Persepolis



Setelah 2500 tahun, puing Persepolis masih memberikan inspirasi bagi para pengunjungnya. (wikipedia)

Ketika kekuasaan Persia masih membentang jauh, musim semi menjadi waktu berkumpulnya perwakilan dan duta besar negeri-negeri jauh. Dari Asia, Afrika, Eropa, bertemu di Persepolis untuk menghormati Raja Diraja Darius. Membawa kabar-kabar gembira dari Sungai Danube yang besar, Sungai Nil yang abadi, Laut Aegea Biru yang damai, dan Sungai Indus nan eksotis.
 Utusan Mesir membawa kereta kuda penuh bahan persembahan. Perwakilan Yunani mengusung emas dan berbagai hadiah, duta Libia menghadiahkan antelop.

Gurita militer Persia mulai menganeksasi Mesir, Levania, Anatoli, dan kini melirik Konstatinopel.

Petikan Novel Biografi Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan.

Sebuah ibu kota kuno dari Kekaisaran Persia, terletak 70 km timur laut Shiraz, Iran. Dalam bahasa Persia kuno, kota ini disebut Parsa, yang berarti "Kota Bangsa Persia". Persepolis adalah terjemahan bahasa Yunani Persēs polis: "Kota Persia").

Sejarah mencatat kota ini sering disebut ‘gerbang semua bangsa’ yang dimaksudkan untuk seluruh kerajaan taklukan kemaharajaan Persia saat itu.

Kota ini memperlihatkan sebuah cikal bakal kota Metropolis. Kota yang mempertontonkan hura-hura, kegemerlapan duniawi, dan kota yang mulai meninggalkan Tuhan. Hal ini dibahasakn oleh Tasaro GK pada novel biografinya.

“Bangsa Persia sudah tidak lagi menghiraukan ajaran suci Zardust (ajaran bangsa Persia), Baginda. Mencampakkan perjanjian api dengan Tuhan. Bangsa ini menuju sebuah keadaan remah-remah (serpihan) sebuah kaum. Kitab-kitab suci kita pun perlahan menjadi remah-remah sebuah agama”

Kisah di atas menceritakan betapa kilauan sebuah kota yang sangat modern di masanya justru menjauh dari Tuhan.

Semua sejarawan dan teman-teman yang pernah membaca riwayat kota Persepolis tahu akhir kisah metropolitan ini.

Kesenjangan bak jurang dead valley antara si miskin dan si kaya. Pejabat suka menghamburkan harta masyarakat. Saling rebut kekuasaan.

Akhirnya Persepolis jatuh. Satu persatu negara bagian dijajah kemudian dirampas. Keluarga raja saling serobot, saling bunuh. Tak peduli saudara kandung. Semua haus akan kekuasaan.

Cerminan Persepolis
Kota Metropolis sekarang seakan cermin Persepolis. Syaratnya sangat jelas terlihat. Bangunan sebagai simbol kebesaran dan kemegahan. Dosa dianggap hal yang biasa. Justru kedekatan dengan Tuhan adalah hal yang tabu. Pembangkangan semakin menjadi-jadi terhadap Tuhan. Seakan bangga dengan akal yang terbatas.

Negara tempat kita tinggal juga melakukan praktik yang sama dengan Persepolis. Pemimpin menghalalkan kemudaratan melenggang begitu saja. Yang penting si pejabat bisa kenyang. Kenyang akan harta. Meski itu haram. Meski itu hak orang tak berada.

Kejujuran seakan menjadi jarum dalam tumpukan jerami. Tak peduli rakyat jelata, pedagang, dan pejabat, semua suka berbohong. Demi harta yang sementara.

Inilah metropolis...cermin Persepolis.

Persepolis hancur karena kebenaran Islam melalui rakyat miskin dari tanah arab. Orang-orang yang dianggap sepele. Metropolis pun akan sampai pada masa itu. Waktunya tergantung titah Tuhan. Pemilik semua kerajaan di seluruh jagat raya ini.

Supaya tak bernasib sama dengan Persepolis maka ajaran Tuhan mesti ditegakkan. Pemimpin dan rakyat hidup sederhana. (*)

 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android