Nikmatnya Mancing Ikan Langsung Bakar di Perairan Pulau Barrang Lompo Makassar

By hasim.id - 14:39



SEHABIS lebaran, Aku mengajak rekan ngopi untuk memancing di perairan luar Makassar.

Kami memilih untuk memancing di sekitar Pulau Barrang Lompo.

Rencana memancing ini tak butuh perencanaan khusus karena hanya perlu menyiapkan tali tasi dan kail.

Selain itu, ada tentu harus ada umpan. Adikku, Ahmad membeli umpan, Ambarita di depan Pelabuhan Soekarno-Hatta. Harga perkantong lima liter sekitar Rp 25 ribu.

Ambarita adalah kumpulan ebi yang mengeluarkan bau amis saat menyentuh air laut.

Bau amis ini menjadi pemancing untuk ikan-ikan sebesar botol minuman.

Sehabis menyiapkan umpan, tibalah hari memancing, 9 Juni 2019 lalu.

Kami membawa perlengkapan makan siang dan tentunya nasi putih. Beberapa teman juga membawa lombok, mangga muda dan berbagai bumbu dapur.

Pikirku kita akan membakar ikan di tengah laut.

Sehabis subuh, aku pun menuju titik pertemuan di rumah Pak Rustam. Ia adalah pemancing senior di kalangan kami.

Ia sudah memancing hingga perairan Selat Makassar hingga Teluk Bone.

“Saya pernah memancing di dekatnya itu Nusa Tenggaran Timur, ikan di sana besar-besar semua,” kata Pak Rustam.

Sehabis persiapan ransum dan peralatan mancing, Dika, teman kuliah dulu, juga ikut. Ia tak punya persiapan memancing. Lelaki asal Gowa ini ternyata hanya ingin menikmati laut dan sudah mengambil tugas untuk membakar ikan.

Kami pun menuju pelabuhan rakyat,Cambayya, daerah kecamatan Ujung Tanah.

Sesaat tiba, kapal nelayan penangkap ikan sudah menunggu kami.

Kapalnya terbuat dari kayu. Umur kapal ini sudah 1 dekade. Tapi, masih bisa menelusuri lautan di Selat Makassar.

Tepat pukul 07.00 wita, kapal nelayan membawa kami keluar dari daratan Kota Makassar.

Dalam hati aku berkata,”ini pertama kali aku meninggalkan daratan Kota Makassar menggunakan kapal laut, terakhir kala masih duduk di bangku SMP.”

Yah! Kapal berjalan lambat tapi stabil.Cuaca memancing mendukung karena hujan terus mengguyur Kota Makassar belakangan ini.

Ombak pun beberapa kali menyampu. Saat itu, kapal pun bergoyang. Pemandangan lain adalah aktivitas warga pulau menuju daratan.

Mungkin mereka mau bekerja atau sekolah di Kota Makassar.

Cuman hal membuat sedih adalah sampah plastik ikut melayang di lautan. Sampah ini entah dari mana datangnya.

“Kasihan laut Makassar, tercemari sampah plastik!”

Selain itu, hal mencengangkan adalah pembangunan mega proyek reklamasi di bibir pantai Makassar.

Terlihat hasil reklamasi ini sudah berdiri tiang besi. Besi-besi ini terlihat menyusun kontainer, itulah Makassar New Port.

Kami pun tak mau memancing ikan di sini. Kami memilih memancing di laut dekat Pulau Barrang Lompo.

Area laut sini lumayan masih biru, tak sama dengan dekat daratan Makassar, cenderung hitam.

Setelah dua jam kapal melaju, kami pun tiba di perairan Barrang Lompo.

Peta Pulau Barrang Lompo:



Airnya cukup biru sehingga kami tak ragu untuk mencuci lombok dan mangga di lautan.

Tak menunggu waktu lama, kail pancing pun langsung kami lempar ke dalam air laul.

Tak butuh waktu lama, pancing Pak Rustam langsung menarik naik ikan banyara. Selanjutnya, ia mendapatkan tujuh ekor banyara.

Tak mau kalah, Ahmad pun mengambil tempat di belakang kapal. Ia mendapatkan beberapa ikan penghuni tetap lautan.

Saat box ikan sudah terisi seperempat, matahari pun sudah berada di atas kepala. Tandanya makan siang, sang nahkoda pun langsung merangkap sebagai pembakar ikan.

Langsung saja,ikan-ikan itu kami tarik insan dan peruknya. Cuci di laut langsung bakar.

Aku sampai ngiler merasakan bau ikan segar itu pas dibakar.

Yah! Kami semua sudah kelaparan karena tak sempat makan pagi.

Hanya kue kering sisa-sisa lebaran masuk ke lambung.

Pak rustam dan Om Ichal pun memperlihatkan cara makan ikan di kapal.

Sehabis dibakar cuci di laut kemudian celup di sambal.

Sambal itu cukup praktis, hanya membutuhkan lombok, perasan jeruk purut, dan air laut sedikit. Rasanya, sangat nikmat. (*)

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar

Kategori

Sahabat

Contact Us