Hujan




Sudah lama kami merasakan panas, hingga keluhan hingga sumpah serapah keluar dari mulut makhluk yang sering tak sabar yakni manusia. Ia merasa tak syukur dengan terik yang engkau berikan. Ia merasa sangat bosan dengan sinar matahari yang mencerahkan dan menghangatkan. Ia tak sadar bahwa ini juga adalah kontribusinya. Karena tak menjaga alam. Tak memelihara kehidupan makhluk lain. Padahal sudah menjadi tugas setiap manusia menjaga alam.

Lihatlah manusia dengan enteng merusak hutan. Membuang sampah. Memburu hewan. Alasan mereka hanya satu. Yakni untuk hidup. Hidup mewah dan bergelimang harta semu tentunya. Semakin kaya harta manusia semakin ganas juga kerusakan yang mereka buat.

Hari ini Engkau menurunkan hujan. Hujan yang sering Engkau sebut sebagai rahmat. Anugrah bagi makhluk tak terkecuali makhluk pelupa, manusia.

Engkau telah memanjakan hambamu. Tak ingin Engkau melihat mereka menderita dengan teriknya matahariMu. Sehingga engkau turunkan hujan untuk menyejukkan mereka. Membersihkan makhlukmu.

Namun lagi-lagi, aku yakin banyak manusia mengeluh. Hingga keluhan konyol sering kali terucap. Tak bisa bekerja maksimal lah. Perlu biaya tambahan. Menghambat lah.

Jika aku sebagai Tuhan maka sudah “kuratakan” semua manusia tak bersyukur hingga setinggi dengan pijakanku. Namun Engkau tidak. Meski manusia tak acuh, Engkau tetap memberi mereka hidup. Memberi mereka kasih sayang.

Tuhan... mengapa Engkau selalu tak bisa dimengerti. Kadang baik namun kadang juga cuek. Kadang pro dengan kehendakku tapi kadang sangat bertentangan dengan cita-citaku.

Sudahlah! aku tak berhak mempertanyakan kehendakmu. Engkau mahatahu dan mahakuasa. Aku dan seluruh isi bumi adalah milikMu. KerajaanMu. Jadi apapun mauMu, aku hanya bisa pasrah. Meski sering tak aku suka. Tapi suka hanya persoalan rasa. Sebentar lagi hilang. Rasa tak abadi. Karena manusia pelupa. (*)





 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android