Mengapa Aku tak Jadi Guru?

IBUKU berulang kali memohon supaya Aku jadi guru. Sama dengan cita-citanya yang memintaku supaya masuk ke Prodi Pendidikan Biologi, 2008 lalu.  

Aku pun mengiyakan. Aku memilih Biologi karena saya ingin benar-benar tahu proses penciptaan manusia. 
Kala menjadi guru sementara Biologi selama 3 bulan di SMPN 7 Parepare, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, Sulawesi Selatan, 2012 lalu. 

Aku tergugah kala guru waktu di sekolah menengah lalu, Pak Syarifuddin Munir membahas sedikit tentang Teori Evolusi. Sementara itu, Pak Baharuddin Goccang membahas sedikit tentang teori penciptaan alam semesta. 

Oh iya, Aku lupa. Pak Syarif adalah guru Biologi dan Pak Bahar jabat guru Fisika. 

Kala pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) baru-baru ini, ibuku dan Yuyu juga memintaku untuk mendaftar. Lagi, Aku tak tak punya niat. 

Tak banyak aku paham masalah penciptaan manusia kala belajar Biologi 4,5 tahun. Aku hanya mendapatkan fakta pembentukannya tapi tak mendapatkan makna, kenapa manusia harus terbentuk? Kenapa alam semesta ini harus terbentuk? Dosenku pun tak bisa memberikan kepuasan pengetahuan. 

Memang sih banyak pembahasan dalam agamaku, Islam, tapi aku belum puas.  

Dua pekan ini, Aku membaca 2 buah buku. Pertama, Hidup Sesudah Mati karya Raymond A Moody dan Origin karya Dan Brown. 

Aku sedikit percaya dengan buku Karya Raymond tentang hasil wawancara dengan orang-orang yang “pulang” dari kematiannya. Ratusan manusia menceritakan pengalaman mirip. Aku agak percaya dengan cerita mereka. Tapi, aku butuh data lebih. 



Kedua, novel Origin membahas itu, tapi hanya sekadar fiksi atau pemikiran Dan. Meskipun, itu disatukan dengan beberapa fakta. 

Nah, kembali ke pertanyaan awal! Mengapa aku tak menjadi guru? 


Karena aku belum punya jawaban ketika atas pertanyaan kenapa manusia harus terbentuk? Kenapa alam semesta ini harus terbentuk? 

Selamat Hari Guru 25 November 2018.(*) 


 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android