37 TAHUN MERAJUT KATA



Bulan ini menjadi momen paling penting untuk Lembaga Penerbitan dan Penyiaran Mahasiswa (LPPM) Profesi UNM. Yah…hari jadi atau milad yang ke tiga puluh tujuh. Usia yang cukup dewasa untuk sebuah lembaga kemahasiswaan. Lembaga yang tetap eksis, meski sistem pemerintahan telah berganti dari orde baru ke zaman reformasi. Tetap mempertahankan idealisme berlembaga meski zaman yang dianggap refresif tak ada lagi. Tapi inilah lembaga yang tak pernah tergerus zaman. Sahabat pembaca  pasti setuju dengan stagmentku.

Begitu banyak orang yang datang dan pergi. Begitu banyak kreasi yang dilepas ke pembaca. Namun karakter lembaga ini tetap saja sama. Berpihak kepada kebenaran. Khususnya ketidakadilan yang membuat orang-orang merasa susah.
Keberpihakan Profesi pada kebenaran seringkali membuat orang-orang tak senang. Murka. Meneror. Hingga melakukan tindakan intimidasi. Namun ini semua adalah konsekuensi yang tak bisa di-delete. Dihilangkan. Harus diterima dengan lapang dada. Karena tak mudah menegakkan kebenaran.


Mungkin terkesan sangat naïf. Bak pahlawan kesiangan. Masih berbicara kebenaran di dunia yang pragmatis sekarang ini. Pembela kebenaran. Namun inilah Profesi. Tak segang bersuara melalui pena. Tetap setia dengan idealismenya. Faham-nya. Mazhab-nya. Orang-orang yang pernah bergabung di lembaga kuli tinta ini pasti paham betul tentang nilai-nilai yang Profesi anut.


Kemarin, 5 Mei 2013, menjadi bukti eksitensi Profesi selama 37 tahun. Ibarat bahtera yang tetap tegar mengarungi lautan meski terjangan ombak setiap saat makin tinggi. Sedikit bercerita tentang masa-masa di lembaga ini. Saya masuk tahun 2008. Masih maba. Sekretariat masih di berada di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Parangtambung. Kini PKM sudah usang akibat relokasi 2009 silam. Banyak tumbuhan yang hidup di dalam gedung ini. Inilah mungkin satu-satunya gedung yang tak terpakai di kampus orange. Memang sangat nikmat ber-sekret di PKM. Setiap malam kita disajikan sebuah tontonan lembaga kemahasiswaan. Latihan tari UKM Seni selalu menghibur kami di lantai dua. Meski tanggapan anak-anak UKM Seni selalu sama, “Anak Profesi datar yah, selalu serius, tak pernah tersenyum,” kata salah satu  pengurus UKM Seni saat berdiskusi denganku. Senyum yang selalu mereka umbar selalu ditanggapi datar oleh kami (pengelola LPPM Profesi UNM) saat itu. Mungkin aktivitas UKM Seni adalah hiburan untuk kami namun mereka tak menyadarinya. Maklum stres meliput sangat tinggi kala itu.


Selain itu sajian olahraga bulutangkis tak pernah absen. Dosen dan mahasiswa saling bercengkrama. Melupakan sejenak kontrak kuliah. Sekarang masih ada tidak tempat bercengkarama antara dosen dan mahasiswa?


Setahun kemudian UKM harus hengkang dari PKM. Alasannya, kampus saat itu tak aman. Dengan berbekal PKM ingin direnovasi, para pimpinan kampus ini menggusur para penghuninya keluar. Tak ada yang tersisa. Hasilnya sekarang UKM tersebar di segala penjuru. Dan PKM menjadi gedung tua yang tinggal menunggu runtuh. Namun dalam hati pengelola Profesi UNM selalu terpatri bahwa PKM bukan menjadi alasan untuk tidak berkarya. Tak berkreasi. Tetap menyuarakan kebenaran dan membela para civitas yang tertindas.


Pengelola Profesi selama ini patut diberi jempol. Mereka rela tak masuk kuliah untuk mengejar sebuah kebenaran. Mereka rela terintimidasi hanya untuk memberitahukan kepada pembaca bahwa ada ketidakadilan di sisi lain kampus. Rela tak tidur untuk memenuhi deadline. Semua itu hanya untuk pembaca.
Akhirnya, selamat berulang tahun untuk LPPM Profesi UNM. Tanpa Anda kami belum lengkap. Tetap idealis dan membela kebenaran dan ketidakadilan. Usia 37 tahun adalah usia yang menjadi pertanda bahwa Profesi mesti bekerja secara profesional dan konsisten. (*)


 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android