Abdullah Dola, Senior Aktivis UNM

Foto ini terakhir dia menghadiri Milad ke 42 Profesi di sebuah hotel bintang 3 di pusat Kota Makassar, 3 bulan lalu. 


Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Mantan Ketua Umum Dewan Mahasiswa IKIP Ujung Pandang, Prof Dr Abdullah Dola meninggal dunia di Rumah Sakit Faisal, Rabu (29/8/2018).

Informasi ini dari kerabat dan beredar melalui pesan berantai di sosial media.

Prof Abdullah juga adalah pendiri LPM Profesi UNM, tempat saya menimbah dan eksperimen ilmu jurnalistik.

Satu ilmu yang saya pelajari dari Kanda Abdullah, begitu sapaan akrab kami adalah Profesional.

Ia mengajarkan kami kalau ketemu dan diskusi untuk belajar PROFESIONAL.

Hal itu terngiang terus kala melihat Guru Besar Bahasa ini.

Selain itu, dia selalu mengajarkan kami tentang nilai-nilai dasar jadi aktivis mahasiswa dulu seperti kerja keras, pantang menyerah dan berani.

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah ta' Prof!

***
Periode bulan Maret 2014 lalu, redaksi Tribun Timur meminta saya untuk wawancara khusus dengan Prof Abdullah. 


Tulisan itu pun terbit dalam rubrik Tribun Insipirasi. 

Berikut tulisan saya dalam rublik Tribun Inspirasi: 

*Aktivis 1974, Prof Dr Abdullah Dola MS

Sidang 29 Kali dan Dituntut Hukuman Mati

Abdullah Dola hampir menemui maut 1978 silam setelah ditangkap pasukan Kodam VI Siliwangi di Bandung. Dola , panggilan akrabnya, bersama enam pemimpin lembaga kemahasiswaan harus diamankan karena dianggap melakukan tindakan makar.

Ihwal penangkapannya ini bermula dari rapat ketua dewan mahasiswa mahasiswa dari Bandung, Jakarta, Surabaya, Medan, Bogor, Ujungpandang (sekarang Makassar), dan Palembang,  28 Oktober 1977. Rapat ini merekomendasikan putusan untuk menurunkan Presiden Soeharto karena menerima bantuan dari luar negeri. 

“Negara ini harus berdiri di atas diri sendiri supaya tegar,” ujarnya. 

 Di luar pertemuan delapan ribu anak muda menyemut di depan kampus ITB. Mereka berikrar satu suara, "Turunkan Suharto!". Keeseokan harinya, semua yang berteriak, raib ditelan terali besi. Kampus segera berstatus darurat perang. Namun, sekejap kembali tentram.

Abdullah Dola yang mewakili aktivis Makassar juga tak terhindar dari penangkapan. Ia dibawah ke Makassar untuk diadili. Jaksa menuntut hukuman mati. Praktis tuntutan ini segogiyanya membuatnya tertekan. Ia tak surut. Terus melawan tuntutan.

“Tuntutan hukuman mati pun dilayangkan untuk saya. Saya dianggap subversif. Dua puluh sembilan kali sidang dan mendekam di penjara selama 13 bulan,” kesalnya. 

Selama sidang dia tetap tak mau menerima tuntutan jaksa yang menuduhnya makar. Ia pun dibela Andi Samsam, Abu Ayyub dan Lega Marzuki dari  Lembaga Bantuan Hukum Unhas. 

“Saya tak mau dihukum karena merasa benar. Masa lebih panjang tahanan ketimbang vonis 10 bulan,” kesalnya.         

Kegigihannya mempertahankan kebenaran ini, sehingga dia ingin diangkat menjadi wakil ketua umum Partai Golkar oleh Ketua DPD I Golkar, Amin Syam saat itu. “Ia bilang, anda itu tegas dan disiplin, saya mau anda menjadi wakil ketua umum, namun saya tolak,” ungkapnya. 

Lalu mengapa dia selalu memegang teguh kebenaran? Dola hanya menjawab saya mencintai kebenaran. “Bahkan saya pernah masuk ke politik dan memperbaiki sistem demokrasi di dalam, tapi memang banyak tantangan, karena politik bukan domainnya kebenaran tapi kemenangan dan kepentingan, walaupun orang benar kalau untuk kemenangan pasti salah juga, sehingga saya keluar dari politik,” katanya. 
                            
Ia melanjutkan orang-orang yang disenangi masyarakat adalah orang yang idealis dan mencintai kebenaran. “Banyak yang berpikir saya akan takut. Tidak, karena saya memperjuangkan kebenaran, saya juga terinspirasi dari tokoh besar. Mereka lahir sebagai tokoh karena berani. Selalu berpegang teguh pada kebenaran,” katanya.

Ia tercatat pernah menduduki jabatan Wakil Sekretaris Partai Golkar Sulsel. “Politik hanya memperjuangkan kepentingan, kelompok, golongan dan pribadi. Dan yang paling penting adalah kemenangan bukan kebenaran, sehingga saya kembali ke kampus dan menjadi dosen,” katanya. 

Perjuangan menjadi dosen pun ternyata tak gampang. beberapa kali dia ditolak di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS). “Beberapa dosen senior menolak. Mereka bilang jangan terima, dia vokal. Tapi saya tunggu hingga akhirnya dipanggil oleh Prof Paturungi Parawangsa (Rektor IKIP) hingga saya langsung masuk menjadi dosen,” ungkapnya. (hasim arfah)


Ilmu adalah Kebenaran 
Sampai umurnya menginjak senja, idealisme masih melekat. Ia bergeming jika mahasiswa ingin mengurus nilainya dengan jalan yang tak ilmiah. Beberapa mahasiswa datang dengan tangan kosong maupun menggenggam parcel. 

“Haram saya sentuh itu (parcel), bawah pulang,” katanya menirukan penolakan mahasiswanya. 

Ia mengambil jalan ini karena selalu menganggap ilmu pengetahuan adalah kebenaran. Kebenaran yang tak bisa ditawar atau dibarter. 

 “Saya selalu teringat dengan tokoh besar seperti Galileo Galilei yang mati karena mempertahankan idealisme keilmuanya. Saya ingin seperti itu,” ungkapanya. 

Memang selama ini, untuk urusan kampus, Dola tak pernah menerima alasan apapun untuk meluluskan mahasiswa jika memang tak mampu. “Sering kali aktivis datang, dan meminta nilai, saya tak beri. Aktivis mesti menunjukkan, ia bisa bagus juga di akademik dan organisasi, saya dulu aktivis tapi tak pernah mau kalah nilai dengan mahasiswa lain,” ungkapnya.         

Ia pun mengaku selalu menjungjung tinggi aturan yang berlaku. “Kalau mereka protes silahkan, ada aturannya, saya selalu berikan nilai tergantung kemampuanya, terimalah apa adanya, itu prestasimu,” katanya sambil menahan tawa. 

Ia juga memang tak pernah gentar untuk mempertahankan kebenaran. “Saya tak gentar. Ayah saya veteran. Berjuang untuk Indonesia. Rela mati. Masa saya mau jadi pengkhianat negara,” ujarnya dengan mata tajam dan suara berat, saat ditemui di kediamannya. (hasim arfah)

Biodata singkat: 

Nama: Prof Dr Abdullah Dola MS
TTL: Bulukumba, 2 April 1946

Pendidikan: 
1980 IKIP Ujung Pandang
1992 Linguistik FIB Unhas
2003 Linguistik FIB Unhas 
Nama Istri: Asni
-Elsinta (Penerjemah di Kedutaan Inggris)
-ElSanti
-Dian Triana (Dosen Politeknik Negeri MKS)
- Aulia Negara (Pegawai Biro Hukum dan Ketenagakerjaan Pemerintah Tarakan)
- Etno Setiagraha (Dosen Fik UNM)
-Yuan Dirgantara (Pegawai Bea Cukai Pusat)
-Ayu Pertiwi (Mahasiswa FBS)
    
Organisasi
1972-1974 Ketua Lembaga Seni Budaya HMI Makassar
1974-1979 Wakil Sekretaris Knpi Sulsel
1976 Pendiri LPPM Profesi UNM    
1976-1978 Ketua Dewan Mahasiswa IKIP Ujung Pandang
1978 Wakil Ketua Badko HMI Indonesia Timur
1978- 1978 Wakil Ketua Kahmi Sulsel
2000 Dewan Pakar Kahmi Nasional
2000 caretaker Ketua Umum Kosgoro Nasional
1993-Sekarang, Kosgoro Independen
1974 Anggota Korpri
1989 Masyarakat Linguistik Indonesia
2007 Anggota Majelis Guru Besar
2011 Ketua Tim penilai calon guru besar

Pekerjaan
67-69 Wartawan Indonesia Post
70-72 Makassar Press
75-77 Majalah Patriot
74-86 Guru PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan)
2005-09 PD II FBS
94 Wakil Sekretaris DPD Paetai Golkar Sulsel
2003-2007 Penasehat Gubernur Sulsel
2003-2007 Anggota Balitbang dan Bappeda Sulsel.
2003-2007 Tim Ahli DPR RI Sulsel
2003-2007 Pengurus Dewan Pendidikan Provinsi Sulsel
86-Guru Besar Bahasa Indonesia FBS UNM. (*)


 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android