DEAR DIARY: AKU ADALAH PELACUR (15)


Aku akhirnya berani bertanya kepada ibuku. Aku mulai dengan bertanya ringan dan curhat kepada ibu. Aku menceritakan hubungan persahabatanku dengan Ibnu. Ia sangat penasaran hingga tak jarang menggodaku. “Kamu jadikan aja Ibnu sebagai pacar, kamu dekat sekali dengan dia yah,” goda ibu.

Tawa pun pecah antara kami. Obrolan perempuan yang sangat cair. Kami ibarat dua sahabat. Aku pun mulai bertanya mengenai masa kuliah ibu. Dia memulai bahwa dia dulu mempunyai teman yang sangat baik dan akrab dengannya. Raya dan Erni adalah sahabat ibu. Ia banyak bercerita tentang kisah sedih dan piluh dengan kedua karibnya. Tak ada yang meleset dari buku diary-nya. Semuanya benar. Aku ibarat membaca dua kali kisah ibu. Mulai dari kisah tragis Erni yang sampai sekarang menghilang, Cerita manis KKN di Parepare, hingga bertemu dengan ayah.

“Bagaimana dengan kisah cinta ibu. Siapa yang berhasil mencuri hati ibu?” celetupku.

Muka ibu memerah dan terdiam. Kemudian air menetes di ujung mata ibu. Tertunduk. Aku malah ikut sedih. “Mengapa ibu menangis? apa Lisa melukai hati ibu?” tanyaku cepat.
“Maaf bu...karena aku, ibu sedih,”

“Tak apa nak...aku hanya mengingat masa sedih dulu. Masa yang ingin aku buang jauh-jauh. Namun aku kembali mengingat memori kelam itu nak,” ungkap ibuku.
“Memang memori apa yang ibu ingin hilangkan?” tanyaku.
“Baiknya, kamu tak tahu nak. Biarlah aku simpan untuk diriku sendiri. Biarlah perih ini aku tanggung karena ini adalah jalan hidupku. Aku tak akan pernah menceritakan kepada anak-anakku. Termasuk kamu. Biarlah aku dan ayahmu yang tahu!” tutup ibu.

Ibu pun berlalu. Tak sempat aku menanyakan teman ibu A.B. Nasution. Namun aku pun menghentikan langkah ibu. “Bu...ayah Ibnu minta salam pada ibu namanya A.B. Nasution,” teriakku.

Air mata ibu semakin deras saja. Aku sudah mengira bahwa ayah Ibnu ada kaitannya dengan masa lalu ibu. Kisah yang mungkin siapapun tak ingin diketahui meski itu orang terdekat. Tapi siapa nama ayah Ibnu. Aku juga tak tahu. Kini kuberanikan bertanya kepada Ibnu. Mungkin dia tak akan curiga.

Nomor telpon Ibnu aku cari di smartphone-ku. Langsung saja aku telpon dia dan mengobrol tentang kuliah supaya dia tak curiga. Lama aku mengobrol, mungkin sekitar 30 menit. Akhirnya aku masuk ke pembahasan kabar ibu dan ayahnya.

“Ibnu, gimana kabar ayah dan ibumu?” tanyaku santai.  
“Baik. Ibu selalu menanyakan kamu, kata dia kamu sering-sering berkunung ke rumah,” jawab Ibnu.
“Aku mau tanya, memang apa sih nama depan ayahmu, pakai disingkat-singkat malah, Andi Muhammad Nasution yah? hehehe,”
“Oh... memang apa sih yang penting, kamu tanya-tanya segala, namanya depannya tuh, Arif Muhammad Nasution. Ayah asli orang Parepare,” jawabnya curiga.

Hala....ha... Arif...memang ayahku yang sekarang bukan Arif yah. Padahal nama ayahku juga bernama Arif. Apakah Atif yang sekarang bukan yang diceritakan ibu dalam diary-nya. Aku makin bingung saja dengan kisah ini. Aku jadi frustasi dengan kisah ibu. Oh Tuhan apa yang terjadi dengan keluargaku. Apakah aku harus mendengar kata ibu yang tak mengetahui kisah masa lalunya. Masa kelam perjalanan seorang perempuan yang aku sebut ibu.

Bersambung DEH....               


 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android