Negeri Pencontoh


Negeri Pencontoh

"Kenapa kita tak seperti Jepang yang mempertahankan kebudayaan dan selain itu, dia juga maju di bidang teknologi."

Saya mendengar kata-kata ini di sebuah forum dosen. Mungkin Anda juga sering mendapati seorang yang memuji negeri lain. Bahkan membandingkan dengan tanah kelahirannya.  Tanah yang memberinya makan.

Parahnya lagi, banyak anak negeri sendiri yang mencela alam dan sistemnya. Mereka banyak menggerutu. Terlalu malas bertindak. Enggang mengambil perang untuk berbuat baik kepada negeri. Memilih memanggil orang luar untuk mengolah negeri.

Hasil kemalasan dan sifat tak acuh akhirnya menghasilkan anak negeri pencaci. Mengagumi negeri lain. Rendah diri. Hingga tak sadar sebuah negeri yang baik dibangun dengan niat tulus dan cinta akan negeri sendiri.

Penulis mungkin banyak menggerutu. Namun lebih baik menggerutu untuk diri sendiri daripada mengagumi negeri lain dan mengcloningnya ke dalam diri.

Coba perhatikan, anak negeri sangat bangga jika makan dan minum di restoran berskala internasional, bangga menggunakan produk asing dan bahkan malu jika tak gunakan pakaian merk internasional.

Sedikit atau banyak sikap ini melekat pada diri. Kebanggaan anak negeri bukan pada budayanya namun milik bangsa lain.

Maka tak heran jika Indonesia masuk dalam kategori negara komsumtif. Pangsa pasar terbesar. Salah satu pengguna akun sosial terbesar.

Negeri ini seakan lupa,  mempunyai sejarah dan peradaban yang besar. Bahkan kemasyurannya membahana ke seluruh dunia.

Lalu kenapa anak penerus sekarang tak pernah bangga dan lupa akan sejarah.

Inilah yang mungkin disebut neo imperialisme kebudayaan. Kita  terjajah kebudayaan asing dan menerimanya dengan mengucap, "Ayo datanglah kepadaku."

Anak negeri mesti ingat bangsa yang besar adalah yang selalu mengedepankan budaya dan latar belakang sejarahnya.

Bangsa yang besar yakni bisa mandiri dan tak bergantung sama siapa pun kecuali pencipta. (*)

 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android