Sunday, 23 June 2013

Kebohongan



Pemerintah yang baik hati, Anda beralasan menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) karena subsidi terlalu berat untuk APBN. Tapi apakah karena beban itu Anda rela melihat masyarakat kesusahan dan menderita. Bukankah untung pemerintah melalui BUMN sudah lebih kalau disalurkan untuk masyarakat? Bukankah biaya operasional pemerintahlah yang mengambil 50 persen lebih APBN! Kenapa minyak kita hargai dengan harga asing. Bukankah minyak itu punya kita. Entahlah! Aku justru ragu pemerintah bekerja untuk rakyat. Anda hanya bekerja untuk diri sendiri. Memperkaya diri sendiri. Namun keragu-raguanku selalu berupaya aku tepis namun fakta selalu menambah keragu-raguanku.
Sumber: Vivanews.co.id

Setelah Anda menaikkan BBM, mengapa Anda tak mengontrol geliat yang ada di lapisan masyarakat. Anda membiarkan harga bahan pokok, jasa kendaraan dan dampak-dampak lainnya tak terkendali. Anda semacam lepas tangan. Yah...LEPAS TANGAN. Membiarkan gejolak dimana-mana.

Solusi BLSM yang Anda tawarkan pun masih abu-abu. Hanya memberikan nafas sebentar, habis itu Anda membiarkan rakyat kembali menderita. Apakah Anda sudah memirkan masa depan mereka. Bukankah mereka harus bekerja 2 kali untuk bisa hidup.

Mengapa Anda tak menggunakan wewenang Anda sebaik mungkin untuk mengatur dan mewaspadi gejolak kenaikan BBM. Bukankah Anda bertanggungjawab atas hal itu. Bukankah itu tujuan Anda dipilih oleh kami, RAKYAT.

Memang kenaikan ini bagus, bagus untuk pengusaha dan baik untuk pemerintah. Meski selalu berkata baik untuk ekonomi Indonesia. Ekonomi yang hanya dimiliki oleh si kaya.

Wahai pemilik kendaraan, mengapa Anda menaikkan jasa kendaraan terlalu tinggi. Sampai 50 persen. Bukankah kenaikan ini tak akan mengurangi rezeky Anda. Bukankah jika dihitung dengan baik, Anda tak akan rugi justru untungnya akan bertambah banyak lagi. Seakan-akan kenaikan ini membuat Anda langsung miski jika tak menaikkan.

Wahai penjual bahan pokok, mengapa Anda menaikkan harga selangit sebelum BBM naik. Mengapa Anda terlalu takut tak bisa untung jika BBM sudah naik. Mengapa Anda mengambil keuntungan bukan pada tempatnya. Mengapa Anda rela berbohong hanya untuk kepentingan sesaat ini.

Wahai rakyat, mengapa Anda tak sadar dengan dampak BBM dan hal-hal yang berkaitan dengan BBM. Mengapa Anda rela ‘menjual’ diri hanya untuk kesenangan sesaat. Apakah dengan diberi uang, Anda sudah senang. Sampai kapan Anda akan begini. Tangan di bawah. Mengapa Anda bermental miskin. Miskin hati. Mengapa kita selalu kalah dengan manuver politik pemerintah.

Apakah karena keterpaksaan? Mungkin. Salah satu warga Pondok Labu, Nisan, pemberian BLSM yang hanya sementara hanya menunda kesulitan masyarakat. Sebab, dampak kenaikan BBM tidak sementara.
"Kalau kami lebih pilih BBM tidak naik dibanding naik tapi dapat BLSM," kata dia pada Republika.

Wahai pemerintah, bukankah ini sudah menjadi  alasan bahwa masyarakat tak mampu. Apakah Anda akan lepas tangan lagi setelah empat bulan? Entahlah. Itu adalah keputusan Anda karena kami hanya rakyat yang hanya bisa diperintah. Namun jika Anda sudah keterlaluan kami akan protes. Protes yang membuat Anda jera.

Mudah-mudahan Tuhan memberikan negara ini pemimpin yang pro rakyat. Tak takut dengan negara asing yang selalu mengintimidasi. Tak menjadi pengekor. Mudah-mudaha Tuhan memberikan rahmat kepada rakyat Indonesia. Supaya mereka berada di jalan-Mu. Amin. (*)

Tuesday, 18 June 2013

Panggung Sandiwara BBM



“Dari Teater DPR, rakyat perlu tahu parpol mana yg benar2 bela rakyat dan mana yg sesungguhnya membohongi rakyat .” Tweet Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin,setelah APBN-P 2013 disahkan.

Rencana pemerintah untuk menaikkan BBM akhirnya selesai dengan kemenangan partai koalisi. Akhir perdebatan panjang oleh wakil rakyat yang terhormat di Gedung DPR RI, Jakarta, membuat rakyat mesti membeli harga BBM premium Rp6500 per liter. Pemerintah berasumsi, jika BBM tak naik maka  akan membebani APBN 2013. Dengan melalui rapat APBN-P 2013, pemerintah melalui partai koalisi berhasil meng-gol-kan rencana ini.


Suasana Rapat Paripurna setelah pengesahan
 APBN-P 2013. 
Solusi pemerintah terhadap rakyat miskin akibat kenaikan BBM ini adalah Bantuan Sementara Langsung Masyarakat (BSLM). Masyarakat akan mendapat Rp150 ribu per bulan selama empat kali. Bantuan ini setengah dari BLT tahun 2005,  tahun itu setiap kepala keluarga yang tergolong miskin mendapat jatah Rp300 ribu. Solusi ini hanya akan memotong masalah pada ujungnya bukan pada pangkalnya. Pemerintah sebaiknya membangun infrastruktur dan sarana kepentingan umum seperti perbaikan dan penambahan jalan, perbaikan sekolah, pembenahan pusat kesehatan, dan pembangunan manusia. Kasarnya pemerintah membuat sebuah terobosan yang dapat mencerdaskan bangsa bukan menyuapnya dengan materi yang bersifat sementara.

Karut marut Bantuan Langsung Tunai (BLT) tahun 2005 kemungkinan akan terulang. Orang berduit banyak akan mengaku miskin. BLSM hanya akan menjadi alat politik untuk partai penguasa. Jika rakyat menerima saja, maka tak ada perubahan pola berpikir rakyat saat ini. Berpikir jangka pendek!

Sosialiasi ke masyarakat tentang BBM dan anggaran selalu klise. Transparansi tak pernah ada. Isu kenaikan BBM ini dilepaskan begitu saja tanpa pengendalian. Tarik ulur kepastian kenaikan selalu berujung pada dilema pada masyarakat. Bayangkan isu ini sudah digulirkan akhir tahun lalu. Hingga beberapa oknum masyarakat menimbun BBM ini yang menimbulkan aksi protes.

Mahasiswa menjadi ujung tombak yang menolak kenaikan BBM bersubsidi. Mereka meminta pemerintah tak menaikkan BBM karena akan berimplikasi dengan inflasi. Yang berarti harga dan jasa dipastikan naik. Mahasiswa juga meminta untuk nasionalisasi sumber daya alam seperti Minyak dan Gas (Migas). Namun pemerintah selalu tak siap dengan berbagai alasan. Analisis penulis, pemerintah sepertinya tersandera dengan asing. Utang pemerintah menjadi mahar yakni asing yang mengolah minyak Indonesia. Selain itu tak ada SDM yang mumpuni untuk mengolah minyak sendiri. Padahal kebutuhan akan minyak memang sangat besar.

Rapat APBN-P 2013 pun semacam menjadi panggung sandiwara bagi elit politik di negara ini. Mereka memainkan lakonnya masing-masing. Elit politik memainkan perannya dengan ciamik. Semua mengaku membela hak-hak rakyat. Penulis tak mau berpolemik siapa yang membela atau membohongi rakyat. Biarlah rakyat yang menilai.

Sekarang adalah tugas kita bersama yakni mencari solusi supaya negara ini dapat mandiri. Dapat mengolah sendiri sumber daya alamnya. Iran dan Venezuela bisa menjadi contoh tentang pengolahan negara dan isinya. Memang butuh pemimpin kuat. Iran mempunyai Ahmadinejad sedangkan Venezuela dulu punya Presiden Hugo Chavez. Mereka mengolah sendiri minyaknya. Semua rakyat mendukung mereka. Tak peduli gertakan dan intimidasi dari negara asing.

Saling curiga mesti dibuang jauh-jauh. Apalagi saling menjatuhkan. Hanya karena materi, sebagai awak bangsa yang beradab rela menjadi kaki tangan asing.

Indonesia harus punya juga satu ideologi pada setiap elemen masyarakat. Mulai dari grass root hingga elemen paling atas yakni pemerintah. Pancasila mungkin bisa menjadi ideologi bersama. Berbeda memang menjadi hak masing-masing rakyat namun mesti juga punya kesamaan yakni ideologi Pancasila. Bangsa Indonesia adalah bangsa besar jadi pasti bisa merdeka sesungguhnya. (*)

Thursday, 13 June 2013

Kegigihan Alam Untuk Cerdas


Hari yang terik melakukan perjalanan menuju Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Kecepatan kendaraan rata-rata di atas 100 km/jam. Itu terlihat dari spedometerku terlihat 90 km/jam. Satu per satu mobil panther dan bis melaju cepat di sampingku. Penulis terpaksa minggir dan menurunkan kecepatan. Karena akan sangat berbahaya jika tersambar mobil, bisa-bisa terpental.

Namun Alam dan kawan-kawannya tak takut berjalan setiap hari. Meski bahaya sering kali mengancam. Ia bersama ketiga temannya tetap gigih mencari ilmu. “Saya ingin menjadi orang cerdas kak,” katanya yang terlihat masih ragu dengan keberadaanku.

Namun penulis juga kasihan dengan anak-anak sekolahan yang tinggal di jalan raya Pangkep ini. Mereka menempuh jarak yang lumayan jauh dengan berjalan kaki. Terik matahari menghujan mereka tiap hari. Seringkali hujan juga menghadang. Namun tak pernah sekalipun hadangan ini menjadi alasan untuk tidak ke sekolah.

Mungkin kisah anak-anak di Pangkep ini tak setragis kisah anak sekolahan di Banten dan daerah lainnya (baca berita terkait), yang mesti bertarung nyawa setiap hari. Namun anak-anak ini juga harus menjadi perhatian utama pemimpin. 

Selanjutnya pemimpin harus merumuskan formula untuk keamanan anak-anak sekolahan. Mulai dari saat mereka menuju dan dari sekolah. Bisa dengan bis atau kendaraan angkutan umum untuk mengangkut mereka. Kita bisa mencontoh SMPN 7 Parepare di Keluarahan LemoE Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare . Pihak sekolah menyewakan atau membelikan siswa di sana angkutan umum. Menurut sekolah, dana berasal dari dana bos ditambah sumbangan orang tua siswa. "Kami membelikan mereka kendaraan supaya mereka datang sekolah," kata Makmur S.Pd, M.M., Kepala Sekolah SMP 7 Parepare waktu itu.   

Penulis sangat kaget mendengar fakta tersebut. Ternyata masih ada sekolah yang sampai berpikiran seperti itu. Mungkin kasusnya beda dengan sekolah yang ada di Pangkep. Namun intinya di sini bagaimana supaya anak sekolahan aman sampai ke sekolah dan tak terhambat dengan permasalahan yang sesungguhnya ada jalan keluarnya. (*)

Tuesday, 11 June 2013

Akademisi Sesungguhnya


Diskusi yang menarik antara penulis dengan salah satu dosen Biologi UNM, Drs. Adnan M.S. Ia juga kandidat doktor ilmu pendidikan pascasarjana UNM. Diskusi ini mengarah pada kegiatan akademisi yang lagi tren sekarang ini.

Diskusi yang berlangsung kurang lebih dua jam itu mengarahkan para pendidik mesti selalu meningkatkan keilmuan. Apalagi buat calon pendidik, seperti penulis, pasti akan sangat butuh idealisme akademisi sesungguhnya. Akademisi yang baik dan benar yakni bersembunyi di balik argumentasi dan keilmuan bukan gelar status.

Tak pernah berhenti untuk membaca, membaca dan membaca. Meski membaca memang adalah kegiatan yang memusingkan dan mengambil waktu yang banyak ketimbang menulis.  

Akademisi sering diartikan sebagai orang yang berpendidikan. Nah...pendidikan di sini sering kali seseorang mengartikannya sempit. Hanya sebatas untuk orang-orang yang terjun pada ranah kependidikan seperti guru atau dosen pendidikan. Namun apakah seseorang yang tidak berlatarbelakang pendidikan memang tak perlu tahu masalah pendidikan. Jawabannya yah pasti mesti harus mengetahui pula. Akan lebih harus lagi kalau benar-benar mendalami ilmu pendidikan itu.

Menjadi seorang pendidik memang berat. Karena akan selalu berhadapan dengan idealisme akademisi dan orang tua bagi siswa. Sering kali idealisme kependidikan pendidik mesti digerus karena telah menjadi ayah atau ibu bagi siswanya. Pendidik selalu berperang dengan batinnya. Apakah akan menjadi pendidik atau orang tua?

Menjadi seorang pendidik sebaiknya melakukan tugas dengan senang hati. Tak mengejar materi apalagi hanya menjadikan profesi ini untuk bersenang-senang, hingga tak mempedulikan hal lain yang memang tugas utama pendidik yakni mengajar, mendidik, melatih dan mengevaluasi.

Selaiknyalah seorang guru di abad milenium ini menguasai ilmu dan metode untuk peserta didik sekarang yang memang sangat berbeda dengan peserta didik masa lalu.

“The 21st century teacher is being harassed by a bugbear of inadequacies in his teaching profession because he lacks many things. This has made functionalism in education a mirage. His laboratory (classroom) is a wasteland; an “open field” devoid of comfortable learning environment to adequately cater for the needs of the burgeoning “hungry” learners. He lacks appropriate methodology to work with in such an unfriendly environment and his scope of teaching does not incorporate modern information and communication.” Ismail O. Muraina, Peneliti yang sangat berpengalaman selama 23 tahun di bidang kesehatan dan pendidikan.

Penulis sangat terhentak membaca artikel ini. Kita sebagai calon pendidik memang terlena dengan alam yang ada di negeri kita. Kita lupa bahwa pesatnya perkembangan teknologi yang berkontribusi besar terhadap keseharian peserta didik sekarang memang membutuhkan penanganan yang juga mesti di zamannya. Maka tak jarang negeri Indonesia selalu hanya akan menjadi konsumen bukan produsen ide atau gagasan pendidikan karena tak merasa membuat sistem pendidikan yang pas dengan latar belakang budaya, adat istiadat serta karakter asli masing-masing daerah.

Indonesia adalah negara yang majemuk, jadi sistem pendidikan di dalamnya juga mesti bervariasi. Bukannya menentang kesatuan dan keutuhan bangsa. Namun mesti pelan-pelan karena setiap daerah sama-sama mempunyai kekuatan masing-masing dan ciri khas. Jadi doktrinisasi tentang falsafah hidup negara mesti disampaikan kepada generasi pelanjut dengan cara yang kreatif, seperti film, dokumenter, pameran kebudayaan dan instrumen yang dekat dengan peserta didik. (*)

Thursday, 6 June 2013

Alasan Tak Melanjutkan Novel "Dear Diary: Aku adalah Pelacur"


Sahabat pembaca yang budiman. Hari ini penulis berkeyakinan untuk tak melanjutkan novel "Dear Diary: Aku adalah Pelacur". 

Sebelum mengambil keputusan krusial ini banyak sekali protes dari pembaca yang sering mengikuti alur ceritanya. 

Namun keputusan ini diambil setelah menerka hasil atau akhir cerita dari novel ini. Penulis tak mau membuat terbaca terlena dengan kisah yang hanya angang-angang dan cerita tak sepenuhnya benari.

Akan sangat berdosa penulis jika akhirnya pembaca menjadikan karangan ini sebagai bacaan yang akan berkontribusi pada kegalauan batin. 


Selain itu penulis sudah tak bisa lagi menulis kisah fiksi karena berbagai alasan.

Pasti pembaca sedih, khawatir dan penasaran dengan kisah selanjutnya. Hingga pembaca selalu menunggu-nunggu kisah ini. Membuat pembaca tak tenang dan menerka-nerka tak jelas. 

Untuk membuat pembaca tenang dalam hidup maka penulis menghentikan tulisan ini. 

Penulis mempersilahkan kepada teman-teman yang ingin melanjutkan kisah ini.Penulis memberikan hak sepenuhnya kepada Anda yang ingin melanjutkan kisah "Dear Diary: Aku adalah Pelacur" tapi tak merombak kisah yang sudah ada. Penulis tak akan meminta  royalti jika tulisan ini berhasil atau dipasarkan di kemudian hari. (*)

Wednesday, 5 June 2013

Asing di Negeri Sendiri



Assalamu alaikum warahmatulahi wabarakatuh

Memulai tulisan ini memang menggambarkan jiwa penulis saat ini. Merasa asing. Merasa seperti alien di negeri sendiri. Nilai-nilai masyarakat timur seakan tergerus di makan oleh arus luar seperti kapitalisme, sekularisme dan liberalisme.

Bahkan nilai-nilai kesederhanaan yang dulu ada di lingkunganku kini terganti dengan dunia megah. Bermegah-megahan. Orang akan malu jika tak punya harta. Malu jika hidup sederhana seperti Nabi Muhammad. Hidup miskin namun kaya iman. Orang-orang akan malu jika tak punya mobil. Semua energi akan dikerahkan untuk semua kesenangan dan gengsi mesti itu sering kali melalaikan ibadah kepada Allah SWT.

Lihatlah zaman dahulu bangsa muslim kalah karena terlena dengan kekuasaan. Sehingga melupakan kesederhaan. Negeri berlabel Islam jatuh karena mengganggap kekuasaan adalah segalanya. Sehingga sama-sama kaum islam saling benci dan berperang. Peristiwa ini menjadi kesempatan bagi musuh islam untuk menghancurkan kejayaan Islam. Lihatlah sekarang sesama umat Islam saling mengaku bahwa golongan-nyalah yang benar.

Penulis tak mau memperuncing perbedaan. Bukankah dari sejak kita lahir sudah mempunyai potensi perbedaan dari segi lingkungan, adat istiadat dan bahasa. Selanjutnya apakah kita akan menjadikan perbedaan yang tak kita kehendaki menjadi dasar untuk saling membenci antar sesama manusia?

Bukankah Islam itu rahmatan lil alamin. Rahmat bagi sekalian umat manusia. Terus mengapa kita yang berada dalam lingkaran Islam saling membenci. Bukankah kebencian itu adalah sifat iblis. Terus jika saling membenci, apa bedanya kita dengan si iblis.

Sekali lagi saya asing di negeri sendiri setelah membaca raut muka teman-teman tentang keislaman.

Penulis merasa iri dengan muallaf yang berada di eropa. Negeri yang selama beberapa abad menjadi musuh Islam pada perang salib. Mereka masuk ke Islam karena mereka mencari dan mendalami agama ini.

Penulis juga tak ingin memaksakan kehendak kepada pembaca bahwa harus langsung merubah semua sendi-sendi kehidupan kepada nafas Islam. Bertahaplah. Karena kalau langsung secara serampangan maka akan menimbulkan kekacauan pada diri. Islam mesti disampaikan seperti angin sepo-sepoi yang menenangkan bukan seperti anging puting beliung yang akan meluluhlantakan apa yang dilewatinya.

Orang-orang Eropa sudah meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang baru kita ikuti seperti punya mobil mewah. Lihatlah di Jerman dan Belanda, orang-orang memilih naik sepeda. Mereka melakukan seseuatu yang mempunyai esensi (berguna). Justru bangsa kita baru memulai aktivitas tak berguna seperti menggunakan narkoba, clubbing, dan hal-hal tak berguna lainnya.

Katanya gaul. Tapi bukankah ini perbuatan sia-sia dan terkesan membodohi diri sendiri. Sekali lagi saya merasa asing di negeri sendiri.

Maka pencarian kesederhanaan itu ada pada Islam. Agama moyangku. Yah...aku mendapatkan ketenangan setelah melakukan ibadah salat. Agama yang sesuai dengan ilmu pengetahuan, kiblat orang-orang barat.

Kalau orang luar Islam dengan senang hati masuk agama ini, mengapa kita malah berusaha untuk meninggalkan ajaran dan perintah Allah SWT? Wassalam. (*)

Monday, 3 June 2013

Perang Batin (2)


Beberapa hari ini perasaan sangat tak karuan. Bukan karena masalah akademik, keluarga dan hubungan dengan seseorang. Tapi masalah hubungan dengan sang pencipta. Instropeksi diri selalu mengarahkan untuk melepas aktivitas keduniawian. Entahlah perasaan apa ini yang jelas membuat khawatir dan tak tenang.

Bertanya dan mengeluh kepada orang tua dan teman-teman rasanya tak akan menyelesaikan kegalauan dalam diri. Pasalnya ini menyangkut keimanan. Perasaan ini muncul jumat lalu setelah berdiskusi tentang rencana kedepan dengan teman kuliah. Diskusi berlangsung selama satu jam lebih. Ia akan menjadi pengajar di sekolah sedangkan aku akan menjadi pebisnis. Dia akan berencana menikah tahun 2015 sedangkan aku tergantung izin dan petunjuk pencipta. Maka aku mengajukan sebuah pertanyaan kepada teman. “Setelah kita menikah, mempunyai uang banyak, punya keluarga dan semua kesenangan duniawi kecil maka setelah itu apa?” Ia menjawab “Menjalani semua itu sampai tua,” Aku kembali bertanya “bagaimana dengan urusan kelak di masa setelah mati? Bagaimana persiapanmu, aku masih tak punya nih.”

Aku dan teman terhenyut sebentar dan berpikir setelah kita semua keinginan dunia, harta, takhta dan wanita maka apakah hal itu akan berkontribusi dengan kehidupan akhirat. Kehidupan yang sebenarnya. Tempat kembali kita kepada Dia. Apakah dengan mengejar kekayaan dan ketenaran akan membuat ridho Allah akan kita gapai. Dari semua referensi yang telah aku baca maka urusan dunia mempunyai peran yang sangat kecil untuk urusan akhirat. Ini alasan pertama.

Selanjutnya aku menyaksikan sebuah film dokumenter dengan judul ‘Eropa Menuju Islam’. Perkembangan orang-orang yang mendapat hidayah dan menjadi muslim sangat banyak. Bahkan agama nenek moyang di negara-negara eropa perlahan-lahan ditinggalkan oleh umatnya. Semuanya karena mereka mendapat semua jawaban kebimbangan dan pertanyaan hanya di kitab Al-Quran. Dan ada kata-kata dari seorang muallaf Yunus (Matthies Ojeda Meger) dari Jerman yang kurang lebih seperti ini, ” Bagi saya muslim yg ada di jerman, maroko, dan prancis adalah muslim sejati karena kami yg memilih islam sedangkan mereka yg di indonesia saya tidak paham mereka hanya mengaku islam tapi tidak pernah mencari dan mendalami islam mereka hanya tahu sholat di hari jumat dan mendengarkan khotbah tanpa paham secara kaffah (menyeluruh),” ucapnya.

Aku juga termasuk Islam keturunan. Semua keluargaku adalah Islam keturunan. Mungkin hanya kakek moyangku yang Islam Muallaf. Ia mendapat hidayah dan mengambil jalan islam dengan nilai-nilai kebenaran di dalamnya.

Selama ini aku mengaku Islam. Namun banyak syariah dan ketentuan dalam agama ini aku langgar bahkan sengaja meninggalkannya. Maka layakkah aku disebut Islam?

Mungkin lingkungan yang membuatku menganggap bahwa itu tak masalah. Karena orang-orang di sekitarku juga seperti itu. ‘Hati’ memang selalu berkata bahwa perbuatan itu salah. Dan untuk membuktikan bahwa itu salah bagaimana, aku belum tahu.

Maka berbekal atas pembuktian bahwa Islam yang aku anut sekarang masih jauh dari nafas din ini sesungguhnya. Sekarang pencarian masih berlangsung. Mudah-mudahan Sang Pemberi Petunjuk memberikan jalan yang terbaik. Ini alasan kedua.

Selama hidup 23 di dunia ini, jiwa Islam yang aku rasakan tak bertambah. Justru makin bobrok. Lihat saja, dulu rajin ke masjid shalat berjamaah. Lah...sekarang cuman hari Jumat. Dulu puasa senin dan kamis tak pernah absen. Lah sekarang justru sering berbuat tak sopan dengan makan di depan orang puasa. Dulu khatam Al-quran sebulan sekali. Lah...sekarang hanya memandang dan membawanya kemana-mana ibarat jimat. Pokoknya semua mengarah pada hal-hal kemunduran.

Dan semua itu karena aktivitas duniawi yang terlalu banyak.

Inilah mungkin semua alasan, sehingga kegalauan semakin saja dalam dan membuat merasa bersalah kepada Pencipta, Allah SWT. Merasa menjadi penkhianat. Akhirnya aku semakin berpikir untuk meninggalkan semua aktivitas yang menyita urusan dengan Allah SWT. Secara perlahan-lahan. Mudah-mudahan Allah SWT menuntunku ke jalan yang benar. Jalan yang Ia ridhoi. Amin. (*)


Saturday, 1 June 2013

Perang Batin


Beberapa hari yang lalu penulis tercengang membaca berita tentang meninggalnya putera ketiga Mantan Panglima TNI Jend (Purn) Wiranto, Zainal Nurriski (23) di Afrika Selatan. Putra bungsu Ketua Umum Partai Hanura ini, meninggal dunia di Johanesburg, Afrika Selatan, Rabu 29 Mei 2013. Dia menghadap Yang Kuasa saat sedang menuntut ilmu agama di Perguruan Tinggi Agama Islam Darul Uloom Zakariyya, Afrika Selatan.
Kita tak akan membahas tentang mengapa dan bagaimana cara meninggal anak Wiranto. Tapi kita akan membahas bersama tentang sosok Zainal yang juga seorang pen-dakwa. Ia masih muda. Seumuran dengan penulis. Tapi dia berani dan mau mengambil jalan dakwa. Jalan untuk menginformasikan agamannya. Jalan mencari Tuhan.

Setelah lepas dari bangku SMA. Inal, sapaan akrabnya, sudah tertarik untuk berdakwa. Sejak itulah ia memperdalam ilmu islam hingga ke Arab, India dan Pakistan. Hingga ia ikut jamaah Tabligh untuk menyiarkan agama islam.

Setelah membaca beberapa artikel mengenai Inal, maka penulis berpikir dan berdiskusi dengan ‘hati’.  Sejauh mana peran saya untuk kehidupan akhirat? Apakah sekarang saya sudah ada di jalan yang benar? Apakah setelah mendapatkan uang, rumah, motor akan memberikan kontribusi untuk akhirat? Apakah nikmat Allah sudah saya balas atau setidaknya berniat untuk membalas meski mustahil membalas nikmat-Nya? Apakah dengan aktivitasku sekarang adalah pro pencipta atau malah menjadi pengkhianat atas janji sebelum lahir? Entahlah.

Namun satu yang pasti  saya meyakini masih jauh dari kategori membela agama. Nafsu masih dominan. Menyelimuti hampir semua aktivitas keseharian. Persoalan kedekatan dengan pencipta hampir tak ada. Hampir semua aktivitas hanya untuk dunia, dunia dan dunia. Yang fana. Yang hanya persinggahan. Aktivitas menuju akhirat hanya sejam dalam sehari. Padahal justru aktivitas akhirat yang mesti tinggi.

Pertarungan batin antara memikirkan dunia dan akhirat berkecamuk. Memang saat sekarang pekerjaan dan urusan dunia sangat mendominasi. Selain kebutuhan mendesak, selain itu dunialah yang kita rasa sangat nyata. Untuk urusan akhirat seperti khayalan yang tak tentu ada. Kita berpikir akhiratlah yang fana. Namun pemikiran tentang akhirat tak akan datang tanpa kita ilmui. Ibarat bermain biola. Orang yang tak berilmu akan memainkannya dengan suara fals dan tak enak. Sedangkan orang yang berilmu akan memainkan biola dengan suara merdu dan tak jarang membuat orang terhanyut hingga ingin memainkan biola juga.

Kita belum tahu ilmunya sehingga sekarang akhirat tak perlu. Malah sering kita anggap adalah sebuah omong kosong. Namun apakah kita sudah membaca semua referensi atau berdiskusi dengan penggiat atau pemuka agama atau orang yang pro akan adanya akhirat sebelum mengatakan pro atau kontra. Jangan-jangan cuman pikiran atau cuman kata-kata dari orang yang juga kontra terhadap akhirat. Bukankah sebelum mengambil keputusan kita mendengarkan atau membaca pihak pro dan kontra?

Orang-orang yang berada pada jalur dakwa seperti telah mendapat ilham tentang kematian dan kehidupan setelah mati atau akhirat. Sehingga mereka sangat getol di jalan tersebut. Bahkan konsekuensi mati adalah hal yang mereka inginkan jika membela agama atau keyakinannya.

Mereka rela meninggalkan semua kesenangan. Mobil mewah. Rumah megah. Kehidupan yang mumpuni. Mau ini dan itu selalu ada. Namun saya berpikir mereka melepaskan hal itu dan membelanjakan harta mereka di jalan Allah hanya untuk satu kata. Keridhoan Pencipta. Hal yang abstrak. Yang tak semua orang percaya. Namun bukankah agama itu abstrak.

Penulis pernah mengikuti kajian jamaah Tabligh sekali. Hasilnya memang membuat penulis sangat takjub. Mereka berani mengajukan diri secara suka rela khuruj (keluar berdakwah) di jalan Allah. Meninggalkan semua aspek keduniawian.

Khuruj versi jamaah Tabligh biasanya dilakukan selama empat bulan untuk seumur hidup, 40 hari pada tiap tahun, tiga hari setiap bulan, atau dua kali berkeliling pada tiap minggu. Yang pertama dengan menetap pada suatu daerah dan yang kedua dengan cara berpindah-pindah dari suatu daerah ke daerah yang lain.

Penulis mulai berpikir untuk berada di jalur membela dan hidup untuk Allah. Bagaimana dengan anda? Wassalam. (*)