Indahnya Berbagi Kisah

Hari ini cukup menyenangkan meski tidur tak cukup untuk orang normal. Cuman tiga jam. Namun semua terbayar setelah membawakan materi di LPM Jiwa Pena FIP UNM. Bukan karena mereka cerdas bertanya atau lihai dalam persoalan jurnalistik. Namun saya melihat aura optimis dan antusias dari mata mereka dalam membangun lembaga pers ini. Kita lihat saja aksi mereka selanjutnya. Saya pun berjanji akan tetap memberikan bantuan jika mereka butuh. Tapi terkecuali untuk masalah bisnis.

Saya juga tak tahu mengapa ingin membantu mereka. Mungkin sama-sama aktivis pers. Apalagi mereka rela untuk tak beristirahat di rumah atau kos hanya untuk mengikuti kegiatan yang mungkin hasilnya lebih banyak dinikmati oleh pembaca. Karena menjadi wartawan ibarat seorang penyampai risalah. Bisa membuat perubahan dan impact yang memberi nilai dan pesan kepada pembaca.

Mungkin menjadi wartawan pemula memang sangat berat. Saya juga pernah merasakannya. Seorang wartawan pemula meski aktif pada kegiatan meliput yang biasanya mendapat respon negatif dari narasumber. Intinya selalu di ujung tanduk. Kalau meliput berita kontrol sosial maka pasti kena semprot dari narasumber yang tak lain adalah dosen. Jika tak meliput maka akan parah lagi. Karena pasti kena murka atau sekalian dipecat oleh pemimpin redaksi. Maka sering kali dilema-lah si ‘jabang wartawan’. Banyak juga yang tak tahan dengan pola pengkaderan wartawan kampus hingga mesti angkat kaki. Atau yang bertahan akan ‘bebal’ dengan cacian narasumber hingga menjadi wartawan yang berjiwa militan dan tak takut untuk mengungkap kesalahan para narasumber atau sistem birokrasi. Tentunya melalui peningkatan kemampuan melalui jalan diskusi, latihan keras, membaca, dan belajar terus untuk kualitas tinggi. Seorang wartawan kampus yang tetap eksis karena mempunyai idealisme masing-masing. Yakni mengungkap kemungkaran. Memang sangat susah. Apalagi banyak resikonya, seperti teror, ancaman pemukulan, atau nilai tertahan hingga ancaman drop out. Namun saya selalu yakin wartawan kampus akan tetap menjada ke-ideal-annya dengan tetap berpegang pada mazhabnya yakni kebaikan dan kebenaran. Terserah anda menafsirkan kebaikan dan kebenaran itu apa.

Saya pun menyarankan kepada wartawan kampus LPM Jiwa Pena untuk tidak berkarya hanya karena dana yang terbatas. Maka portal berita pun saya sarankan. Karena memang tak butuh uang banyak untuk biaya produksi. Nah...sekarang tinggal membuat media baru ini eksis. Menjadi media eksis memang sangat sulit. Dinamika pengurus dan lingkungan kampus memang sangat berperan. Namun selama masih ada keyakinan dalam sanubari setiap pengurus maka saya yakin tak hanya eksis, menjadi LPM besar dan diperhitungkan akan sangat terbuka.


Sekian dulu untuk berbagi kisah hari ini. Pesan saya, jangan pernah ragu untuk melangkah. Tetap optimis. Kalau anda berhasil hari ini maka jasa teman-teman LPM Jiwa Pena akan selalu teringat di masa depan. (*)



 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android