Apes!



Sungguh apes bulan ini. April kelabu. Kelam malah. Mulai dari seminar hasil yang amburadul disertai ‘pembantaian’ dengan cecaran pertanyaan dosen penguji. Si black acer ‘sakit’, entah kapan kembali sehat seperti sedia kala. Hingga kehilangan kunci motor yang cuman satu-satunya.

Sedikit bercerita tentang seminar hasil skripsi. Hari itu Rabu tepatnya 3 April. Aku sudah menyiapkan seminar ini seminggu sebelumnya. Setelah undangan out, segeralah kusebar. Maklum pembagian undangan sangat mepet cuman tiga hari. Waktu itu ada hari libur. Parahnya lagi dosen pengujiku termasuk dosen idealis. Tak segang-segang mencecar dengan kalimat pedas. Hingga orang sepintar apapun pasti akan tegang. Nah…ketegangan inilah yang sering kali mem-buntu-kan alur berpikir. Apalagi hasil penelitianku sangat jujur namun tak dilengkapi justifikasi akademik yang mumpuni. Hasilnya sudah tertebak. Lain pertanyaan, lain pula jawaban. But over all semuanya lancar. Meski ada pelajaran berharga yang sangat-sangat patut diingat untuk masa depan. Teman-teman yang akan selesai akan merasakan nanti. Saran…banyak belajar. Hilangkan ketegangan. Terakhir…ingat pesan dosen pembimbing, mesti belajar menggunakan otak kanan.

Ternyata apes-ku ini tak berhenti di sini saja. Apes yang kedua yakni laptop yang dua tahun belakangan ini selalu bersamaku, rusak. Laptop ini berulah dua hari sebelum seminar hasil. Parahnya lagi laptop ini rusak ketika si empunya kere. Jadi pas banget deh apes-nya. Hingga tulisan ini diturunkan si black acer-ku masih terkatung-katung di rumah service. Entah kapan bisa beroperasi lagi. Katanya sih bank datanya (baca: hardisk) rusak. “Murni hardisknya rusak kak,” kata junior yang banting setir menjadi teknisi laptop-ku.

Dapatlah anda bayangkan bagaimana keadaanku seperti ini. Laptop rusak saat menjelang seminar hasil. Suatu langkah menuju gelar sarjana. Pusing. Karena data-data penting ada pada bank data itu. Bahkan data penting seperti project design,  data kuliah, foto-foto nostalgia, hingga barang kramat untuk mahasiswa (skripsi) lenyap. Praktis… peluang uang tak ada dan urusan akademik pun terluntah-luntah. Back to the zero.

Maka tak heran hingga saat ini aku belum bisa mendaftar untuk ujian akhir skripsi. Selain utang yang menumpuk di jurusan, skripsi juga belum kelar. Banyak perbaikan dan referensi yang belum mumpuni.

Apes yang ketiga memang tak terlalu menyakitkan seperti yang di atas. Kunci motorku hilang entah kemana. Tak ada uang  lagi untuk membeli kunci baru yang nilainya ratusan ribu. Memang sudah waktunya aku ‘bercerai’ dengan kunci ini. Namun aku juga sadar bahwa ini adalah ujian. Mungkin jika kunci motorku tak hilang, maka semua daerah akan aku sambangi yang berpotensi buruk untukku. Mungkin ini ujian kepadaku supaya tak teledor menyimpan barang penting.

Memang selama ini jalanku menghadapi kehidupan kampus dan sehari-hari tergolong lancar-lancar saja. Apapun nilai yang aku inginkan selalu terkabulkan. Tentunya aku belajar namun campur tangan Allah-kan yang memuluskan itu. Begitu pun si black acer selalu on fire. Menemani malam-malamku dengan seabrek project dan tugas kuliah. Motorku pun selama ini setia mendampingi setiap langkahku. Ia tak pernah rewel. Tak pernah membuatku pusing. Bahkan motor ayahku yang lebih baik dari segi style dan performace tak mau aku pakai karena kesetianku kepada Rebi (baca: Revo biru).  Aku hanya bilang, “Kalau Rebi tak bisa lagi bergerak maka terpaksa aku ganti.”

Suatu keberuntungan dan kesyukuran tak terkira karena ada sahabat kampus yang tak berhenti untuk mendukung dan memotivasi untuk bangkit. Move on. Bangkit dari masalah yang sangat curang. Orang tua memang sempat marah namun tetap memberikan sokongan motivasi.

Aku akhir mengumpulkan serpihan-serpihan semangat yang masih tersisa. Aku rangkai menjadi mobil balap formula satu untuk mengejar ketertinggalan. Memakai bahan bakar semangat orang yang kucintai. Orang tua dan keluarga besarku tentunya. Juga seorang perempuan yang memberiku sebuah inspirasi. Bestfriend. Meski sekarang dia cenderung berbeda belakangan ini. Mungkin masalahku ini membuat tak perhatian dan cumin berusaha menyelesaikan masalah sendiri. Masalah perteman dan persahabatan aku coba selesaiakn sendiri. Tapi aku selalu sadar bahwa begitulah perasaan sahabat satu ini.
Aku tak bisa down lagi. Karena nasib dan masa depanku ditentukan jalan yang aku ambil saat ini. Aku juga berpikir bahwa letupan semangat teman-teman adalah kunci untuk membuka potensi semangat utama dalam diri. Semangat yang tak pernah habis. Selalu ter-baru-kan. Selalu ada. Asalnya dari Allah. Sebuah anugrah yang tak tertandingi oleh apapun. Thanks Allah. Kamu selalu menjadi spiritku. Tak pernah meninggalkanku. Apalagi menjatuhkan aku.

Aku berpesan kepada sahabat pembaca, sahabat yang tak pernah meninggalkanmu adalah DIA. Siapa dia? Anda pasti tahu bahkan sangat tahu ketimbang aku. Karena perspektif kita memandang Dia berbeda. Keep Spirit dan Keep healty. (*)



 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android