Melawan Jalan Gelap Kampung Halaman

Hari ini aku bersama si Rebi (baca: Revo Biru) melalui rute saat suasana yang berbeda. Malam hari. Memang selama ini aku pulang ke Desa Bissoloro Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, selalu dengan kondisi cuaca yang terang. Keluarga, baik ibu dan nenek, selalu melarangku. Katanya amat berbahaya. Memang cukup berbahaya sih karena jalan menuju kampungku ini tak ada penerangan malam hari, kondisi alam yang sering hujan, tak ada pembatas jalanan, jalang curang dan rumah-rumah amat jarang sebelum sampai di gerbang desa.

Akhir tahun 90-an memang sangat tak aman berjalan atau pun menggunakan kendaraan menuju Desa Bissoloro. Bisa-bisa kita kena korban rampok. Namun sekarang sudah tidak.Selain itu kondisi jalan masih berbatu, Belum ada aspal. Kendaraan umum yang lewat hanya satu atau dua. Itupun kebanyakaan truk pengakut kayu.


Sewaktu aku masih berumur belasan untuk menuju kampung halamanku meski ditempuh dengan berjalan kaki. Jaraknya mencapai 15 kilometer dari akses jalan raya yang kerap dilalui kendaraan umum. Barulah pada awal tahun 2005 jalan desa ini terjamah aspal. Kemudian beberapa tahun yang lalu listrik mulai mengalir di desa ini.Dari kondisi alam bercuaca dingin dan berkabut. Jarak pandang bisa-bisa hanya seperlemparan batu. Apabila perjalanan di malam hari maka bisa-bisa celaka untuk pengemudi baru.


Untung aku hafal betul jalanan di desa ini. Jadi tak masalah meski jarak pandang terbatas.Sekarang dengan berbagai fasilitas listrik dan jalan aspal membuat perjalanan semakin aman. Sehingga hanya butuh 45 menit untuk sampai di Desa Bissoloro.


Kerlap Kerlip MakassarSetelah sampai di puncak Desa Bissoloro, kita akan disajikan dengan kerlap kerlip lampu malam Kota Sungguminsa dan Makassar. Sangat menakjubkan. Membuat aku berhenti dan menikmati lampu ini selama 30 menit.


Apabila pembaca yang pernah melihat film Rab Ne Bana Di Jodi saat take di gunung, ketika si pemeran utama memperliahatkan  pemandangan lampu kota. Maka seperti itulah keadaanya di gunung tersebut. Maka tak heran jika banyak villa kokoh berdiri di area ini.


Aku ingin mengabadikan pemandangan dengan kamera namun hanya smartphone yang ada di saku. Pixel kameranya tak cukup untuk merekam dengan kondisi yang serba gelap.Maka aku berjanji apabila lewat sini di waktu malam maka kamera akan aku siapkan meski itu meminjam kamera teman di kampus. (*)





 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android