe' ri Makkah. (*)



Pelajar Indonesia CLAUDIA Emmanuela Santoso Gegerkan The Voice Germany

CLAUDIA Emmanuela Santoso mendadak viral di jagad Youtube dan berbagai akun sosial media. 

Claudia Emmanuele Santoso (property: The Voice Germany) 


Pelajar asal Cirebon, Jawa Barat ini membawakan lagu The Greatest Showman "Never Enough" di depan para juri The Voice Germany 2019. 


Penyanyi Pop Kebangsaan Germany dan Kanada, Alice sampai menitihkan air mata. 

Aku pertama melihat Claudia Emmanuela Santoso di akun Youtube The Voice Germany. Aku kira dia adalah warga Jerman yang memang sudah lama bermukim. 

Ternyata, belakangan Claudia Emmanuela Santoso diketahui pelajar yang menimbah ilmu di negeri rantau Presiden RI ke-3, BJ Habibie. 

Saksikan Claudia Emmanuela Santoso menyanyi dibandingkan dengan penyanyi ajang pencarian bakat di seluruh dunia:



Claudia Emmanuela Santoso memang bukan bernyanyi pertama ini. Claudia Emmanuela Santoso sudah bernyanyi sejak masih sekolah di Indonesia. 

Bahkan, sudah berprestasi. So, tak ada keberhasilan diraih tanpa kerja keras. 

Langkah Claudia memang masih panjang, begitupun dengan teman-teman Milenials. Claudia Emmanuela Santoso memberikan kita pelajaran, ketika Anda profesional dan berbakat maka setiap orang akan menerima itu.  

Sehingga, langkah selanjutnya adalah meningkatkan kapasitas dan melatih diri untuk bekerja keras. Apapun profesi milenial. 

Claudia Emmanuela Santoso mampu menunjukkan kepada dunia, ia bersyarat untuk mendapat standing applause di depan masyarakat Jerman. 

Anda juga bisa kan? (*)

Tuesday, 17 September 2019

Pythagoras bukan Sekedar Rumus Matematika

Mungkin Anda kenal pertama kali Pythagoras ada dalam rumus matematika tentang segitiga. Rumus ini Anda pelajari saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Rumus sederhana tentang mencari sisi lain dari segitiga. 


Phthagoras dari Samos (property: the union.com)


Dalam buku Sejarah Tuhan karya Karen Amstrong, Pythagoras adalah seorang filosof abad keenam Sebelum Masehi (SM).

Pythagoras yang mungkin sekali telah terpengaruh gagasan dari India, yang menyebar melalui Persia dan Mesir.

Dia juga percaya bahwa jiwa adalah bagian zat ilahi yang terjatuh, tercemar dan terperangkap dalam tubuh seperti dalam sebuah kuburan dan terhukum untuk menjalani siklus kelahiran kembali yang tiada habisnya.

Dia telah menyuarakan pengalaman semua manusia tentang rasa keterasingan di dunia yang tampaknya bukan merupakan unsur sejati kita. 


Pythagoras mengajarkan bahwa jiwa bisa dibebaskan melalui penyucian ritual, yang teratur.

Tak hanya itu, Pythagoras punya keyakinan bahwa setiap jiwa itu abadi, dan setelah kematian, jiwa tersebut akan masuk ke tubuh yang baru.(*)

#pythagoras
#filsufyunani

Sunday, 15 September 2019

Para Aktor Politik Pilwali Makassar 2020

Tribun Lipsus turun dengan para aktor politik di Kota Makassar jelang Pemilihan Wali (Pilwali) Kota Makassar 2020. Pilkada ulang ini menampilkan wajah lama dan baru.

Mereka ini adalah tokoh dari jaringan pengusaha dan politik yang sudah berkiprah di makassar sejak puluhan tahun lalu. Tribun ingin memperlihatkan jejaring mereka di Makassar dan Sulsel karena Makassar adalah ibu kota sehingga para tokoh ini "mengirimkan" orang terbaik di dalamnya. 


Lipsus Tribun Timur edisi Minggu (15/9). 


***
PARA aktor politik kota Makassar sudah menabuh genderangmasuk gelanggang Pemilihan Wali (Pilwali) Kota Makassar 2020. 

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menjadipanggung untuk para calon pemimpin Kota Makassar. Tak kurang 18 calon wali kota Makassar melamar partai pemenang kedua Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 ini di Kota Makassar ini. 

Muka lama dan baru ikut mendaftar di partai berlambangkepala banteng ini. Para calon ini berasal dari keluarga biasa-biasa hinggakeluarga dengan jejaring politik nasional. 

Mantan calon wali Kota Makassar pada Pilwali 2018lalu, Munafri Arifuddin, Moh Ramdhan “Danny” Pomanto, Syamsu Rizal MI, dan IrmanYasin Limpo juga ikut meminta restu dari Megawati Soekarno Putri, sebagai penentu utama kemana PDIP berlabuh. 
Selain itu, ada juga muka baru seperti TaufiqulhidayatAnde alias Dr Onasis, Fadli Ananda, Muhammad Ismak. 

Hal paling mengejutkan adalah Taufik Fachruddin dan Aliyah Mustika juga ternyata mengambil juga di detik-detik akhir. 

Munafri saat ini punya hubungan sebagai menantu daripolitisi senior Partai Golkar, Aksa Mahmud. Aksa bukan sekadar politisi, iajuga adalah pengusaha mapan di Indonesia. Selain itu, ada juga mantan wali kota Makassar, DannyPomanto. 

Danny punya jejaring pengusaha dan konstruksi di Indonesia. 

Sementara itu, Syamsu Rizal MI menjadi refresentasidari Ilham Arief Sirajuddin, mantan wali kota Makassar. 

Irman Yasin Limpo menjadi refresentasi dariperpanjangan tangan dari Syahrul Yasin Limpo, mantan gubernur Sulsel 2 periode.

Sementara itu, Taufiqulhidayat Ande alias Dr Onasis menjadi refresentasi dari pengusaha travel terbesar di Indonesia, PT Tiga Utama.Sementara itu, Fadli Ananda adalah anak dari mantanKetua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulsel, Iskandar Idy.  

Para calon pemimpin ini menawarkan diri memimpin 1,6 juta jiwa masyarakat Makassar lima tahun ke depan. Sehingga, mereka mencari kendaraan politik untuk masuk ke gelanggang Pilwali Makassar 2020.

Selain menantu Aksa Mahmud, Munafri Arifuddin adalah CEO PSM Makassar. PSM Makassar mempunyai loyalitas kuat. Apalagi, Munafri baru saja membawa PSM juara pada Piala Indonesia mengalahkan Persija Jakarta. 

Danny Pomanto punya pengalaman memimpin Kota Makassar. 
Ia adalah petahana bersama Syamsu Rizal MI. Danny-Ical berhasil membawa 181 buah penghargaan. 

IrmanYasin Limpo bukan cuman sebagai adik Syahrul Yasin Limpo. Ia juga selalu berhasil membawa keberhasilan di setiap dinas atau badan yang dia pimpin.

Dr Onasis menjadi pendatang baru di gelanggang politik Makassar. Selama ini, dia fokus sebagai dokter ahli radiologi di berbagai rumah sakit. 

Ia bagaikan kertas putih di dunia politik. Tapi, keluarganya sudah besar sejak dulu. Bahkan, Megawati dan Ande Latief adalah sahabat di masa lalu kala masa rezim orde baru. 

Kakak kandung Dokter Onasis, almarhumah Defti Reskiwati Ande atau sering disapa Ella adalah salah seorang staf Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). 

Perempuan 45 tahun itu wafat ketika bertugas mendampingi Menko PMK Puan Maharani rapat persiapan haji di Makkah, Arab Saudi. 

Mereka memang punya tokoh politik di belakangnya, tapi mereka juga seharusnya bisa menunjukkan kemampuan untuk memimpin Kota Makassar. Bukan cuman berlindung di balik kebesaran para tokoh ini.

Maka, sepatutnya mereka loyal kepada masyarakat Makassar. Apalagi, ketika mereka terpilih jutaan masyarakat bakal menyandangkan semua kebutuhannya kepada wali kota.(*)


Saturday, 14 September 2019

Akar Masalah Banjir di Manggala Makassar

Pakar air dari Inggris, Richard Jones.  Dok/Desi Triani


Pakar air dari Inggris, Richard Jones memberikan keterangan tentang hal yang terjadi di Kelurahan Manggala, Makassar.

Ia mengatakan banjir yang melanda Kelurahan Manggala di area rendah bukan merupakan bencana alam.

Bahkan, bencana ini selalu berulang karena penananganan salah. Menurutnya, ada ada tata kelola irigasi dan pengairan keliru. Sehingga, Manggala diterpa banjir setiap tahun. Bahkan, dari survei Richard, warga Manggala rugi sekitar Rp 7,7 miliar awal tahun 2019.  

Baca selengkapnya di Tribun Timur edisi cetak: 

Edisi cetak Tribun Makassar, Sabtu (14/9). 



Friday, 13 September 2019

Pak Habibie yang Aku Kenal!

9 Agustus 2017, saya meliput Pak Habibie saat komandan Syahrul Yasin Limpo masih menjabat gubernur Sulsel. 

Habibie datang pada puncak acara Hari Kebangkitan Teknologi Nasional.

Saat itu, Syahrul rela menyerahkan kursinya kepada Presiden RI ke-3. 


Baca selengkapnya beritanya!

Berani Geser Syahrul dari Kursi Kebesarannya? Sosok Ini Disebut Pak Presiden


Saat Habibie membawakan pidato sambutan, ia pun mengajak kepada semua pejabat untuk menatap maju dengan mengembangkan pesawat.

Menurutnya, pesawat terbang adalah simbol kemajuan negara.

Habibie kala itu, membawakan pidato dengan gaya bahasa "meledak-ledak" dan penuh semangat. 


Saat itu, aku tak berani mendekat karena segang dengan Teknokrat Dunia ini. 

Aku hanya mampu bisa mengambil foto dari jauh kala orang-orang mendekat. 

Wefie bareng Presiden RI ke-3 BJ Habibie di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Jl Jenderal Sudirman, Makassar, Sulawesi Selatan, 9 Agustus 2017. 


Aku melihat BJ Habibie yang menjadi lirik lagu Iwan Fals, dalam judul Oemar Bakri ini nampak tersenyum.

Tak ada penolakan dan pemberian ruang untuk foto. Ia nampak santai saja ketika puluhan kamera menghadap kepadanya.

Hanya ada dua orang pengawal nampak memperhatikan tetamu dari pejabat eselon II, tokoh masyarakat hingga pengusaha ini.

Tapi, Habibie nampak tersenyum kala melihat tarian Pepe'-pepe'ri Makka.

Lihat videonya: 






Mungkin dia mengenang masa kecilnya kala masih di Kota Parepare. 

Habibie ini adalah keturunan Makassar, kakek buyutnya, Lamakasa adalah bangsawan Makassar.

Lamakasa memilih meninggalkan kampung halaman kala adanya perjanjian Bungaya dengan VOC, 1667 silam. Ia pun singgah ke Gorontalo kemudian menjadi pengusir bajak laut yang meresahkan di sana di masa lalu.

Habibie telah meninggal kita dengan berbagai kebanggan dan prestasi di mata dunia untuk bangsa Indonesia.

Semoga kita bisa mengikuti jejak Habibie. Semoga Pak Habibie tenang di sisi-Nya.(*)

Wednesday, 4 September 2019

7 Poin Deklarasi Makassar untuk Papua Damai

PEMERINTAH Kota Makassar menjadi leading sektor untuk Apel Kebangsaan di depan Monumen Mandala, Jl Jenderal Sudirman, Kota Makassar, Senin (2/9/2019) siang.  




Aksi damai Makassar dari Indonesia di Monumen Pembebasan Irian Barat, Jl Jenderal Sudirman, Makassar, Sulsel, Senin (2/9/2019).

Elemen masyarakat yang hadir yakni organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) Kota Makassar, OPD Kota Makassar, Ormas dan komponen Masyarakat Kota Makassar dengan tema Apel Kabangsaan "Dari Makassar untuk Indonesia Damai"

Mereka menyampaikan perdamaian atas kerusuhan dan rasis yang terjadi di beberapa wilayah di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Kasus ini bermula kala terjadi aksi protes Manokwari, Papua, Senin (19/8). Kondisi ini terjadi setelah aksi protes warga Papua diwarnai ricuh, blokade dan, pembakaran.

Kericuhan di Manokwari bermula dari berbagai unjuk rasa kelompok mahasiswa Papua yang diduga mendapat tindakan diskriminatif dan rasis.

Unjuk rasa ini memperingati Perjanjian New York 1962 antara Indonesia dan Belanda.

Rusuh terjadi di Jayapura, Sentani Papua Barat, Malang Jawa Timur; Ternate, Maluku Utara; Ambon, Maluku; Sula, Maluku; Bandung, Jawa Barat.

Bahkan, sempat terjadi kerusuhan di Asrama Papua Makassar, Jl Lanto Daeng Pasewang, Senin (19/8/2019) malam.

Setelah itu, Pemerintah Kota Makassar menginisiasi penggalangan solidaritas damai untuk Papua. (*)



Berikut facebook live Deklarasi Damai Makassar untuk Indonesia: 






Deklarasi Damai Makassar untuk Indonesia: 



a. Menyerukan kepada seluruh masyarakat Kota Makassar untuk menjaga persatuan dan soliditas umat dalam menciptakan suasana kondusif dan stabilitas Kamtibmas di wilayah masing - masing.


b. Mendukung sepenuhnya upaya aparat penegak hukum untuk menindak tegas dan mengamankan oknum - oknum yang berusaha untuk terus melakukan provokasi antara elemen - elemen anak bangsa yang dapat menciptakan konflik horizontal.


c. Menghimbau kepada umat dan elemen bangsa untuk tidak mudah terpengaruh upaya provokatif dan senantiasa bersikap arif dalam menerima dan menyebarkan informasi kepada siapapun juga, terhindar dari upaya pembenturan antara elemen anak bangsa.


d. Mendukung Pemerintah Pusat agar segera mengkonsolidasikan dan memberikan pernyataan tegas, agar tokoh - tokoh yang ada di Papua Barat dan Papua, serta seluruh elemen anak bangsa agar kondisi Papua Barat dan Papua dapat segera terkendali, dan senantiasa untuk kembali menciptakan suasana Persaudaraan yang harmonis di kalangan anak bangsa.


e. Mendorong Pemerintah dan aparat hukum untuk segera bertindak profesional dan proporsional terhadap oknum - oknum provokator dengan adil dan konsisten sesuai perundang - undangan hukum yang berlaku, terkhusus kepada oknum-oknum yang secara lantang menolak eksistensi dan kedaulatan NKRI.


f. Menghimbau kepada seluruh komponen media elektronik, online, dan cetak agar senantiasa memberitakan peristiwa ini secara benar, adil, dan penuh hikmah serta kebijaksanaan, sehingga dapat menciptakan kondusifitas dan Kamtibmas di wilayah NKRI.




g. Menghimbau kepada seluruh komponen bangsa untuk senantiasa menjaga keutuhan NKRI dan sandarkan diri kepada Ilahi Robbi, permantap ibadah serta tawakkal kepada Allah SWT.(*)


Papua adalah kita, dan kita adalah Papua

Dr Syamsuddin Radjab SH MH 

Pakar Hukum Tata Negara (HTN) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM), Dr Syamsuddin Radjab SH MH mengatakan, Papua adalah bagian dari Indonesia. 


Pada awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Papua sudah menjadi wilayah yang tak terpisahkan dengan Indonesia dalam ketetapan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), 14 Juli 1945. 

Hal ini dikuatkan dengan New York Agreement pada 15 Agustus 1962 berupaya penyerahan Belanda kepada pemerintah Indonesia sebagai bagian dari wilayah NKRI melalui fasilitasi PBB dan yang terakhir hasil referendum penentuan pendapat rakyat (Pepera) 1969 masyarakat Papua yang ingin melepaskan diri penjajah Belanda dan bergabung dengan Indonesia.

Menurutnya, secara historis, budaya dan ekonomi, masyarakat Makassar mempunyai peran penting untuk membebaskan Papua dari cengkraman penjajah Belanda melalui operasi Mandala berpusat di Makassar. 

Selain itu, akulturasi budaya Makassar dan Papua serta kemajuan ekonomi yang dipelopori para pedagang dari Makassar. 

Monumen pembebasan Irian Barat saat ini masih berdiri di Jl Jenderal Sudirman. 

"Kala itu, Makassar atau Sulsel menjadi punggung perjuangan saat itu untuk membebaskan Irian Barat," katanya Direktur Jenggala Center ini, Sabtu (31/8/2019). 

Jenggala Center adalah lembaga think thank bentukan dari Jusuf Kalla.

Selain itu, suku Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar adalah pembangun dasar ekonomi dari Papua dan Papua Barat. 

"Itu sangat jelas kita bisa lihat pembangunan ekonomi di Manokwari, Jayapura, Wamena, Puncak Jaya dan daerah lainnya. Pokok katanya, dari sepanjang pesisir hingga pegunungan sumbangsi masyarakat Sulsel sangat berperan penting,” katanya. 

Bahkan, lanjut Syamsuddin, sepanjang garis perbatasan dengan Papua Nugini, sektor pendidikan dan ekonomi sangat ditopang dengan para perantau yang berasal dari Sulawesi Selatan, baik sebagai guru, pedagang dan pekerja lainnya disektor non-formal yang memajukan Papua.

“Papua adalah kita, dan kita adalah Papua”, tutupnya. 



Lihat juga video orasi kebangsaan dari aktivis di Makassar!