Perjuanganku


Semakin aku “membaca” tabiat orang-orang di negaraku maka semakin tak terelakkan rasa muak yang ada di dalam hati. Sampai-sampai aku menghardik mereka dengan sejadi-jadinya. 

Aku memang juga tak sempurna dan belum tentu aku bisa melewati cobaan mereka. Apalagi yang punya harta dan jabatan. Mereka dengan leluasa membeli ini dan itu. Hingga hal-hal yang tak bisa dibeli, mereka dengan gampang menggelontorkan dana segar. Karena keterbatasan tak ada dalam kamus mereka. Mungkin jika diberi harta dan kekuasaan, aku juga tak menjamin akan bisa suci. Jangan-jangan aku lebih buruk. Abraham Lincoln mengatakan,”Hampir semua orang bisa tahan dalam penderitaan, tetapi kalau Anda mau menguji karakter seseorang, berilah ia kekuasaan.” 

Ini adalah perjudian yang belum tentu aku tempuh. Tapi sudah banyak pendahuluku yang menempuh jalan keculasan  sebagai media untuk merengkuh keberhasilan. Tapi semakin mereka mengejar keberhasilan maka lapar semakin menggerogoti. Dahaga semakin membuatku “gila” dan berhalusinasi. Semakin ingin banyak makan dan minum saja. Tanpa henti. Ibarat berada di padang Sahara. 

Aku juga dilema. Kalau tak menempuh itu maka aku tak bisa dipandang oleh orang-orang. Bahkan aku hanya akan dipandang rendah. Aku pasti malu. Aku pasti sedih. Keluargaku pun akan marah karena aku tak punya cukup uang untuk menyenangkan mereka. Membelikan semua kebutuhannya. Untuk hidup sejahtera. 

Aku benar-benar dilema dan bingung. Apakah akan berada di jalan lurus namun miskin harta. Atau mengambil jalan culas untuk berhasil dan terpandang.

Namun aku juga orang yang selalu ingat mati. Sudah sepuluh hari aku berpisah dengan kakekku. Aku melihat dia meregang nyawa. Kami tak bisa berbuat banyak. Hanya sedih yang bisa kami lakukan saat kepergiannya. Dia punya banyak hamparan sawah. Jika ia panen maka ia bisa memiliki satu unit mobil. Ia juga adalah salah satu orang terpandang di kampung. Namun harta itu dia tinggalkan. Tak ada yang ikut bersamanya. Aku dan keluarga tak tahu bagaimana nasibnya sekarang. Gelap. Karena keadaan setelah mati tak ada yang tahu. Masih menjadi perdebatan. Apakah akan bertemu dengan Tuhan atau hanya gelap. Seperti kata Stephen Hawking kematian hanya dongeng. “Saya pikir kehidupan setelah mati secara konvensional adalah dongeng untuk orang-orang yang takut pada kegelapan.”

Kita juga memang tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Kaum konservatif selalu percaya dengan adanya kehidupan setelah mati. Sedangkan kaum ilmuwan masih mempertanyakan hal itu. 

Sampai sekarang aku berusaha untuk mencari korelasi antara kehidupan dan ilmu pengetahuan. Karena terlalu banyak doktrin. Terlalu banyak pendapat. Terlalu banyak golongan. Tak ada yang jelas. Aku selalu tertarik dengan semangat ilmuwan yang mencari kehidupan hakiki. 

Aku hanya bisa mengikuti cahaya remang-remang. Cahaya yang belum tentu benar. Aku masih butuh Tuhan untuk menuntunku. Aku tak Maha Tahu. Aku hanya bisa berjuang dan berjuang. (*) 


 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android