Keegoisan Cintaku




Tu hi to jannat meri, tu hi mera junoon
(Hanya kaulah surgaku, hanya kaulah obsesiku)

Tu hi to mannat meri, tu hi rooh ka sukoon
(Hanya kaulah harapanku, hanya kaulah ketenangan jiwaku)

Tu hi ankhiyon ki thandak, tu hi dil ki hai dastak
(Hanya kaulah peneduh mataku, hanya kaulah detak jantungku)

Aur kuchh na jaanoon main, bas itna hi jaanoon
(Aku tak mengetahui yang lain, hanya ini yang kuketahui)

Tujh mein rab dikhta hai, yaara main kya karoon?
(Aku melihat Tuhan dalam dirimu, kawan, apa yang harus kuperbuat?)


Sebuah bait lagu Tujh mein rab dikhta hai dari Roop Kumar Rathod yang menggugah  perasaan dan meningkatkan ego cinta. Hem...ego dalam bercinta memang sangat penting. Ego yang mencintai seseorang yang kita anggap pas di hati. Tak ada kata mundur. Apabila dia menolak maka aku hanya bisa berkata,” Tak ada hak untuk kamu menghapus rasa cintaku, karena mencintai itu adalah anugrah dari Tuhan yang mesti disyukuri.”

Aku memang menganggap mencinta itu adalah keegoisan. Tak memperhatikan dan tak acuh dengan adat istiadat daerah, latar belakang sejarah, apalagi kata orang. Karena cinta bermain pada wilayah rasa. Maka semakin besar rasa yang diberikan oleh orang terlibat cinta maka apapun hadangannya akan selalu ditepis, disingkirkan kemudian dunia serasa hanya milik berdua saja. Orang yang mencintai seseorang tak akan segang untuk menawarkan dan menggadaikan perasaannya hanya untuk dia. Selalu menghujani si kekasih dengan cinta.

Aku juga menulis tulisan ini memang ber-ego tinggi. Sehingga tak peduli apakah akan dibaca atau diabaikan. Karena inilah ego.

Terkadang kala kita mencinta maka sifat kekanak-kanakan selalu muncul. Tak mau kalau dia tak ada di samping kita, tak mau jauh, tak mau terjadi apapun. Semua kondisi dalam keadaan was-was.

Vasdi vasdi vasdi dil te dil vich basdi (Kau tinggal begitu dalam di lubuk hatiku) kata lirik lagu dalam film Rab ne bana di jodi. Terkadang seseorang yang tinggal menjadi ‘kekasih hati’ membuat si pecinta lupa akan segala logika yang ada.

Karena kamu itu, Rab ne bana di jodi.. (Pasangan hidup yang diciptakan Tuhan).

Sampai kapan kita bertahan akan ketidakpastian apakah kita akan diterima atau malah diabaikan. Mungkin sampai Tuhan berkata, “bukan itu jodoh yang pantas untuk kamu.”

Apabila Tuhan masih memberikan rasa cinta maka akan aku perjuangkan rasa ini hingga mati. Sekali lagi bersifat kekanak-kanakan karena cinta mendegradasi semua logika kedewasaan. Kalau cinta memakai logika maka akan selalu ada perhitungan yang membuat ketulusan dan keikhlasan tercemari.

Wahai kekasih, tahukah kamu apa yang membuat aku serasa tak berlogika, yakni semua menyangkut kamu aku sukai. Aku suka kekuranganmu dan kelebihanmu. Membuatku melupakan semua perkataan orang. Hanya yakin anugrah Tuhan yaitu mencintaimu.

Mungkin kamu bertanya, mengapa setelah banyak perempuan yang aku datangi mengapa memilih kamu untuk tinggal di lubuk hatiku terdalam?

Maka jawabanku hanya satu, mungkin kamulah yang ditunjukkan oleh Tuhan untukku.

Aku memang tak akan melangkahi keinginan Tuhan. Tapi apakah Tuhan tak mau bernegeosiasi denganku. Bukankah Tuhan itu diplomatis. Apabila hambanya memang tulus maka Ia akan senang hati memberikan jalan. Jalan bersama denganmu.

Tahukah kamu, sepanjang menulis artikel ini aku selalu membayangkan percakapan kita selama ini. Membayangan inci demi inci wajahmu yang meneduhkan. Menelisik kata-katamu yang lembut. Membuat suara dan stresku turun drastis. Melambungkan semangatku.

Mungkin aku belum mapan. Namun aku akan mengejar kemapanan berdasarkan inspirasi Tuhan dan tentunya kamu.

Mungkin ini yang aku sampaikan hari ini. Lain kali aku akan mencurahkan isi hatiku untukmu apabila Tuhan mengijinkan. (*)

 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android