Sunday, 18 August 2013

Aku Ingin Menjadi Tuhan



“Alam ini masih merupakan bentuk tanpa roh, atau laksana cermin buram, yang belum dapat memantulkan gambaran Tuhan secara sempurna. Tuhan baru dapat melihat citra-Nya secara sempurna dan utuh pada Adam (manusia) sebagai cermin yang terang, atau sebagai roh dalam jasad. Akan tetapi semua manusia termasuk dalam kategori ini. Yang dimaksud dengan manusia ialah insan kamil.” Yunasril Ali, dalam “Manusia Citra Ilahi”, seri disertasi, Paramadina, 1997.55.

Mungkin sangat kurang ajar jika kita bercita-cita menjadi Tuhan. Bahkan bisa dianggap sesat. Makar. Bahkan menghina Tuhan. Bahkan kita juga akan dianggap tak beragama. Keyakinan kita apa? Tapi bukankah agama adalah lokomotif untuk mengenal Tuhan.

Pemikiran ini berasal dari Ibnu Arabi yang mengatakan manusia bisa menjadi Tuhan dalam artian memiliki sifat Tuhan. Dia telah memperlihatkan dirinya dalam wadah manusia yakni Nabi Muhammad SAW. Menurut Ibnu Arabi, tajalli ilahi yang paling sempurna adalah diciptakannya manusia dengan peran dan tugasnya sebagai khalifah di bumi (QS Al-Baqarah: 30). Sosok manusia sempurna di dunia ini hanya ada seorang, yaitu Nabi Muhammad SAW. Manusia lainnya, dapat dikatakan kurang sempurna. Mengapa Rasulullah SAWpaling sempurna? Karena beliau merupakan pancaran (nur-Muhammad) yang berasal dari Allah; yang pertama kali diciptakan sekaligus tempat berasalnya ruh segala makhluk dan menjadi sumber dari ajaran agama-agama.

Nurcholish Madjid pun memperkuat pernyataan saya di atas dengan mengatakan manusia dalam artikelnya yang berjudul ”Kebebasan” adalah jagad kecil (mikro-kosmos) yang menjadi cermin jagad besar/raya (makro-kosmos). Cak Nur mempunyai maksud bahwa diri manusia merepresentasikan atau mencerminkan seluruh jagad raya atau alam semesta.

Jadi tak jarang orang-orang yang bercita-cita ingin mengikuti budi luhur Nabi Muhammad juga sudah mempunyai tanda-tanda Tuhan. Karena Muhammad adalah cerminan Tuhan. Tapi mesti ditekankan Muhammad bukan Tuhan tapi cahaya-Nya. Bagaimana dengan manusia lain, apakah bisa menjadi Tuhan. Ibnu Arabi mengatakan manusia lain tak bisa menjadi cermin sempurna untuk Tuhan namun bisa mendekati.

Lalu kenapa Tuhan tidak hadir saja di Alam semesta? Jawabannya karena Tuhan terlalu sempurna sedangkan Jagad Raya tak mampu mewadahinya.

Bagaimana mencari Tuhan?

Jalaluddin Rumi, seorang sufi dari Persia, mempunyai analogi yang (saya kira) tepat tentang “wujud” hakikiyah (Tuhan). Rumi bercerita bahwa ada orang India membawa seekor gajah ke suatu negeri yang penduduknya belum pernah melihatnya. Mereka tempatkan gajah itu di sebuah rumah yang gelap tanpa cahaya. Lalu, orang-orang pun masuk ke rumah itu satu demi satu untuk merabanya. Begitu mereka keluar dari rumah itu, masing-masing pun bercerita tentang apa yang ditangkap indera perabanya. Salah seorang yang tangannya meraba belalai mengatakan: gajah itu seperti terompet! Yang meraba telinganya mengatakan: gajah itu seperti kipas! Orang tinggi yang bisa meraba punggungnya mengatakan: gajah itu seperti kasur! Sedang si pendek yang hanya bisa meraba kaki-kakinya mengatakan: gajah itu seperti tiang!

Mereka semua tidak bersepakat. Masing-masing meyakini bahwa apa yang dirabanya itu benar-benar mewakili makhluk gajah tersebut. Mereka pun saling klaim dan saling gugat.

Dari cerita Rumi tersebut tampak bahwa pemahaman setiap orang berbeda. Perbedaan ini disebabkan oleh “penangkapan” yang bersifat parsial sehingga wujud-mutlak yang ada dalam ruang dan waktu terbatasi dengan “tabir-gelap” yang melingkupi para penafsir (peraba). Faktor kegelapan ruang dan waktu inilah yang mengakibatkan mereka saling memunculkan temuan dan pemahamannya yang beragam. Padahal, kalau saja ada “pelita” (di dalam ruang dan waktu yang gelap itu) pasti mereka akan paham dan mengerti bahwa “wujud-mutlak” (gajah di atas) adalah kesatuan dari temuan-temuan mereka. Pendeknya, “realitas-hakikiyah” dapat diketahui dan dipahami ketika ada “cahaya” yang menerangi dan membuka “tabir-gelap” yang membatasi panca indera dan akal pikiran kita.

Untuk melengkapi bahasan, ada sebuah riwayat bahwa Imam Ali bin Abi Thalib pernah ditanya: ”Apakah ia telah melihat Tuhan?” Ia menjawab: “Aku tidak menyembah Tuhan yang terlihat mata maupun yang berada di satu arah. Tetapi, aku hanya menyembah kepada Tuhan yang terlihat dengan ‘hati’ (iman) yang hadir di semua arah.”

Karena itu, “realitas-hakikiyah” Tuhan tidak dapat didefinisikan dan dijelaskan dengan bahasa maupun simbol-simbol. Ia hanya mampu dirasakan dan dipahami melalui ‘kesadaran’ yang terang karena cahaya. Selama kita belum diterangi ‘cahaya’ maka yang ada dan tampak adalah “temuan-temuan” yang parsial dan terbatas. Allah berfirman, “Dia tidak bisa dicapai oleh penglihatan mata, tetapi Dia bisa melihat segala yang kelihatan.” (QS Al-Anam: 103). Seperti yang saya bilang tadi alam semesta tak bisa menampung Tuhan karena Dia terlalu sempurna.

Dari pembahasan di atas, dapat ditarik sebuah simpulan sementara bahwa istilah dan nama-nama “Tuhan” (yang berbeda pada setiap agama) adalah manifestasi (penampakan) dari “wujud-mutlak” yang disimbolkan melalui cara dan tingkat pemahaman para penganut serta lokalitas (ruang dan waktu) budaya atau agama setempat dan utusan-Nya.
Pernyataan inilah yang sering digugat oleh golongan yang tak percaya dengan hal-hal yang kasat mata. Mereka meyakini Tuhan itu tak ada. Mereka tak percaya dengan iman dan hati nurani padahal manusia memiliki itu sedangkan golongan ini justru mengabaikannya. Mereka meyakini hanya logika yang bisa dipercaya selebihnya itu hanya mistis atau tak ilmiah. Namun bukankah ilmu pengetahuan terlalu mudah untuk memahami Tuhan yang begitu sempurna dan tak terbatas.

Memang Muhammad telah tiada 14 abad silam dan wahyu pun telah lama berhenti turun. Namun cahaya Muhammad akan tetap bersinar sampai akhir zaman nanti. Inilah jalan kita mengenal Muhammad yang sekali lagi adalah cahaya Tuhan. Haqiqat Muhammad selalu ada pada orang-orang yang senantiasa mencari Tuhan. Bahkan Adam-pun terdapat haqiqat Muhammad. Allah, Adam dan Muhammad adalah satu. Menurut Al-Jili, Sufi Baghdad, murid Abdul Qadir Al-Jailani, Insan al-Kamil itu adalah copy Tuhan.

Jadi kalau mau menjadi Tuhan, ikutilah Muhammad.

Namun manusia tak akan pernah bisa mengidentisifikan dirinya adalah Tuhan karena begitu banyak cobaan dan godaan. Banyak rintangan. Karena manusia harus bisa menyamai keluhuran Insan al-Kamil yakni Muhammad. (*)

Referensi:
1.      Monib dan Bahrawi. 2011. Islam dan Hak Asasi Manusia dalam pandangan Nurcholish Madjid
2.      albanduni.wordpress.com
3.      Kosasi, Aceng. Konsep Insan Al Kamil Menurut Al Jili. UPI. Bandung.

Thursday, 8 August 2013

Richard Phillips Feynman



“Pemerintah tidak punya hak untuk menentukan kebenaran dalam ilmu pengetahuan, dan tidak berhak menentukan topik-topik apa yang dipelajari dalam ilmu pengetahuan. Pemerintah juga tidak berhak menentukan nilai artitis dari hasil seni ataupun membatasi bentuk-bentuk seni dan karya sastra. Pemerintah tidak juga berhak menentukan validnya suatu doktrin, baik di bidang ekonomi, filsafat, sejarah, maupun agama. Tugas pemerintah adalah memberi fasilitas dan kebebasan kepada penduduk negara, dan membiarkan penduduk negara menyumbangkan ide-idenya dalam bidang-bidang tersebut diatas.” Richard Phillips Feynman.
Richard P. Feynman

Kata-kata Feyman ini menjadi kritik sosial pada pemerintah yang mengekang perkembangan ilmu pengetahuan.  Siapa Richard P. Feynman? Ia adalah fisikiawan. Pembuat bom atom pertama Amerika Serikat semasa perang dingin. Bom atom buatannya diledakkan di Kota Hiroshima dan Nagasaki bulan ini tahun 1945.

Lelaki kelahiran New York, 11 Mei 1918 ini bisa memberikan membongkar kerumitan fisika dan menaburkan penjelasannya menjadi sederhana dan indah. Mungkin Feynman menganggap fisika adalah permainan jadi semua masalah yang berkaitan dengan ilmu satu sangat mudah baginya. Ia menulis di bukunya, “Aku melakukan apa saja yang kusukai; apa yang kukerjakan tak mesti penting untuk perkembangan fisika nuklir, tapi asal menarik dan menyenangkan untuk mainanku”.

Jika Newton peletak dasar fisika, Enstein adalah pendiri tiang-tiangnya maka Feynman adalah pembuat atap dan implementasi fisika pada aktivitas keseharian. Seorang finishing touch yang handal. Ilmuwan yang berhasil menyandingkan pengembangan kedua belah sisi otak (kiri dan kanan) yang cukup sempurna.

Sejak kecil ayahnya, seorang penjual pakaian seragam militer. Ia mendidik Feynman dengan beraneka ragam ilmu pengetahuan alam. Hal ini ternyata memicu ‘bom waktu’ dalam diri Feynman muda yang kemudian berperan besar dalam kariernya kelak. Saat berusia 12 tahun, lelaki muda ini memiliki laboratorium yang dibuatnya sendiri. Dia membuat percobaan listrik, membuat radio sederhana, sampai menjadi teknisi radio panggilan amatir dalam laboratoriumnya. Tak hanya itu, dia juga bermain-main dengan percobaan kimia sederhana. Bahan-bahannya diambil dari dedaunan dan bumbu masak ibunya.

Ia selalu percaya, sebagus-bagusnya suatu teori bila tidak diakui oleh experimen maka teori itu salah. Hingga teori Elektrodinamik Kuantum tentang interaksi cahaya dan materi (light-matter interaction). Teori ini adalah teori kuantum tersukses sejauh ini, yang kecocokannya dengan hasil eksperiman ibarat mengukur jarak Surabaya - Bandung dengan ketelitian helaian rambut.

Teori Elektrodinamik Kuantum dirintis pakar kuantum Paul Dirac, Werner Heisenberg, Wolf Pauli, dan Enrico Fermi pada tahun 1920-an. Feynman berhasil menyelesaikan teori ini.

Bom Atom
Peledakan bom atom di Kota Hiroshima dan Nagasaki sangat membuat kecewa ilmuwan saat itu. Bom atom ini membunuh sebanyak 140.000 orang di Hiroshima dan 80.000 di Nagasaki pada akhir tahun 1945. Sejak itu, ribuan telah tewas akibat luka atau sakit yang berhubungan dengan radiasi yang dikeluarkan oleh bom. Pada kedua kota, mayoritas yang tewas adalah penduduk.

Tragis. Mencekam. Kiamat

Kata-kata inilah mungkin yang dapat menggambarkan kejadian 68 tahun lalu.

Feynman termasuk orang yang masuk dalam Project Manhattan. Di Princeton ia mengembangkan teori tentang bagaimana cara memisahkan Uranium 235 dari 238 Uranium. Langkah untuk membuat Bom Atom Hiroshima.

Namun alasan proyek ini berasal dari ketakutan sebuah bangsa. Feynman mengatakan, “Germany had Hitler and the possibility of developing an atomic bomb was obvious, and the possibility that they would develop it before we did was very frightened.”

Bangsa yang berada dalam labirin perang. Mereka mempertahankan masing-masing harga diri, martabat dan berlangsungan hidup. Ketakutan yang berbicara, rasa sesama manusia tak ada. Peri kemanusian tak ada. Kondisi seperti hari akhir. Masing-masing memikirkan keselamatan masing-masing. This the war.

Pasti menghasilkan air mata, penderitaan, dan rasa benci antar manusia.
Namun belakangan hari Feynman mengkritik pemerintah Amerika Serikat yang menggunakan bom atom untuk memusnahkan manusia. Ia mengungkapkan kata-kata yang masih kita kenang saat ini. Kata-kata ini menjadi pembuka artikel ini.  

Perang memang selalu menghasilkan sebuah keputusan yang pasti merugikan. Menggunakan senjata. Menghabiskan semua dana digunakan untuk saling memusnahkan. Karena satu alasan, bertahan hidup. (*)

Tuesday, 6 August 2013

11 Mei 303: Bizantium


 
Peta Bizantium

Byzas dari Megara mendirikan Bizantium  dengan menggunakan namanya sendiri pada 11 Mei 303 M. Kota Bizantium adalah sebuah kota niaga yang strategis dan satu-satunya pintu masuk ke Laut Hitam. Kalau disandingkan dengan Indonesia, Bizantium adalah Selat Malaka. Bangsa-bangsa yang berada di Benua Eropa berperang untuk memperebutkan area tersebut.



Hingga membuat kota ini seringkali luluh lantah. Raja kala itu, Pescennius Niger, harus berkoalisi dengan Septimius Severus, untuk membangun kota ini setelah diporak-porandakan oleh pasukan Romawi pada tahun 196. Bizantium  kemudian dibangun kembali oleh kaisar Septimius Severus. Ia segera memulihkan kemakmurannya.



Dua puluh tujuh tahun kemudian, 330 Masehi. Bizantium  menarik perhatian Kaisar Romawi Konstantinus I. Ia membangun ulang kota itu menjadi Nova Roma (Roma Baru). Setelah Konstantinus I mangkat, kota ini disebut Konstantinopel ('kota Konstantinus'). Kota ini selanjutnya menjadi ibukota Kekaisaran Romawi Timur, yang kelak disebut kekaisaran Bizantium  oleh para sejarawan.



Justinianus I
Pada masa pemerintahan Justinianus I (berkuasa 527–565), Bizantium menaklukan kembali banyak wilayah di pesisir Mediterania barat, termasuk Afrika utara, Italia, dan Roma, yang kemudian dikuasai oleh Bizantium selama dua abad. Pada pertengahan abad ke-6, Wabah Justinianus menewaskan sepertiga penduduk kekaisaran, menciptakan permasalahan militer dan keuangan yang besar. Wabah ini disebebkan genom black death. Penyakit ini menyebabkan kematian misterius dengan sekucur tubuh korban menjadi hitam. Cakupan wabahnya menyerang hampir seluruh dunia, terutama Asia Selatan dan Tengah, Afrika Utara dan Arabia, dan Eropa (di utara sejauh Denmark dan di barat sejauh Irlandia.



Kehancuran Bizantium

Masa pemerintahan Kaisar Mauricius (berkuasa 582–602), perbatasan timur kekaisaran meluas dan perbatasan utaranya distabilkan. Akan tetapi, terbunuhnya Mauricius pada tahun 602 menyebabkan perang selama dua dekade dengan Persia Sassania. Meskipun Bizantium  memperoleh kemenangan besar di bawah Kaisar Heraclius, namun menghabiskan sumber daya dan tenaga manusia Bizantium yang berakibat pada kekalahan-kekalahan besar dan hilangnya banyak wilayah dalam Perang Bizantium -Arab pada abad ke-7. Rasulullah Muhammad SAW menjadi promotor penaklukan Kota Konstatinopel. Seorang khalifah umat Islam. Agama baru saat itu. Pasukan Islam kala itu menjadi momok besar bagi kerajaan lainnya. Perang inilah yang melatarbelakangi perang agama hingga saat ini antara Islam dan Kristen.



Rasulullah SAW menyampaikan sabdanya, dari Abu Qubail, ia berkata: “Kami pernah berada di sisi Abdullah bin Amr bin al-Ash, ia ditanya: “Yang manakah diantara dua kota yang akan ditaklukan lebih dahulu, Konstantinopel atau Roma?” , kemudian Abdullah meminta peti kitabnya yang masih tertutup. Abu Qubail berkata: “Kemudian ia mengeluarkan sebuah kitab dari padanya. Lalu Abdullah berkata: ‘Ketika kami sedang menulis di sekeliling Rasulullah SAW tiba-tiba beliau ditanya: ‘Yang manakah di antara dua kota yang akan ditaklukkan terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma?” Kemudian Rasulullah menjawab: “Kota Heraklius akan ditaklukkan terlebih dahulu, yakni Konstantinopel.”



sultan muhammad al fatih
Delapan abad kemudian, 29 Mei 1453 M. Bulan yang sama ketika lahir Kota Bizantium, Konstatinopel takluk di tangan Islam. Adalah Sultan Muhammad Al-Fatih yang menjadi pemimpin penaklukan Konstatinopel dibawah Raja Constantine XI.  Suatu malam armada Turki Utsmani menyusur selat Bosporus menuju Konstantinopel. Sebanyak 70 buah kapal terpaksa diseret ke darat sejauh 5 km untuk kemudian dilayarkan lagi di laut. Hal ini dilakukan karena Romawi telah memasang rantai-rantai besar yang menghalangi perjalanan laut. Pada malam itu meriam-meriam Turki menyalak dengan dahsyatnya. Penggunaan meriam pertama di dunia. Seiring kegoncangan dalam benteng, masuklah tentara Islam menyerbu. Pertempuran pecah di laut dan benteng. Pagi subuh, 29 Mei 1453 M jatuhlah Konstantinopel ke tangan kaum muslimin. Terbukti sudah janji Muhammad SAW setelah melalui perjalanan panjang perjuangan kaum muslimin untuk menaklukan Konstantinopel seperti yang diprediksikan 8 abad lalu.



Saat ini Bizantium atau Konstatinopel telah menjadi negara Turki. Salah satu negara Islam berbentuk Republik terbesar di dunia. Saat Kesultanan Utsmaniyah runtuh dan diteruskan oleh Republik Turki pada 1923, Islam menjadi mundur karena perubahan Turki dari kesultanan menjadi negara sekuler. Presiden pertama Turki, Mustafa Kemal Ataturk melarang emblem-emblem Islam dan memberi keleluasaan pada agama non-Islam. Kalender Hijriah diganti Masehi. Penggunaan kata Tanri ketimbang Allah. Kemudian Hagia Sophia (dulu gereja saat pemerintahan Kontatinopel dan masjid saat pemetintahan Era Utsmaniyah) yang diubah lagi menjadi museum, pelarangan pengajaran agama Islam, dan pembatasan jumlah masjid. (*)



Referensi


Nationalgeografhic.co.id

Monday, 5 August 2013

Peneliti, Penulis dan Pengajar




Aduh...adalah kata yang aku ucapkan setelah mengecap dunia sesungguhnya. Karena hal-hal yang aku kerjakan sekarang sangat melenceng jauh dari cita-cita. Yakni menjadi seorang peneliti, pengajar dan penulis. Suatu kegiatan yang sangat ingin aku gapai dalam hidup.

Sekarang aku lebih banyak bermain di wilayah bisnis. Meski profesi satu ini berpotensi mendapatkan income yang banyak namun selalu saja membuat batin tak tenang.

Hanya lembaga seperti National Geografhic (http://nationalgeographic.co.id/ )dan WWF (http://www.wwf.or.id ) yang sangat mendukung cita-citaku . National Geografhic bergerak di bidang pengetahuan akan geografi. Yayasan National Geographic didirikan di Amerika Serikat pada tanggal 27 Januari 1888 oleh 33 orang yang tertarik meningkatkan pengetahuan geografi mereka. Gardiner Greene Hubbard menjadi presiden pertama dan kemudian digantikan oleh menantunya, Alexander Graham Bell. Yayasan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan umum tentang geografi dunia dan pada akhirnya mensponsori penerbitan majalah bulanan National Geographic.
Sosok Indiana Jones yang mempunyai peran sebagai peneliti, penulis dan pengajar

Kemudian WWF adalah lembaga yang bergerak untuk menghentikan dan memperbaiki kerusakan lingkungan yang terjadi serta membangun masa depan, dimana manusia hidup selaras dengan alam.

Meski banyak lembaga yang serupa banyak namun lembaga di atas inilah yang konsisten menelaah tentang kejadian dan hubungan organisme dan non organisme yang ada di alam.

Aku masih ingat lima tahun lalu, 2008. Seorang guru Biologi menceritakan tentang sebuah lembaga yang terdapat di dalamnya orang-orang menasbihkan diri untuk lingkungan. Pada tahun yang sama masih banyak channel di TV nasional menayangkan tentang alam. Channel yang paling terkenal adalah Discovery Channel dan National Geografhic. Aku sangat bersemangat dan akan memilih jurusan yang mempelajari tentang makhluk hidup dan alam jika kuliah nanti. Maka pilihan itu jatuh pada Jurusan Biologi. Departemen yang mengajarkanku tentang mencintai alam dan kekuasaan Tuhan tentunya.

Aku juga masuk ke lembaga pers untuk mengasa kemampuan menulis meski aku lebih suka memainkan musik. Namun musik aku jadikan sebagai hobby. Sedangkan menulis sebagai satu dari tiga bagian dalam mengejar cita-citaku yakni menjadi seorang penulis. Langkah menjadi penulis ini aku dalami selama tiga tahun di LPMM Profesi. Sebuah lembaga jurnalistik yang sangat memegang teguh idealisme dalam menulis. Tuah berkecimpung selama ini di Profesi membuat aku dipanggil oleh salah satu dosen senior di jurusan untuk membuat buku. Tentunya buku pelajaran untuk anak-anak sekolahan.  Penelitianku juga telah aku perdalam dengan selalu hadir pada kegiatan praktikum di jurusan. Meski kegiatan praktikumku lebih banyak kuhabiskan bersama junior karena tertinggal dua semster dari teman seangkatan. Dan terakhir kemampuan mengajarku selalu aku asa dengan membaca buku dan berdiskusi dengan dosen yang mumpuni di kampus.

Kembali kepada alasan mengapa aku sangat melenceng dari cita-cita hidup yakni karena desakan ekonomi dan lingkungan. Yah...lingkungan tempatku tinggal memang mengarahkan pada kehidupan kapitalisme. Kehidupan yang bertujuan meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Biasanya menghalalkan berbagai macam cara. Menuntun manusia pada kehidupan bermegah-megah. Kota besar seperti Makassar memang sangat akrab dengan kehidupan ini. Kapitalisme.

Menghalalkan segala cara di sini memang banyak macamnya. Bukan cuman berbicara pada tataran halal atau haram. Tapi apakah kehidupan kita juga memperhatikan keseimbangan alam. Sebuah pertanyaan yang terkesan sangat tak sesuai dengan jaman jika dilontarkan di depan warga kota metropolitan seperti Makassar.

Kenyataan ini memang sangat susah untuk ditepis. Karena sudah menjadi sebuah sistem yang tak disadari dan berlangsung di tengah-tengah masyarakat madani.

Semoga kita tak semakin larut dalam kehidupan ini. Hingga melupakan nilai dan keseimbangan alam. Sembari itu aku gunakan waktu sekarang untuk berkumpul dengan orang-orang yang mengarahkanku pada visi hidup. Membaca referensi yang memotivasi cita-cita. (*)

Thursday, 1 August 2013

Keegoisan Cintaku




Tu hi to jannat meri, tu hi mera junoon
(Hanya kaulah surgaku, hanya kaulah obsesiku)

Tu hi to mannat meri, tu hi rooh ka sukoon
(Hanya kaulah harapanku, hanya kaulah ketenangan jiwaku)

Tu hi ankhiyon ki thandak, tu hi dil ki hai dastak
(Hanya kaulah peneduh mataku, hanya kaulah detak jantungku)

Aur kuchh na jaanoon main, bas itna hi jaanoon
(Aku tak mengetahui yang lain, hanya ini yang kuketahui)

Tujh mein rab dikhta hai, yaara main kya karoon?
(Aku melihat Tuhan dalam dirimu, kawan, apa yang harus kuperbuat?)


Sebuah bait lagu Tujh mein rab dikhta hai dari Roop Kumar Rathod yang menggugah  perasaan dan meningkatkan ego cinta. Hem...ego dalam bercinta memang sangat penting. Ego yang mencintai seseorang yang kita anggap pas di hati. Tak ada kata mundur. Apabila dia menolak maka aku hanya bisa berkata,” Tak ada hak untuk kamu menghapus rasa cintaku, karena mencintai itu adalah anugrah dari Tuhan yang mesti disyukuri.”

Aku memang menganggap mencinta itu adalah keegoisan. Tak memperhatikan dan tak acuh dengan adat istiadat daerah, latar belakang sejarah, apalagi kata orang. Karena cinta bermain pada wilayah rasa. Maka semakin besar rasa yang diberikan oleh orang terlibat cinta maka apapun hadangannya akan selalu ditepis, disingkirkan kemudian dunia serasa hanya milik berdua saja. Orang yang mencintai seseorang tak akan segang untuk menawarkan dan menggadaikan perasaannya hanya untuk dia. Selalu menghujani si kekasih dengan cinta.

Aku juga menulis tulisan ini memang ber-ego tinggi. Sehingga tak peduli apakah akan dibaca atau diabaikan. Karena inilah ego.

Terkadang kala kita mencinta maka sifat kekanak-kanakan selalu muncul. Tak mau kalau dia tak ada di samping kita, tak mau jauh, tak mau terjadi apapun. Semua kondisi dalam keadaan was-was.

Vasdi vasdi vasdi dil te dil vich basdi (Kau tinggal begitu dalam di lubuk hatiku) kata lirik lagu dalam film Rab ne bana di jodi. Terkadang seseorang yang tinggal menjadi ‘kekasih hati’ membuat si pecinta lupa akan segala logika yang ada.

Karena kamu itu, Rab ne bana di jodi.. (Pasangan hidup yang diciptakan Tuhan).

Sampai kapan kita bertahan akan ketidakpastian apakah kita akan diterima atau malah diabaikan. Mungkin sampai Tuhan berkata, “bukan itu jodoh yang pantas untuk kamu.”

Apabila Tuhan masih memberikan rasa cinta maka akan aku perjuangkan rasa ini hingga mati. Sekali lagi bersifat kekanak-kanakan karena cinta mendegradasi semua logika kedewasaan. Kalau cinta memakai logika maka akan selalu ada perhitungan yang membuat ketulusan dan keikhlasan tercemari.

Wahai kekasih, tahukah kamu apa yang membuat aku serasa tak berlogika, yakni semua menyangkut kamu aku sukai. Aku suka kekuranganmu dan kelebihanmu. Membuatku melupakan semua perkataan orang. Hanya yakin anugrah Tuhan yaitu mencintaimu.

Mungkin kamu bertanya, mengapa setelah banyak perempuan yang aku datangi mengapa memilih kamu untuk tinggal di lubuk hatiku terdalam?

Maka jawabanku hanya satu, mungkin kamulah yang ditunjukkan oleh Tuhan untukku.

Aku memang tak akan melangkahi keinginan Tuhan. Tapi apakah Tuhan tak mau bernegeosiasi denganku. Bukankah Tuhan itu diplomatis. Apabila hambanya memang tulus maka Ia akan senang hati memberikan jalan. Jalan bersama denganmu.

Tahukah kamu, sepanjang menulis artikel ini aku selalu membayangkan percakapan kita selama ini. Membayangan inci demi inci wajahmu yang meneduhkan. Menelisik kata-katamu yang lembut. Membuat suara dan stresku turun drastis. Melambungkan semangatku.

Mungkin aku belum mapan. Namun aku akan mengejar kemapanan berdasarkan inspirasi Tuhan dan tentunya kamu.

Mungkin ini yang aku sampaikan hari ini. Lain kali aku akan mencurahkan isi hatiku untukmu apabila Tuhan mengijinkan. (*)