Terima Kasih!



Catatan 14 tahun Tribun Timur

Hujan-hujanan menembus hujan yang sebentar rintik, sebentar lagi deras.

Dingin pun menembus hingga jaket kulit hitamku. Padahal, motor hanya melaju antar 50-60 km/jam.

Belum lagi, kaki yang masih sakit dan perih karena dua kali jatuh.

Pokoknya, awal memulai tahun keempat di Tribun Timur penuh cobaan.

Tapi, karena Tribun Timur menjadi tempat untuk menuangkan hobby dan passion maka itu tidak menjadi berat.

Bahkan, kaki menjadi lebih sehat ketika melihat suasana redaksi jelang ulang tahun ke-14.

Seperti, kembali menjadi jurnalis kampus periode 2008-2010 di Kampus Universitas Negeri Makassar.

Melihat candaan, mendengar gosip pejabat, mendengar dinamika politik jelang Pilkada Serentak 2018. Hahaha... Hampir 2 pekan ini, memang saya tidak pernah masuk kantor dan bertemu teman-teman politisi.

Jadi, setelah melihat dan membantu proses pengerjaan edisi khusus HUT Tribun Timur ke 14, saya pun turun untuk foto di depan landmark HUT 14 sekitar 01.45 wita.

Itulah kisah foto yang Anda sedang liat. Foto ini diambil oleh rekan sekantor secara terburu-buru.


Yah! Kita harus berterima kasih kepada Tribun Timur karena memberikan peluang untuk memberikan inspirasi, mendapatkan teman dan tentu nafkah untuk keluarga. 

Sering kali istriku, Yuyu mempertanyakan masalah telat pulang dan pulang pagi. 

"Yah, selain Tribun memberikan kita nafkah, saya juga tak berani melamarmu jika tidak bekerja di Tribun," ujar ku lirih. 

Dalam hati ku pun tertawa. Itu bukan alasan main-main. 

Mana bisa melamar seorang gadis dan berani ke rumahnya kalau tidak punya uang. Tribun memberikan kita anggaran itu. Hahaha...

Jadi, terima kasih Tribun Timur sudah memberikan kami hidup. Selain itu, yah memberikan kita peluang untuk terus berkarya dalam menulis secara bebas dan bertanggung jawab. (*)

 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android