Revolusi, Siapa Takut! (2)



Hari ini kita akan kembali membahas mengapa revolusi sangat diperlukan di Negara ini. Saya dan Anda yang membaca artikel ini juga sepakat bahwa pejabat yang berkhianat adalah alasan revolusi perlu dilakukan. Pejabat yang sering mengkhianati rakyat sering kita sebut sekarang KORUPSI.

Korupsi dinegara ini bagaikan babi hutan yang tak pernah kenyang. Memakan apa saja yang di depannya tak peduli sumbernya dari mana. Apakah ini berakibat buruk untuk orang lain atau tidak.

Pagi ini terlihat sebuah artikel di Harian Kompas (edisi Minggu, 17 Maret). Kompas membahas tentang perlawanan mural dan grafiti di Kota Jakarta. Iya seniman di sana menggambari tembok dan sudut-sudut jalan ibu kota dengan kata-kata perlawanan terhadap korupsi. Kata-kata yang paling berkesan adalah ”Semoga Ayah Ibuku Tidak Korupsi...”. Para seniman mural ini mengemas revolusi dalam bentuk gambar dan kata-kata pengingat kepada masyarakat. Menurut salah satu seniman, Aris Budiono Sadjad pelaku korupsi itu ibarat celeng. “Selalu gagah, tak pernah takut, malah diperlakukan seperti selebritis. Semua itu kan terjadi dihadapan kita?”

“Dan ini memuakkan sekali, sudah seharusnya dilawan.”

Apa yang dilakukan seniman mural dan grafiti di Ibu Kota Jakarta memang adalah bentuk kekecewaan terhadap kebiadaban yang dilakukan oleh pejabat yang korup. Meraka tak tahan lagi untuk protes. Untuk menyampaikan perlawanan. Memulai revolusi dengan mengkritik. Mungkin nanti akan lebih brutal lagi.

Saya sangat setuju dengan cara hidup Paus Fransiskus I, paus yang baru-baru terpilih. Ia sangat kekeh melawan korupsi dan ketidakadilan di Argentina. Ia pun memilih hidup sederhana. Ia tak menggunakan fasilitas mewah sebagai uskup agung.

Cara-cara pemimpin sederhana memang sudah ada sejak dulu. Nabi besar Muhammad SAW juga lebih memilih hidup sederhana. Ia juga berdoa supaya tetap miskin dan berkumpul dengan orang-orang miskin.

Idealnya seseorang yang menjadi pemimpin dapat membuat warganya sejahtera baik iman dan duniawi. Seseorang dengan mudah beribadah. Tanpa takut. Masyarakat yang ia pimpin mendapatkan kerjaan yang cukup untuk menghidupi keluarganya.

Tapi lihatlah pemimpin sekarang. Begitu naik pasti lupa dengan  masyarakatnya. Memilih kehidupan mewah. Tak peka bahkan tak peduli dengan nasib warganya. Tersandera dengan pemilik modal saat calon pemimpin kampanye. Jika tak punya uang maka jalan mencuri uang rakyatlah jalan satu-satunya. Korupsi.

Kita tak tahu sampai kapan kegiatan ini akan berlangsung. Selama Tuhan tak memberi teguran maka selama itu pula praktik ini akan ada di diri manusia. (*)



 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android