Tuesday, 26 November 2013

Janda dan Adu Jotos

Peluh sudah bercampur dengan berbagai rasa. Perempuan ini saban hari terus melayani pembeli. Entah sudah berapa kali Ria hilir mudik di depanku. Entah mencari perhatian atau memang sibuk. Namun setiap kali lewat senyuman memekar dari bibirnya. Manis… sangat manis. Ia bekerja sebagai karyawan di toko keluarga.

Lelaki manapun ketika bertemu dia pasti tertarik. Pasti terpesona. Tinggi semampai. Kulitnya kuning langsat. Kakinya jenjang. Ia juga rajin dan berinisiatif tinggi. Ramah dan perhatian. Penulis berpikir paslah untuk perempuan idaman masa kini. Namun sayang dia sudah pernah bersuami alias janda.

Janda yang terlewat sayang untuk disia-siakan. Perempuan yang terlalu cepat menjanda. Ia sudah menjanda saat masih terhitung belia, detik-detik menjelang lulus SMP. Pernikahan dengan suaminya hanya bertahan satu semester. Suaminya berpaling darinya dengan memilih perempuan lain. Entah apa pikiran lelaki itu hingga melepas dan memilih ranjang perempuan lain.

Namun inilah kehidupan. Tak ada yang bisa menolak. Allah SWT menghalalkan perceraian namun membencinya. Namun jika seorang pasangan merasa tak cocok dan menganggap suaminya telah berselingkuh maka jalan, menurut penulis, terakhir adalah bercerai.

Dan jalan inilah yang dipilih oleh Ria, bercerai. Ria memang janda namun kehidupan terus berputar.

Ada yang menarik antara kisah Ria dengan peristiwa adu jotos belakangan di kalangan mahasiswa. Ria adalah janda kembang dan menarik, tawuran seperti halnya janda kembang. Kegiatan yang sudah pernah terjadi. Bekas senior. Namun tetap dilakukan karena seksi dan menarik. Tetap memesona meski tawuran sudah ‘menjanda’ lebih dari satu dekade. Sudah berapa ribu lelaki mendatangi tawuran. Namun tawuran tetap saja memesona.

Jadi pelaku tawuran suka mengerjakan sesuatu yang bekas-bekas. Jangan sampai pelaku juga suka janda? Karena pelaku tawuran suka yang bekas. Mudah-mudahan tidak deh. Entah kapan pelaku tawuran berpaling dari si janda kembang (baca:tawuran)? Mungkin butuh setahun atau sepuluh tahun lagi. Entah kapan pemimpin kampus ceraikan tawuran. Entahlah. Hanya Tuhan yang bisa menjawab.

Penulis hanya menghubung-hibungkan semampunya. Pelaku tawuran jangan tersinggung yah. Semoga UNM damai. (*)

Penyadapan dan Pemilu 2014


Akhir-akhir ini Indonesia digemparkan dengan kasus penyadapan yang dilakukan oleh Australia. Adalah mantan anggota Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) Edward Snowden melalui majalah mingguan Der Spiegel (Jerman) dan harian Sydney Morning Herald(Australia) yang mengungkapkan Pemerintah Australia melakukan penyadapan terhadap negara-negara tetangganya seperti Cina, Thailand, Timor Leste, Vietnam, dan Indonesia.

Menurut harian Inggris The Guardian, Petinggi negara Indonesia yang disadap dari tahun 2007-2009 yakni Presiden Susilo BambangYudhoyono, Wakil Presiden Boediono, Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ibu Negara Ani Yudhoyono dan beberapa menteri lainnya.

Banyak spekulasi mengenai motif penyadapan ini, mulai dari pemilu presiden 2009, Indonesia adalah pintu imigran gelap ke Australia, sampai usaha Indonesia membeli kapal selam termutakhir Kilo milik Rusia. Isu yang berkembang kapal selam Kilo ini membuat pemerintah Australiaketar-ketir. Pejabat Tinggi Milter Australia mengatakan “Kapal selam Collins (milik Australia) tak mampu menghadapi Kilo Indonesia, termasuk semua perangkat Angkatan Laut Australia.” ungkap Hamid Awaluddin, Mantan Dubes RI untuk Rusia dalam opininya di media nasional baru-baru ini.

Setelah masyarakat Indonesia mengetahui penyedapan itu maka kecaman pun berhamburan. Bahkan beberapa organisasi masyarakat melakukan protes keras dan meminta Australia minta maaf. Hacker Anonymous Indonesia melakukan peretasan dan pengrusakan padawebsite pemerintahan dan publik milik Australia. Pemerintah juga melakukan pemutusan beberapa kerja sama bilateral di hampir semua bidang dengan Australia. Bahkan pemerintah tingkat kabupaten dan kota juga tak mau kalah untuk meninjau kembali hubungan dengan perusahaan asal Australia. Akhirnya pemerintah berkuasa kembali mendapat pencitraan positif. Karena dianggap tegas terhadap pihak yang merongrong kedaulatan negara.

Tidak hanya itu, elit-elit partai peserta pemilu 2014 ikut berkicau. Bahkan ada dari elit-elit ini yang mengkritik pemerintah dan berjanji akan melakukan pengawasan intensif terhadap kasus ini. Semua elit politik berusaha menjadi pahlawan dengan mengeluarkan komentar yang intinya membela negara.

Lumrahnya Penyadapan
Namun perlu juga diketahui, tindakan sadap lumrah pada tingkatan negara. mantan Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia, LaksamanaPurnawirawan Tedjo Edhy mengatakan,” Apa lagi tindakan penyadapan yang dilakukan Australia adalah hal yang lazim terjadi di banyak negara," ujarnya.

Indonesia juga pernah melakukan penyadapan kepada Australia ketika krisis Timor Leste tahun 1999 sampai 2004. Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) era Presiden Megawati Soekarnoputri, AM Hendropriyono mengatakan Indonesia juga pernah menyadap percakapan para petinggi pemerintah Australia.

Hal ini dikatakan Hendropriyono di harian ternama Autralia, Herald Sun dalam artikel yang berjudul "Indonesia Spied on Australia in 2004,Says Ex-intelligence Chief" yang terbit Selasa, (19/11/2013).

"Kita dapat mengatakan ini adalah rahasia umum . Kau tahu, rahasia tapi seluruh masyarakat tahu. Ini adalah kegiatan intelijen sangat umum," kata Hendro.

Kalau terjadi demikian lalu apakah reaksi masyarakat Indonesia harus berlebihan? Padahal Pemerintah Indonesia juga melakukanpenyadapan. Apakah rakyat langsung terkesima dengan tindak tanduk elit politik tentang isu penyadapan?

Penyadapan memang patut untuk diberi perhatian namun jangan sampai masyarakat hanyut. Jangan lupa elit-elit pemerintahan yang tersandung kasus korupsi dan penyuapan. Banyak elit-elit pemerintahan mencari citra positif. Elit pemerintahan berkoar-koar tentang harga diri bangsa padahal banyak anggota mereka korupsi.

Jangan sampai elit politik ini bisa hebat melawan bangsa lain. Kemudian hanya diam dan pengecut saat melawan anggota partai atau golongan sendiri. Karena melawan bangsa sendiri lebih sulit. Cukuplah menjadi sejarah kelam tentang kejadian korupsi dan penyadapandalam batang tubuh Indonesia, jangan terulang lagi. Jangan lupa track record elit politik ini. (*)

Wednesday, 20 November 2013

Obat Ampuh Penyakit Nekrofilia (Tawuran)




Dalam tulisan yang lalu Kala Tawuran Sudah Menjadi Kesenangan telah dibahas masalah penyakit dasar seseorang hingga melakukan tawuran dan kekerasan. Solusi perselisihan antar mahasiswa mesti melalui jalan adu otot.

Jalan keluar yang diambil para oknum mahasiswa UNM ini dianggap sebagai solusi terakhir untuk menyelesaikan persoalan. Kalau semua persoalan mahasiswa mesti kelar melalui jalan-jalan kekerasan maka kampus ini tak akan beranjak dari dasar kelam. 

Cap masyarakat Indonesia terhadap kampus ini memang tak menyenangkan. Saking tak bagusnya, Menteri Pendidikan dan Kubudayaan Muhammad Nuh mengancam menutup kampus UNM kalau masih tawuran. “Kita tidak boleh toleransi terhadap benih benih kejahatan,” ungkap Nuh (tempo.co/12/102012).


Pertikaian panjang sebuah kelompok lebih disebabkan oleh kebencian yang dipelihara secara turun temurun, Freedman Sears dalam bukunya Psychology Sosial (1983) mengatakan penyebab konflik adalah Streotype, prasangka dan diskriminiasi. 

Streotype, prasangka dan diskriminiasi merupakan tiga komponen dalam antagonisme kelompok. Pertama, streotype adalah keyakinan tentang sifat-sifat pribadi yang dimiliki orang dalam kelompok. Misalkan orang Makassar selalu di-streotype sebagai seorang yang keras dan kasar. Padahal belum tentu semua orang Makassar seperti itu.

Begitupun di kampus, masyarakat umum telah mencap salah satu fakultas sebagai tukang ribut, tukang onar dan selalu biang keladi atas semua masalah. Hingga kalau ada masalah pasti akan mengarah kepada fakultas ini. 

Kedua, prasangka merupakan salah satu sikap yang cenderung negatif. Prasangka adalah sikap negatif terhadap kelompok tertentu atau seseorang karena keanggotaannya dalam kelompok itu. Seseorang yang berprasangka, terhadap anggota kelompok lain, maka cenderung mengevaluasi secara negatif. 

Jika terjadi pemukulan maka pasti mengarah kepada kelompok yang sama. Sifat ini akan mudah dihasut sehingga persoalan akan semakin melebar. Ketiga, diskriminasi adalah perlakuan berbeda dari pihak lain. 

Ketika seseorang mengalami perlakukan diskriminasi karena keanggotaanya sebagai anggota kelompok tertentu maka akan timbul konflik kecil pada diri orang tersebut. Bila ini terus berlanjut dan berlangsung lama, maka bisa terjadi konflik yang lebih luas.

Pelaku adalah Korban
Pelaku tawuran memang belum merasakan bahwa mereka adalah korban. Karena korban hanya akan berlaku setelah mereka sudah keluar dari kampus. Mantan pelaku tawuran akan merasakan ‘pedasnya’ kritikan dan sindiran teman kerja setelah mereka terjun ke dunia masyarakat. Misalnya, Kenapa kampus anda sering tawuran? Kenapa fakultas ibu sering tawuran? Bapak dulu pernah ikut tawuran yah?

Mantan pelaku tawuran atau alumni yang berasal dari fakultas terkait akan sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan spontan itu. Akhirnya mereka akan menjadi korban. Akan mendapatkan malu. Akan menjadi olok-olok setiap kali kampusnya berkelahi. Hal inikan yang tak diinginkan.

Pelampiasan amarah dengan cara kekerasan memang adalah budaya yang tak pernah punah. Sepanjang sejarah manusia semua permasalahan diselesaikan dengan cara-cara ini. Semua karena satu alasan yakni mempertahankan harga diri. Tak mau diintimidasi. Tak mau dijajah. Inilah mungkin pemikiran tradisional yang dimiliki oleh manusia yang harus dieliminasi.


Tawuran yang menjadi tradisi meski sedikit demi sedikit dimodernisasi. Cara mengubah tradisi ini harus dimulai dari mengajarkan kepada mahasiswa tentang nilai-nilai moral. Dan yang mempunyai peran besar adalah orang tua kedua mereka yakni dosen. 

Tujuannya adalah membangun manusia yang beradab dan mempunyai nilai-nilai luhur. Persamaan persepsi dalam mendidik mahasiswa di kalangan dosen juga mesti disatukan. Hal ini membutuhkan peran besar pimpinan kampus.

Solusinya adalah Biofilia
Jalan untuk mengalahkan penyakit nekrofilia yakni selalu menanamkan kepada mahasiswa cinta akan budaya damai (culture of peace). Tawuran memang sudah sangat terorganisir. Coba lihat peristiwa kemarin, hanya persoalan satu atau segelintir orang yang akhirnya berakhir bentrok antar kelompok. 

Harus selalu disadari bahwa kejahatan (nekrofilia) yang terorganisasi selalu sangat berpeluang mengalahkan kebaikan (biofilia) yang tidak terorganisasi. Hal ini mesti menjadi evaluasi apakah kampus telah mengajarkan budi luhur kepada mahasiswa.

Pada 1996, The Toda Institute and Policy Research mengembangkan suatu skema mengenai kecenderungan kultural ke arah kekerasan dan perdamaian. Melalui pemerhati Sosial Pemerhati Sudirman HN, organisasi ini mengatakan kecenderungan kultural yang harus selalu diberi peluang berkembang adalah penghargaan terhadap diri sendiri, penghargaan terhadap orang lain, keberanian memaafkan, merawat-memberi, sikap pemurah, mengingat penderitaan dan kematian (remembrance). 

Sebaliknya kecenderungan kultural yang harus diberi ruang seminimal mungkin adalah penghinaan terhadap diri, penghinaan terhadap orang lain, sarkasme, dendam kesumat, sikap eksploitatif, keserakahan, eksklusivitas, sektarian, memicu konflik, mengagungkan penderitaan dan kematian. Prasyarat ketiga adalah adanya otoritas kampus yang mampu bersikap imparsial-obyektif, mampu menegakkan hukum dan memberlakukan hukuman dan imbalan (punishment and reward).

Prasyarat terakhir ini penting untuk menjaga keberlangsungan dua prasyarat sebelumnya.

Sivitas kampus pendukung biofilia seharusnya menfokuskan diri pada dua hal. Pertama, terus memberikan tekanan kepada regulator kampus supaya meningkatkan kinerjanya dalam menyelesaikan tradisi tawuran. Menekan pimpinan kampus supaya besikap imparsial-obyektif, menegakkan hukum terhadap mereka yang melakukan kekerasan dan menghambat perdamaian, dan terutama mengamputasi penganjur nekrofilia di dalam kampus sendiri yang terus mengambil untung dan menginginkan berlangsungnya kerusuhan.

Konflik akan selalu ada. Namun meluapkannya tidak mesti melalui jalan-jalan tradisional seperti tawuran. Itu bukan gaya orang-orang yang terdidik. Semoga UNM damai. (*)

BACA JUGA: 



SUBSCRIBE MY YOUTUBE CHANNEL! 


FOLLOW MY INSTAGRAM!

Tuesday, 19 November 2013

Kala Tawuran Sudah Menjadi Kesenangan



Miris melihat kampus UNM sektor Parangtambung kembali bergolak. Hasilnya dapat dipastikan kerusakan dimana-mana, baik fasilitas kampus maupun properti pribadi mahasiswa. Korban bukan hanya mahasiswa bertikai namun semua manusia di bawah almamater ‘kampus orange’ ikut menanggung tingkah laku mereka.

Selama ini perselisihan antar mahasiswa memang selalu berakhir dengan jalan adu jotos. Lempar batu. Saling menghancurkan kampus. Kemudian kampus libur. Setelah libur maka kondisi seperti sedia kala seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Tawuran memang sudah menjadi budaya. Hingga tak afdal rasanya jika perselisihan itu tak diluapkan secara bersama-sama. Ada doktrin yang tertanam di kampus, “kalau kamu menyakiti saudaraku maka aku juga merasa sakit.” Inilah mungkin yang dimaksud solidaritas antar mereka. Tak peduli efek yang akan terjadi.

Pakar Psikologi Erich Fromm (1900-1980) menganggap konflik dan tawuran adalah sesuatu yang menyenangkan. Memang sangat memuaskan setelah melepas amarah meski itu bukan orang yang dimaksud langsung. Yang penting pelampiasan amarah itu telah menyentuh simbol. Baik itu temannya, nama institusinya, tempat orang yang dianggap musuh bernaung.

Lihatlah perkelahian kemarin di Parangtambung. Pihak berwajib tak mendapatkan ‘otak’ pelaku sebenarnya. Pimpinan kampus hanya mendapati gedung yang hancur. Motor yang tak berbentuk lagi. Orang lain yang terluka. Semua ini hanya simbol. Pelaku tawuran tak melihat lagi sesuatu dari perspektif  benar atau salah. Hanya tahu menghantam dan mengahancurkan.

Bukankah aksi tawuran selama ini hanya membuat persoalan semakin membesar. Bahkan tawuran telah memberikan sejarah kelam. Sudah ada orang yang meninggal. Lalu kenapa hal ini terus terjadi?

Pemuja Kekerasan
Orang-orang yang suka menyelesaikan masalah dengan kekerasan sampai akhirnya akan mengidap nekrofilia. Penyakit ini akan membawa seseorang untuk memuja kekerasan. Semua permasalahan antar sesama selalu diselesaikan dengan cara kekerasan ini. Hingga ada slogan mengatakan “Hiduplah Kematian”. Lihatlah teriakan-terikan pelaku tawuran. Semua mengarahkan ingin membunuh dan menghancurkan.

Erich Fromm dalam tulisannya , Creators and Destroyers (1964), nekrofilia yang bermakna ”mencintai kematian”. “Siapakah orang yang bercorak nekrofilik?” tanya Fromm. Dia adalah orang yang terpesona oleh semua yang bukan kehidupan, yakni kematian, jenazah, kerusakan, dan kekotoran. Orang yang dikuasai nekrofilia amat suka berbicara tentang kesakitan, kerusakan, dan kematian.

Penyakit ini bisa dikembangbiakkan kepada generasi mendatang dengan mengabarkan berita buruk tentang kelompok atau simbol yang dianggap musuh. Bisa melalui doktrin dari senior ke junior. Bahkan penyakit ini telah menyentuh dan merasuki pejabat yang tega melihat rakyatnya (baca:mahasiswa) terluntah-luntah. Berada dalam kondisi bahaya. Tak tenang.

Ingat! peristiwa ini telah berlangsung puluhan tahun lamanya. Namun solusi yang ditawarkan selalu tak tepat sasaran. Orang-orang yang memimpin belum berpikir luas. Semua berpikir rata-rata. Seperti kata mantan presiden Amerika Serikat Eleanor Roosevelt. Pemikiran orang itu dibedakan menjadi tiga macam. Pertama orang yang berpikir sempit yang sering membicarakan orang-orang. Kedua pikiran rata-rata yang sering membicaran peristiwa. Dan terakhir orang berpikir luas yakni selalu membicarakan gagasan dan solusi. Solusi yang ditawarkan hanya berlangsung sementara.

Semoga kampus UNM diberkahi oleh Tuhan. Sehingga sang maha bijaksana mengirim orang yang sehat dan kebal terhadap penyakit nekrofilia untuk menyelesaikan dan membasmi pemuja kekerasan di bumi kampus pencetak guru ini. Amin. (*)

Sunday, 17 November 2013

Gowa: Kerajaan Masa Lalu…

Hari ini 17 November 2013 menandakan kabupaten Gowa (dulu kerajaan Gowa) telah berdiri selama 693 tahun. Suatu masa yang sangat panjang. Ada banyak cerita mengenai daerah ini. Mulai dari masa jaya hingga masa titik nadir, peperangan besar antara kerajaan Gowa dan VOC. Mulai dari kepemimpinan Tumanurung hingga Andi Ijo Daeng Mattawang.

Kerajaan ini terbentuk dari komunitas bernama Bate Salapang (Sembilan Bendera), yang kemudian menjadi sebuah negara konfenderasi bernama Gowa. Terbentuknya kerajaan Gowa terjadi tak segampang yang kita pikirkan. Diantara kesembilan kerajaan kecil ini selalu berperang. Hingga akhirnya mereka mendengar akan turun seorang yang akan menyatukan dan mengehentikan peperangan yang panjang. Maka bergegaslah mereka menuju ke tempat itu. Namanya Taka’bassia di bukit Tamalate. Mereka duduk melingkar hingga terlihat cahaya, turunlah seorang perempuan cantik jelita dari cahaya itu. Perempuan itulah yang bernama Tumanurung Bainea.

Kerajaan ini utuh hingga Raja Gowa VI, Tunatangka Lopi, membagi wilayahnya menjadi dua bagian terhadap dua orang putranya, yaitu Batara Gowa dan Karaeng Loe Ri Sero. Batara Gowa melanjutkan takhta ayahnya sedangkan saudaranya mendirikan kerajaan baru bernama Tallo. Kebijakan Tunatangka ini menimbulkan perang saudara antar kedua kerajaan yang lamnya hampir seabad. Barulah saat Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna berkuasa di awal abad ke 16 pertikaian ini bisa terselesaikan.

Raja ini membawa Gowa menginvasi kerajaan-kerajaan kecil. Daerah itu antara lain  Garassi, Katingan, Mandalle, Parigi, Siang (Pangkajene), Sidenreng, Lempangan, Bulukumba, Selayar, Panaikang, Campaga, Marusu, Polongbangkeng (Takalar), dan lain-lain. Selanjutnya Sanrobone, Jipang, Galesong, Agang Nionjok, Tanete (Barru), Kahu, dan Pakombong. Aktivitas perdagangan rakyat Gowa terkenal hingga ke India, Siam (Muangthai) dan Filipina Selatan.

Suksesor Tumapa’risi’ Kallonna, I Manriogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng memperluas wilayahnya hingga mencoba mengusai Kerajaan Bone. Ia menginvasi Bone yang waktu itu di bawah kekuasaan Raja Bone VII, La Tenrirawe Bongkange Matinro Ri Gucina. Namun sayang ia meninggal dalam peperangan. Akhir dari invasi ini berujung dengan perjanjian damai. Perjanjian itu biasa disebut Ulukanaya ri Caleppa (kesepakatan di Caleppa).

Perkembangan Kerajaan Gowa mencapai kejayaannya setelah Sultan Malikulsaid memimpin. Ia bisa menjaling hubungan yang baik dengan raja-raja di luar seperti Raja Inggris, Raja Kastilia di Spanyol, Raja Portugis, Raja Muda Portugis di Gowa (India), Gubernur Spayol dan Marchente di Mesoliputan (India) dan terlebih kerajaan-kerajaan di nusantara.
Kerja sama ini tak mengalami kendala hingga VOC di bawah naungan Belanda ingin memonopoli perdagangan. Ketegangan Kerajaan Gowa dan VOC semakin meruncing setelah Sultan Hasanuddin memimpin Gowa. Ia memang terkenal tegas dan tak mau tunduk pada Belanda.

Tahun 1654-1655 terjadi pertempuran hebat antara Gowa dan Belanda di kepulauan Maluku. April 1655 armada Gowa yang langsung dipimpin Hasanuddin menyerang Buton, dan berhasil mendudukinya serta menewaskan semua tentara Belanda di negeri itu. Belanda mengalami kerugian dan menawarkan berbagai perdamaian damai namun selalu tak berhasil. Hal ini merupakan siasat Belanda. Tahun 1666 Belanda menggerakkan pasukan terkuatnya dari Batavia (Jakarta) untuk memerangi Sultan Hasanuddin dan rakyatnya namun tak pernah berujung pada keberhasilan. Berkali-kali perundingan tapi selalu pula Gowa dirugikan seperti tak bisa berdagang ke Banda dan Ambon, VOC memperoleh hak monopoli perdagangan, Kerajaan Gowa-Tallo diperkecil hingga Gowa saja, mengganti biaya perang. Berkali-kali siasat damai VOC dilancarkan segitu juga Kerajaan Gowa menolak dan memilih perang mesti nyawa taruhannya. Hingga Sultan Hasanuddin wafat pun perang masih terus berkecamuk.

Namun masa kejayaan Gowa mundur bukan gara-gara melawan VOC namun harus pula melawan bangsa sendiri. Banyak bangsawang melakukan pengkhianatan terhadap bangsa sendiri. Mereka memilih bergabung dengan VOC untuk menjadi ‘boneka’ asalkan menjadi penguasa.

Sekarang peradaban Gowa hanya tinggal di museum. Banyak pemudanya bangga menggunakan budaya asing yang merusak moral dan etika. Lihatlah anak-anak sekarang, seberapa banyak mereka tahu dan menggunakan identitas Siri’ na Pacce.

Mudah-mudaha kita masih ingat kata-kata Karaeng Patingalloang (Perdana Menteri saat Karaeng Sultan Malikulsaid) tampil sebagai seorang cendekiawan dan negarawan di masa lalu. Sebelum beliau meninggal dunia, ia pernah berpesan, ada lima penyebab runtuhnya suatu kerajaan besar, yaitu: 1. Punna taenamo naero nipakainga’ Karaeng Mangguka (Apabila raja yang memerintah tidak mau lagi dinasehati atau diperingati), 2. Punna taenamo tumanggngaseng ri lalang Pa’rasangnga (Apabila tidak ada lagi kaum cerdik cendikia di dalam negeri), 3. Punna taenamo gau lompo ri lalang Pa’rasanganga (Apabila tak ada sifat bijak di dalam negeri, 4. Punna angngallengasemmi soso’ Pabbicaraya,  (Apabila sudah banyak hakim dan pejabat kerajaan suka makan sogok) dan 5. Punna taenamo nakamaseyangi atanna Mangguka (Apabila raja yang memerintah tidak lagi menyayangi rakyatnya).


Kerajaan Gowa memang sudah lama runtuh, namun spirit itu harus ada dalam sanubari kita. Semangat gagah berani, budaya yang bermoral, bersifat cerdas, dan sifat-sifat positif lainnya. Selamat ulang Gowa(*)

Wednesday, 13 November 2013

Kapitalisme

 
sumber: http://www.fimadani.com


Seorang ibu beranak lima sedang susah hati ke sana kemari. Ia ingin membeli beras. Pilihan pertama dia masuk ke dalam sebuah toko serba ada (Toserba). Ia mengantongi lima ribu rupiah. Harga beras di toserba sudah tertera. Harganya Rp5.500. Si ibu ingin menawar. Namun penjaga toko enggan mengurangi harga meski kurang dari lima ratus rupiah.

Bahkan penjaga toko pun tak akan bisa memberikan takaran beras kurang dari seliter. Akan beda ceritanya jika uang si ibu berlebih hampir dipastikan tak akan ada kembaliannya. Akhirnya si ibu berlalu dan memilih ke pasar tradisional. Ia bisa mendapatkan beras bahkan si penjual beras bisa menambahkan jika si ibu menceritakan nasib kelima anaknya yang lagi kelaparan. Dan hanya menunggu beras itu untuk mengisi perut mereka.

Dari kisah singkat di atas sudah dapat dirasakan bagaimana sistem yang berlaku di negara kita tercinta. Bukankah akan lebih kacau jika kelima anak ini kelaparan. Anak ini bisa mencuri dan berbuat kejahatan lainnya. Akhirnya kekacauan sosial akan semakin merebak ke segala penjuru negeri. Negara kita katanya masih menganut sifat gotong royong. Sifat saling membantu. Namun mengapa kita lebih memilih jalur seperti toko tadi. Inilah mungkin yang dimaksud dengan kapitalisme.

Menurut KBBI kapitalisme adalah sistem atau paham ekonomi yang modalnya bersumber bersumber pada modal pribadi atau modal perusahaan swasta dengan ciri persaingan di pasar bebas. Sedangkan menurut Wikipedia kapitalisme atau kapital adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama, tapi intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran untung kepentingan-kepentingan pribadi. Yah…pasar yang menjadi raja. Pemimpin duduk manis saja. Nanti akan ada bagiannya.

Menurut penulis kapitalisme ini mempunyai hasrat besar memiliki di tengah sumber daya alam yang terbatas. Dan memang yang memulai kapitalisme adalah negara yang tak mempunyai sumber daya alam banyak seperti negara eropa. Tak jarang negara-negara yang tak punya sumber daya mumpuni melakukan intervensi kepada negara kaya SDA seperti negara ini, Indonesia.

Lalu mengapa Indonesia yang punya banyak SDA juga mempraktikkan faham ini. Paham ciptaan Adam Smith ini justru mematika rasa kemanusian. Lihatlah dampak kapitalisme. Masih ingatkah Anda dengan kisah bayi Naila yang meninggal di Rumah Sakit Umum Lasinrang, Pinrang, Sulawesi Selatan. Bukankah ini dampak kapitalisme. Orang terlebih dahulu mementingkan persoalan administrasi dan uang ketimbang nyawa. Karena sifat kapitalisme adalah maksimalisasi profit.

Hal ini tak mengherankan. Presiden SBY pernah berkata,” Saya sebagai Chief Salesperson Indonesia Inc, mengundang Anda semua untuk berinvestasi di Indonesia dan membangun kerja sama yang kuat," kata Yudhoyono, di hadapan 1.200-an CEO se-Asia Pasifik, di BICC, Nusa Dua Bali, Minggu, 6 Oktober 2013.

Saya menduga Indonesia adalah pasar. Pasar yang membuat mata asing merah. Indonesia bagaikan gadis perawan. Semua kekayaan alam ada di sini. Sebutkan yang anda tahu. Akan anda dapat di perusahaan yang bernama Indonesia Inc.

Mengapa penulis mengatakan bahwa kapitalisme bukan diperuntukkan untuk manusia?

Karena kapitalisme membuat kesenjangan sesama manusia sangat jauh, membuat persaudaraan antar sesama hancur, melanggengkan perbudakan dalam perusahaan, neo imperialisme, dan semakin membuat kita jauh dari Tuhan.

Coba lihat kota di Indonesia yang menerapkan kapitalisme pasti kacau. Kelaparan. Kebohongan. Bermegah-megah dimana-mana. Hukum rimbalah yang berlaku. Seperti bahasa penulis mematikan rasa kemanusiaan. Memang ini adalah opini namun terjadi di sekitar kita. (*)

Tulisan ini pernah dimuat di harian Tribun Timur, 26 Desember 2013

Tuesday, 12 November 2013

DEAR DIARY: AKU ADALAH PELACUR (18)

Ainulia

Aku mulai bertanya-tanya siapakah tokoh sebenarnya dalam diary ini. Mengapa ibuku meninggal? Lalu siapa sekarang yang memakai nama itu. Entahlah aku semakin bingung, hanya ibuku yang bisa menjawab. Lalu apakah Arif tahu Ainulia telah meninggal. Lalu kemana Arif sekarang rimbahnya? Akalku tidak sampai ke sana. Aku juga makin pusing saja memikirkan hal ini.

Maka aku selidiki satu demi satu kebenaran itu. Aku mulai dari ibuku yang bernama Ainulia. Kemudian Ibnu temanku. Dan yang terakhir AM Nasution, ayah Ibnu.

Strategi mengungkap fakta kumulai dari dokumen lama ibu. Aku cari satu per satu ijasah, foto-foto, dan teman-teman ibu sewaktu kuliah.

“Lisa apa yang kamu cari?” Tanya ibu curiga.
“Aku mencari ijasah aku ma...aku ingin mendaftar sebagai tentor di salah satu bimbingan belajar,” jawabku secara hati-hati.

Aku melihat ibu tak curiga melihat gelagatku. Aku pun melanjutkan pencarian faktaku. Fakta yang mungkin akan membuka rahasia keluargaku. Kenyataan yang akan mengubah segalanya.

Aku mulai mendapat sebuah foto. Foto yang sudah usang. Ada tiga perempuan yang saling berangkul. Aku melihat foto ibu ada di tengah. Diapit oleh dua orang perempuan. Aku curiga kedua perempuan ini adalah Raya dan Erni. Aku membaca tulisan di belakang foto ini tertulis ”sahabat selamanya Ainulia, Raya dan Erni.” Sungguminasa, 16 Februari 1988.

Namun mengapa foto ini ada di sini. Bukankah Ainulia sudah meninggal, gantung diri.  Sedangkan lanjutan dalam buku itu tersobek. Kemudian masuk ke bab selanjutnya. Aku tak tahu apakah Ainulia benar-benar meninggal atau selamat. Tak terjelaskan dalam buku itu.

Saban hari aku mencari fakta tentang kisah dalam diary ini namun hasilnya nihil.

“Bu…aku mau ngobrol deh sama ibu mengenai teman ibu,” tanyaku kepada ibu dengan hati-hati. Ketika aku menanyakan tentang AM Nasution ibu langsung tidak enak. Hari aku mesti sedikit bersabar.

“Teman yang mana Lis…,”jawab ibu cuek.

“Teman kuliah ibu, Erni dan Lisa,”

“Memang kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu kepada ibu?”

“Aku cuman mau tau aja…sempat ada yang bisa aku jadikan pengalaman…boleh yah bu,”

“Yah…oklah..asal kamu jangan bertanya macam-macam lagi,”

Aku mulai menanyakan kepada ibu tentang komunikasi terakhir mereka bertiga. Ibu hanya menjawab berkomunikasi dengan Raya setelah selesai kuliah sedangkan ibu tak pernah lagi berkomukasi dengan Erni.  

Aku juga bingung…bagaimana aku bertanya tentang kebenaran kisah dalam diary itu. Namun tak ada jalan selain menanyakan kepada ibu. Aku tak punya sumber lain yang bisa memberikan kebenaran kisah yang membuat aku pusing dan penasaran.


“Lalu ibu tahu di mana Raya sekarang tinggal?”

“Ibu tak tahu di mana rimba teman saya itu, sudah dua puluh tahun, ibu tak pernah kontak dengan dia. Erni apalagi…sejak dia pergi bersama dengan janin perempuannya.”

“Dari mana ibu tahu janin Erni seorang perempuan padahal Erni pergi saat masih hamil,”

Ibu pun langsung menutup mulutnya dan berlalu begitu saja seperti tempo hari. Karena aku sudah jenuh dengan sikap ibu. Maka aku pun mengungkapkan kebenaran yang aku dapat dari diary itu.

“Nama ibu bukan Ainulia kan. Nama ibu sebenarnya adalah Erni, teman Ainulia. Ia sudah mati. Gantung diri karena ditinggal pergi oleh suami dan anaknya,” ungkapku.

Bersambung…… 

JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAMKU!