Obat Ampuh Penyakit Nekrofilia (Tawuran)



Dalam tulisan yang lalu Kala Tawuran Sudah Menjadi Kesenangan telah dibahas masalah penyakit dasar seseorang hingga melakukan tawuran dan kekerasan. Solusi perselisihan antar mahasiswa mesti melalui jalan adu otot.


Jalan keluar yang diambil para oknum mahasiswa UNM ini dianggap sebagai solusi terakhir untuk menyelesaikan persoalan. Kalau semua persoalan mahasiswa mesti kelar melalui jalan-jalan kekerasan maka kampus ini tak akan beranjak dari dasar kelam. Cap masyarakat Indonesia terhadap kampus ini memang tak menyenangkan. Saking tak bagusnya, Menteri Pendidikan dan Kubudayaan Muhammad Nuh mengancam menutup kampus UNM kalau masih tawuran. “Kita tidak boleh toleransi terhadap benih benih kejahatan,” ungkap Nuh (tempo.co/12/102012).


Pertikaian panjang sebuah kelompok lebih disebabkan oleh kebencian yang dipelihara secara turun temurun, Freedman Sears dalam bukunya Psychology Sosial (1983) mengatakan penyebab konflik adalah Streotype, prasangka dan diskriminiasi. Streotype, prasangka dan diskriminiasi merupakan tiga komponen dalam antagonisme kelompok. Pertama, streotype adalah keyakinan tentang sifat-sifat pribadi yang dimiliki orang dalam kelompok. Misalkan orang Makassar selalu di-streotype sebagai seorang yang keras dan kasar. Padahal belum tentu semua orang Makassar seperti itu.  

Begitupun di kampus, masyarakat umum telah mencap salah satu fakultas sebagai tukang ribut, tukang onar dan selalu biang keladi atas semua masalah. Hingga kalau ada masalah pasti akan mengarah kepada fakultas ini. Kedua, prasangka merupakan salah satu sikap yang cenderung negatif. Prasangka adalah sikap negatif terhadap kelompok tertentu atau seseorang karena keanggotaannya dalam kelompok itu. Seseorang yang berprasangka, terhadap anggota kelompok lain,  maka cenderung mengevaluasi secara negatif. Jika terjadi pemukulan maka pasti mengarah kepada kelompok yang sama. Sifat ini akan mudah dihasut sehingga persoalan akan semakin melebar. Ketiga, diskriminasi adalah perlakuan berbeda dari pihak lain. Ketika seseorang mengalami perlakukan diskriminasi karena keanggotaanya sebagai anggota kelompok tertentu maka akan timbul konflik kecil pada diri orang tersebut. Bila ini terus berlanjut dan berlangsung lama, maka bisa terjadi konflik yang lebih luas.

Pelaku adalah Korban
Pelaku tawuran memang belum merasakan bahwa mereka adalah korban. Karena korban hanya akan berlaku setelah mereka sudah keluar dari kampus. Mantan pelaku tawuran akan merasakan ‘pedasnya’ kritikan dan sindiran teman kerja setelah mereka terjun ke dunia masyarakat. Misalnya, Kenapa kampus anda sering tawuran? Kenapa fakultas ibu sering tawuran? Bapak dulu pernah ikut tawuran yah?

Mantan pelaku tawuran atau alumni yang berasal dari fakultas terkait akan sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan spontan itu. Akhirnya mereka akan menjadi korban. Akan mendapatkan malu. Akan menjadi olok-olok setiap kali kampusnya berkelahi. Hal inikan yang tak diinginkan.

Pelampiasan amarah dengan cara kekerasan memang adalah budaya yang tak pernah punah. Sepanjang sejarah manusia semua permasalahan diselesaikan dengan cara-cara ini. Semua karena satu alasan yakni mempertahankan harga diri. Tak mau diintimidasi. Tak mau dijajah. Inilah mungkin pemikiran tradisional yang dimiliki oleh manusia yang harus dieliminasi.

Tawuran yang menjadi tradisi meski sedikit demi sedikit dimodernisasi. Cara mengubah tradisi ini harus dimulai dari mengajarkan kepada mahasiswa tentang nilai-nilai moral. Dan yang mempunyai peran besar adalah orang tua kedua mereka yakni dosen. Tujuannya adalah membangun manusia yang beradab dan mempunyai nilai-nilai luhur. Persamaan persepsi dalam mendidik mahasiswa di kalangan dosen juga mesti disatukan. Hal ini membutuhkan peran besar pimpinan kampus.

Solusinya adalah Biofilia
Jalan untuk mengalahkan penyakit nekrofilia yakni selalu menanamkan kepada mahasiswa cinta akan budaya damai  (culture of peace). Tawuran memang sudah sangat terorganisir. Coba lihat peristiwa kemarin, hanya persoalan satu atau segelintir orang yang akhirnya berakhir bentrok antar kelompok. Harus selalu disadari bahwa kejahatan (nekrofilia) yang terorganisasi selalu sangat berpeluang mengalahkan kebaikan (biofilia) yang tidak terorganisasi. Hal ini mesti menjadi evaluasi apakah kampus telah mengajarkan budi luhur kepada mahasiswa.

Pada 1996, The Toda Institute and Policy Research mengembangkan suatu skema mengenai kecenderungan kultural ke arah kekerasan dan perdamaian. Melalui pemerhati Sosial Pemerhati Sudirman HN, organisasi ini mengatakan kecenderungan kultural yang harus selalu diberi peluang berkembang adalah penghargaan terhadap diri sendiri, penghargaan terhadap orang lain, keberanian memaafkan, merawat-memberi, sikap pemurah, mengingat penderitaan dan kematian (remembrance). Sebaliknya kecenderungan kultural yang harus diberi ruang seminimal mungkin adalah penghinaan terhadap diri, penghinaan terhadap orang lain, sarkasme, dendam kesumat, sikap eksploitatif, keserakahan, eksklusivitas, sektarian, memicu konflik, mengagungkan penderitaan dan kematian. Prasyarat ketiga adalah adanya otoritas kampus yang mampu bersikap imparsial-obyektif, mampu menegakkan hukum dan memberlakukan hukuman dan imbalan (punishment and reward). 

Prasyarat terakhir ini penting untuk menjaga keberlangsungan dua prasyarat sebelumnya.
Sivitas kampus pendukung biofilia seharusnya menfokuskan diri pada dua hal. Pertama, terus memberikan tekanan kepada regulator kampus supaya meningkatkan kinerjanya dalam menyelesaikan tradisi tawuran. Menekan pimpinan kampus supaya besikap imparsial-obyektif, menegakkan hukum terhadap mereka yang melakukan kekerasan dan menghambat perdamaian, dan terutama mengamputasi penganjur nekrofilia di dalam kampus sendiri yang terus mengambil untung dan menginginkan berlangsungnya kerusuhan.

Konflik akan selalu ada. Namun meluapkannya tidak mesti melalui jalan-jalan tradisional seperti tawuran. Itu bukan gaya orang-orang yang terdidik. Semoga UNM damai. (*)

 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android