DEAR DIARY: AKU ADALAH PELACUR (13)




Hari berganti menjadi malam. Arif dan rombongan masih saja belum datang. Kami sekeluarga sudah gusar. Ketakutanku semakin saja bertambah. Kabar mereka juga belum sampai pada kami.

Namun semua kegusaran sirna setelah mobil berhenti berderu di depan rumah. Waktu sudah menindih pukul 23.30, Arif dan keluarga sudah sampai. Tak terjadi sesuatu yang buruk pada mereka. Mereka tertahan macet yang sangat panjang. Karena kecelakaan di jalan poros Makassar-Parepare. Oh Tuhan…aku sangat bersyukur atas pertolonganmu kepada kekasihku. 

Prosesi lamaran pun berlangsung hikmad meski sudah larut. Akhirnya Arif akan menjadi pendampingku. Lelaki yang baru kukenal. Namun sangat saying padaku. Aku nyaman bersama dia.

Berselang sebulan kami menikah. Aku dan Arif langsung pamit kepada orang tuaku. Kami menempati rumah yang telah Arif beli. Rumahnya cukup luas. Hingga dua keluarga kecil, seperti kami, bisa menempati rumah ini. Istana kami. Akan menjadi tempat bagi anak-anak kami nanti.

Saat ini aku masih tinggal di rumah. Maklum ijazahku belum aku dapat. Sedangkan Arif kembali beraktifitas dengan kerjanya. Menjadi seorang konsultan bangunan. Parepare-Sungguminasa ia jalani setiap hari. Maklum proyeknya masih banyak di kota kelahirannya. Aku kebanyakan tinggal di Sungguminasa.

Mengurus kepentingan rumah. Hidup kami sangat bahagia. Ia menjadikanku sebagai seorang yang paling bahagia. Teman-temanku iri terhadap hubungan kami berdua. Meski Arif jarang tinggal di rumah tapi komunikasi kami sangat lancar. Harmonisasi ini terjadi hingga akhirnya anak pertama kami lahir setahun kemudian. Seorang anak laki-laki. Lucu dan tampan. Mirip ayahnya. Namun Inilah kebahagian yang terakhir yang aku rasakan.

Setelah kami mempunyai anak. Masalah datang satu demi satu. Menggoyang janji kami. Arif pun sangat jarang tinggal di rumah. Dia lebih memilih kerjanya. Menghabiskan waktu demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Aku malah berpikir ada orang ketiga antara kami. Seorang perempuan yang masuk ke tengah-tengah rumah tangga kami. Mengalihkan perhatian suamiku. Mengambil rasa cinta Arif untuknya.

Aku sudah lama tak merasakan cinta Arif. Cinta yang ia curahkan padaku kini telah lama menghilang. Aku tak mengatahui apa sebabnya. Mungkin setelah kami punya anak, rasa cinta antara kami berdua telah hilang. Kini hanya ada tanggung jawab.

***

Aku tak menyangka ibuku pernah merasakan sebuah penderitaan dan ingin berpisah dengan suaminya di masa lalu. Ibu tak pernah menceritakan kepada kami. Aku baru mengetahui dari diary ini.

Aku kembali menyimpan diary ini di tempatnya semula. Tempat yang sama. Andaikan ibuku kembali mencari maka dia tak curiga bahwa aku pernah membacanya.

“Lisa…ada ibnu mencarimu. Katanya penting,” teriak ibu.
“Iya bu…aku datang,” 

Tak sempat aku menyimpan diary, ibuku datang. Suara decitan papan semakin mendekat. Ia sudah ada di depan gudang. Bagaimana ini. Aku pasti ketahuan. Ibuku pasti akan marah besar padaku. Karena aku telah membaca rahasianya. The top secret. Kenangan yang tak ingin ia katakana kepada siapapun. Termasuk aku, anaknya.

 Bersambung lain kali…

 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android