Friday, 29 March 2013

Dear My Life Partner



sumber gambar: http://www.kampungtki.com
Mukadimah
Menulis tulisan ini memang terkesan lebay. Galau. Parahnya lagi, mungkin dianggap terlalu berangan-angan. Namun aku beralasan menurunkan tulisan ini karena seseorang pasti butuh kompas. Petunjuk arah untuk menemukan pendamping hidup atau bahasa sastranya si tulang rusuk yang hilang.

Maka dari itu, kita juga perlu membuka hati.  Memberikan informasi kepada siapapun. Seseorang yang mungkin cocok dengan karakter kita. Karena jodoh boleh siapa pun. Boleh di mana pun. Boleh kapan pun bertemunya. Tak peduli sekarang. 10 tahun lagi, atau bahkan 30 tahun lagi. Masa uzur kita. Saat diri menganggap tak punya harapan lagi bertemu dengan sang kekasih hidup. Saat rasa pesimis sudah tertanam dalam diri. Maka tiba-tiba dia datang. Waktunya pun sekejap mata, si dia sudah menjadi istri atau suami kita. Memang tak ada yang bisa menebak dengan benar siapa, kapan dan dimana jodoh itu. Namun yang jelas jodoh yah mesti dicari.

***

Dear Jodohku

Memulai tulisan ini aku bertanya-tanya kepada diri sendiri. Kamu lagi bikin apa sekarang? Kamu sehat? Kamu memikirkan aku tidak? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang ingin aku ungkapkan.

Aku berdoa kepada Allah SWT, supaya kamu diberikan kenikmatan dan rahmat dalam menjalani kehidupanmu. Aku sangat kangen bertemu denganmu. Namun rasa kangen ini aku bendung. Hingga jika ketemu dengan kamu ingin kutumpahkan semua rasa ini. Sampai kamu merasa wanita paling bahagia. Paling berarti di dunia kita bersama. Dunia terasa hanya milik kita bersama. Mungkin terasa terlalu berangan-angan. Namun yah ini mungkin cita-citaku bersama kamu. Sebuah ekspektasi hubungan kita berdua.

Aku selalu merindukan rumah kita nanti berada di tepi pantai. Rumah ini berada di atas tebing. Pemandangan langsung menghadap ke laut. Laut yang masih bersih. Bukan tempat wisata seperti di Tanjung Bira, Bulukumba. Di sekitar rumah kita berdiri sebuah yayasan pendidikan. Yayasan ini punya sekolah. Sekolah untuk anak-anak yang tak mampu. Tak mampu biaya maupun akses pendidikan.

Aku bekerja sebagai pengajar. Mengajar anak-anak ini supaya lepas dari ketidaktahuan. Pekerjaan ini memang sudah lama aku dambakan. Bahkan ibuku telah lama berdoa kepada pencipta supaya aku menjadi seorang pendidik.

Kamu mau kerja apa? Itu terserah kamu saja. Mau menjadi pengajar. Menjadi ibu rumah tangga. Menjadi apapun maumu. Aku tak mau terlalu mengekang kamu.  Tapi aku berharap kamu menjadi seorang peneliti. Supaya pendidikan di tempat kita nanti bisa berkembang. Setidaknya sekolah kita nanti menjadi inspirasi untuk sesama.

Jika kita punya anak. Aku ingin punya tiga anak. Anak pertama menjadi seorang penulis. Aku ingin dia menulis kisah keluarga kita. Anak kedua menjadi seorang peneliti biologi. Aku ingin anak kita ini memberikan inspirasi kepada semua manusia bahwa kehidupan itu sangat penting. Apalagi sekarang ini seseorang kurang menghargai kehidupan. Lihat saja di sekeliling kita banyak manusia tega membunuh makhluk lain. Meski mereka sudah mengatahui akibatnya. Seperti penebangan hutan yang tak terkendali, pencemaran lingkungan dan masih banyak lagi. Anak kita yang terakhir ini kita ajar dia menjadi seorang  pembicara yang ulung. Aku ingin membuat ia dapat menyampaikan kepada dunia tentang kebajikan. Seperti KH Agus Salim di Indonesia atau Pejuang HAM Martin Luther King. Aku sangat mengagumi tokoh ini. Mereka tak pernah berhenti melawan ketakadilan sampai ajal memanggil.

Namun aku tak akan menolak dan membantah tawaranmu tentang masa depan anak kita. Kamu berhak. Sangat berhak mengatur kehidupan. Karena adalah otak untuk anak-anak kita. Apapun yang kamu ajarkan akan sangat berimplikasi pada kehidupan mereka kelak. Meski peranku juga tak bisa dipisahkan. Inilah yang mesti kita diskusikan sama-sama.

Ada banyak yang ingin aku diskusikan bersama kamu. Tentang rencana kita mengarungi bahtera kehidupan. Tentu menjalani kehidupan tak semulus yang kita pikirkan. Namun disinilah fungsi kita berdua. Mendiskusikan apapun yang akan kita lakukan. Ibarat sebuah perusahaan. Tak ada pemegang saham dominam. Kita mempunyai hak dan kewajiban yang hampir sama. Terlalu perhitungan yah mengandaikan sebuah perusahaan sebagai suatu kehidupan. Aku memang ingin selalu berpikir rasional. Dalam menjalani kehidupan pasti butuh ‘bensin’. Makanan dan tempat yang layak kita huni.

Sekarang aku sedang bekerja. Apapun itu. Memantaskan diri. Jika kita bertemu aku sudah siap menjadi pendamping kamu. Aku juga sedang menyusun rencana kehidupan kita. Aku sudah copy. Aku sudah beritahu kepada keluarga terkait rencanaku. Mereka setuju. Kata ayah dan ibu, “Apapun rencana kamu, kami sudah setujui.”
Ah…aku sudah tenang sekarang. Aku sudah memberitahumu sebagian rencana kita setelah bersumpah hidup bersama. Lain kali jika ada rencana lagi akan aku kirimkan surat kedua untukkmu.

From Your Partner
Muhammad H. Arfah

Thursday, 28 March 2013

Maaf...Aku Egois

Dear Anugrah Rahman...

Entah mengapa hari ini aku mengingatmu. Tak ada tanda-tanda wajah dan namamu terbayang hingga bulan ini akan berakhir.  Oh iyya... kamu masih ingat tidak kejadian empat tahun lalu. Tepatnya akhir Maret. Ugha (panggilan akrabmu) bulan ini kita jadianloh. Menjadi sepasang kekasih.Kekasih yang lagi kasmaran. Hingga tak ada kata pun selain sayang. Kamu sering memanggilku Rendy. Panggilan sayangmu padaku. Saat itu pertama kalinya aku mengatakan ‘say’ kepada perempuan.

Sampai hari ini aku masih ingat cara kamu mengungkapkan perasaanmu kepadaku. Sebenarnya aku yang mau lebih dulu. Namun keburuan kamu yang bilang. Aku sangat senang hari itu. Hingga tak bisa lagi berkata selain iya. Oke. Setuju.

Ketika itu jam menindik pukul 09.35 WITA. Aku hendak menuju rektorat bersama seniorku. Tiba-tiba handphone Nokia di sakuku berdering. Namamu tertera.
“Di manaki ini?” tanyamu di ujung telepon.
“ Di Lotus (jalan pinta dari dan ke kampus) Teknik, lagi menuju rektorat,” jawabku santai.
“Eh...status hubunganta’ pacaran toh,” sergapmu.
Aku kaget. Kaget sejadi-jadinya. Kok... kamu mengatakan itu. Aku tak pernah menduganya. Namun hatiku tak bisa menolakmu. Karena hubungan kita memang sudah jauh. Kamu perhatian. Baik. Solusi atas masalahku. Tempat bersandarku ketika sedang rapuh. Mahasiswi Jurusan Bahasa Inggris yang ceplas-ceplos. Aku suka. Hingga sukaku membuat aku hanya diam ketika kamu bicara. Aku hanya dapat memperhatikan setiap curahan hatimu di telpon.

Kamu sering kali menegurku. “Kok...melamun?” Namun aku tak bisa berkata-kata selain menjadi pendengar yang baik waktu itu. Mendengarkan pengalamanmu seharian. Pengalamanku serasa tak penting lagi kuutarakan karena rasa lelah dan gundah sirna setelah mendengar suaramu.

Kamu masih ingat tidak? Pameran budaya di Celebes Convention Center. Tempat itu tak akan pernah aku lupakan. Kita pertama kali kencan di situ. Aku mengajakmu jalan-jalan. Memakai motor. Aku memintamu tetap memakai jilbab. Awalnya kamu ingin melepas hijabmu. Namun aku menyarankan supaya tetap memakainya. Ketika aku menjemputmu di Perumahan Dosen UNM, kosmu, aku sangat bahagia. Kamu begitu cantik dan anggun. Kerudung abu-abu menutupi mahkotamu. Aku semakin yakin denganmu. Yakin hubungan kita akan bertahan lama.

Selama menjadi pacarmu memang aku sangat bahagia. Aku tak tahu apakah kamu bahagia. Harapku kamu merasakan hal yang sama.

Yang aku sesalkan adalah cara kita putus. Putus begitu saja. Sebabnya sampai sekarang masih samar-samar. Namun yang pasti aku perlahan pahami adalah sikap egoisku. Mementingkan aktivitasku. Menomorsatukan kegiatan pribadi dan lembagaku. Akhirnya membuat kamu merasa punya pasangan tapi tak bisa disentuh, ditatap dan diajak mengobrol. Bagaikan pacar khayalan hanya bisa menyapanya melalui pesan singkat. Tak ada raut wajah.

Ugha...sampai saat ini aku tak pernah minta maaf. Melalui surat ini aku menundukan kepala dan meminta maaf padamu. Mungkin rendahanyah...menunduk kepala. Namun aku tahu kamu sakit hati. Benar-benar sakit. Hingga tak mau menghubungiku. Hanya ada kata putus dan putus dalam katamu waktu terakhir kita intens SMS-an.

Dulu sebenarnya aku ingin balikan kepadamu. Namun aku sangat takut berbuat yang sama. Menyakitimu. Ingatkah kamu bertanya kepadaku beberapa bulan setelah kata putus terucap di SMS-mu.
“Kamu sudah punya pacar sekarangsay.”
“Dimana kamu tahu?” tanyaku balik.
“Facebook.”
“Iya...kami bahkan berencana akan menikah setelah selesai kuliah.” Jawabku santai.

Sebenarnya waktu itu aku bohong. Bukan tak mau balikan kepadamu namun aku benar-benar belum siap.

Dua tahun yang lalu aku mengatahui kamu menjaling hubungan dengan lelaki. Lelaki yang aku kenal. Aku akrab bersua dengannya dulu. Seniormu di lembaga kemahasiswan tempatmu dulu bernaung. Awalnya aku cemburu. Namun lama-lama aku bahagia. Karena melihatmu bahagia bersama dia. Melihat perempuan yang kita cinta bahagia membuat kita ikut juga senang. Aku berdoa semoga hubunganmu lancar. Seperti di Jalan Tol Reformasi. Tak ada hambatan.
Sekarang aku sudah mau selesai. Rabu depan, jika tak ada arah melintang, aku akan seminar hasil penelitian. Semoga bulan April sudah sarjana. Kamu gimana? Dulu kamu janji akan selesai 2013. Seperti aku.

Akhir tulisan ini izinkan aku tetap menjadi bagian memorimu. Meski itu di sudut dan kecil. Aku pun tak pernah melupakanmu. Perempuan yang menginspirasi. Perempuan yang melunturkan gundah dan keluh kesahku. Perempuan yang menyadarkanku akan keegosianku. Telah menyia-nyiakan seorang perempuan yang mencintai dan menyukaiku. Terima kasih pernah singgah dan mengisi hatiku.

Salam Mantanmu, Muh. Hasim ‘Rendy’ Arfah

Tuesday, 26 March 2013

Dear Diary: Aku adalah Pelacur (10)



Ketakutanku terbantahkan setelah bisa mengirimkan surat padamu sekarang. Namun masa-masa sebelum surat ini sampai baikan neraka bagiku. Ainu, aku ingin menceritakan masa-masaku di penjara. Sangat kelam. Menyakitkan. Selama setahun aku dipenjara. Tak terhitung persidangan yang kulalui hingga tingkat Mahkamah Agung. Entah berapa uang yang kuhabiskan. Aku sempat merasa frustasi. Harapanku hancur berkeping-keping. Namun parcel harapan itu aku rangkai. Meski hancur kembali diterjang badai fitnah. Aku tak tahu energi apa ini, yang jelas hanya untuk melihat kamu walau yang terakhir. Aku pertaruhkan apa yang ada pada diriku.

Hidup di bui bagaikan masuk ke dalam neraka dunia. Tak ada kebebasan. Di sini berlaku hukum rimba. Siapa yang kuat dia yang bertahan. Uang dan pengaruh adalah rajanya. Aku mesti menjalani sebagai budak penjahat kelas kakap. Sungguh kisah hidup yang sangat pahit. Sampai pahitnya aku tak bisa lagi merasakan kesakitan yang lebih dari itu. Aku merasa beginilah mungkin siksaan di neraka nanti.
Tendangan. Sengatan listrik. Pukulan pentungan besi pun aku rasakan.

Aku sebenarnya ingin sekali menghilang dari duniamu. Namun rasa rinduku benar-benar sudah tak dapat ku bendung. Dua tahun aku menahan desakan melepas rinduku. Namun tubuh dan ragaku benar-benar kolaps.

Hingga akhirnya kesampaian juga melepas rindu. Meski hanya surat. Mungkin kamu masih ingin tahu kisahku tiga tahun belakangan ini. Aku tak mau menceritakannya lebih banyak. Ingin rasanya kuhapus dari memoriku. Aku pun bermunajat supaya diberikan penyakit Anterograde amnesia. Supaya semua ingatanku yang baru terjadi aku lupakan. Hanya ada kisah lama. Cerita kebersamaan kita berdua. Masa bahagia dan indah. Tak ada penderitaan batin seperti sekarang yang aku rasakan.

Mungkin ini saja dulu Ainulia. Terserah kamu mau menanggapi apa. Aku terima. Meski kamu tak mau balik lagi kepadaku. Sudah banyak penderitaan yang kamu alami. Aku tak mau lagi menambah dan membebanimu.

Kekasihmu,
Arsyad


Air mata dan penyesalan melingkupi setelah menamatkan surat Arsyad. Aku menangis sejadi-jadinya. Tak kusangka pengorbanannya begitu besar. Aku sangat bodoh tak mencoba mencari tahu lebih jauh lagi. Lebih detail lagi. Alasan Arsyad meninggalkanku. Aku cepat menyerah. Menyerahkan cintaku pada takdir. Andai aku tahu. Aku sangat menyesal perlakuanku kepada dia. Membenci orang yang sangat menyukaiku. Aku tak tahu harus berkata apa kepada Arsyad. Rasa terima kasih tak akan cukup. Meski aku ucapkan berjuta-juta kali.

Sehabis membaca suratnya, aku ingin langsung mencari Arsyad. Aku ingin meminta maaf karena salah menilainya.

Namun Raya justru berkata lain. “Ainu…jangan cepat percaya, telusuri dulu kebenarannya,!”

Aku sontak kembali berpikir. Jangan-jangan Arsyad bohong. Ia hanya merangkai cerita. Mengarang tentang kisahnya selama menghilang.

Aku pun tak lantas percaya. Aku pun bingung. Keluarga Arsyad sudah tak ada lagi di kota ini. Teman-temannya pun sudah lama hengkang dari kampus. Hatiku sudah lama beku. Beku akan namanya. Apalagi hatiku sudah punya Arif.

Namun untuk membuktikan prasangkaku benar. Aku pun mencari kebenaran tentang cerita Arsyad. Seminggu aku berputar-putar mencari informasi namun tak kudapat.  

Sebulan berlalu. Tak ada apapun informasi yang kudapat.

Aku baru sadar ternyata bulan ini, Arif akan datang. Dalam suratnya bulan lalu, ia berjanji akan menemuiku. Aku pun ke kampus. Tak ada Arsyad. Memang akhir-akhir ini dia tak menemuiku. Aku pun mulai yakin, dia hanya mengarang cerita.
Tak lama aku sampai di kampus, Arif pun datang. Ia hanya sendiri. Tenyata tampangnya lebih gagah dibandingkan di fotonya. Maklum fotonya hitam putih. Kami pun bersalaman. Saling lirik. Tersipu malu. Dia mulai bercerita tentang dirinya, pekerjaanya dan keluarganya. Ia tak pernah punya kekasih. Katanya fokus dulu menjadi mapan. Sekarang dia sudah mapan. Katanya aku adalah perempuan pertama yang membuatnya tertarik untuk merajut kasih. Ia pun bertanya, “kamu pernah punya kekasih?” sontak aku gugup meski jawab apa.
“Iya…”jawabku pelan.
“Hem…,”sambil melepaskan senyum.

Kami menghabiskan waktu di bangku sudut jurusanku. Kami tertawa bareng. Aku tak menyangka begitu cepat akrab dengan Arif.

Tiba-tiba Arsyad muncul di hadapan kami. Air mukaku langsung berubah. Aku panik. Apa yang mesti aku perbuat? Apakah harus menghindari Arsyad? Aku harus memilih Arif atau Arsyad? 

Bersambung deh…

JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAMKU!

Metamorfosis






Kepompong telah pecah
Kini dia menjadi seekor kupu-kupu
Kupu-kupu yang lucu
Hingga siapapun ingin memilikinya

Namanya si pinky
Ada yang mau menjaganya
Namun banyak pula ingin memakannya

Pastilah si pinky bingung
Siapa yang akan dia percaya
Ia hanya bisa makan
Makan apapun yang tersaji di depannya
Si pinky nan lucu semakin ragu
Tak percaya siapapun
Tak teman, tak sahabat, tak juga aku
Hanya hatinya yang dia percaya

Si pinky nan lucu semakin larut
Larut dalam kebimbangan
Kebimbangan prasangka

Ia tak mau lagi menjaling tali sahabat
Hatinya sudah bebal
Bebal karena dusta
Apalagi rasa, mustahil baginya

Si pinky nan lucu semakin ragu
Ragu akan perasaannya
Ia merasa habis
Tak mungkin kembali lagi
Kembali ceria, ceria sesungguhnya

Air muka si pinky memang ceria
Paling bahagia, seolah tak ada apa-apa
Ceria dan bahagia dijadikan kamuflase
Menutup rasa yang gundah
Kosong.Sendiri.Takut
Hanya curiga yang ada
Curiga pada siapapun
Termasuk aku, termasuk dia
dan termasuk dirinya
Hingga dia terkurung
Terkurung dalam kegelapan

Sehari, sebulan, setahun
Entah kapan dia bisa ceria
Ceria sebenarnya

Si pinky nan lucu semakin gelap
Segelap lubang hitam
Lubang tak tembus cahaya
Si pinky nan lucu semakin tuli
Tuli karena curiga
Curiga hasil perasaan
Aku kehabisan akal
Benar-benar habis, tak tersisa
Aku sadar usahaku belumlah ampuh
Belum bisa menariknya dari kegelapan
Keraguan. Kebingungan. Kesendirian

Kodratku memang begitu, tak peka
Tak peka akan rasamu
Kakek moyangku pun demikian
Hanya bisa melihat
Rasaku dan mungkin lelaki lain tumpul

Si Kupu-kupu nan lucu tergugah
Tergugah perasaanku
Dia mulai sadar
Sadar akan tidur panjangnya
Dalam gelap dan kesendirian

Si kupu-kupu nan lucu mulai bangkit
Bangkit dari kelarutan malam
Malam yang melelapkannya
Hingga tak punya lagi harapan

Si kupu-kupu nan lucu bermetamorfosis
Menjadi pribadi yang baru
Namun tak lupa akan kenangannya
Kenangan pahitnya

Si kupu-kupu nan jelita
Hidup tegar. Hidup bahagia
Bersama aku

Sungguminasa, 25 Maret 2013

Untuk si kupu-kupu pink

Sunday, 24 March 2013

Dear Diary: Aku adalah Pelacur (9)



Keesokan harinya Arsyad mengirimkan bunga ke depan kamarku. Namun aku acuhkan kirimannya. Namun ia masih tetap mengirimkan untukku. Surat darinya belum aku baca. Hanya tergeletak di sudut kamarku. Aku tidak mau lagi bertemu dengannya. Aku tak mau mengenal lagi namanya. Apalagi ia kembali masuk ke duniaku. Dunia yang sudah mengubur namanya dalam-dalam. Hingga tak satu pun alasan bisa membawanya dari alam kubur.

Setiap malam aku berdoa kepada Tuhan. Supaya Arsyad tak pernah kembali ke duniaku. Dunia yang mulai hijau. Tak lagi gersang. Sosok Arif lah yang membuatnya layak untuk ditempati. Lelaki misterius dari Parepare. Aku berdoa pula supaya Arsyad benar-benar menghilang. Hancur lebur. Tak tersisa. Abunya tak bersatu bersatu dengan udara. Hilang begitu saja ke dunia lain. Mungkin Tuhan akan marah besar kepadaku. Karena aku berdoa keburukan. Jika Neraka Jahannam balasan atas doaku akan aku terima.

Setelah bunga mawar merah yang dikirimkan Arsyad kepadaku  tak aku hiraukan, dia muncul tiba-tiba. Aku menghindar. Berlari menjauh darinya. Namun dia tetap mengejar. Aku tak mau berbicara dengannya. Namun dia tetap mengejarku.

“Ainu, Tunggu aku mau berbicara denganmu!” teriaknya padaku.
Aku tak menjawab. Mulutku aku kunci rapat-rapat. Aku hanya berlari. Terus berlari. Hingga Arsyad tak lagi mengejarku.

Akhir-akhir ini waktuku kuhabiskan di rumah saja. Jika aku ke kampus pasti ada Arsyad. Raya juga aku pesankan supaya tak bertemu dengan lelaki jahat itu.

Namun entah mengapa Raya membuka surat dari Arsyad. Ia menangis kemudian memaksaku untuk membacanya. Mulanya aku tak mau. Aku bahkan menyuruh Raya untuk membuang saja.

“Ainu, ini sangat penting untuk kau ketahui,” ungkapnya.
“Kamu mesti mengetahui alasan Arsyad meninggalkanmu tiga tahun yang lalu.”

“Baiklah. Aku akan membaca suratnya,” kataku dengan perasaan yang penasaran.

Akhirnya aku membaca surat dari Arsyad. Kubaca dengan sangat teliti. Kata demi katanya. Mengapa dia meninggalkanku tanpa satu kata pun tiga tahun yang lalu. Saat aku benar-benar butuh dengannya. Saat cinta kami lagi besar-besarnya.

For my love, Ainulia
Pertama aku minta maaf karena kembali menganggu hidupmu. Mungkin kamu sangat benci denganku. Tak mau mendengar namaku. Apalagi menatap wajahku. Karena telah meninggalkanmu. Mencampakanmu. Menghancurkan perasaanmu.

Mungkin hari ini bencimu masih belum hilang. Bahkan bertambah jika mengingat aku. Ainu…surat yang aku tulis ini akan mengungkap alasanku meninggalkanmu tiga tahun yang lalu.

Kamu ingat terakhir kita jalan bersama di Pantai Losari. Kamu menanyakan kepadaku tentang alasanku berbuat baik kepadamu. Yah... waktu itu aku menjawab,” aku melakukannya karena kamu begitu berarti buatku, kamu seperti jiwaku. Jadi apapun yang terjadi padamu pasti aku rasakan. Sedihmu, senangmu, dan marahmu, aku bisa rasakan.”

Aku benar-benar berkata jujur. Namun malam itu aku bertemu dengan seorang lelaki. Lelaki yang tak akan aku lupakan. Ia penghancur hidupku. Lelaki yang meninggalkan trauma sejak umurku masih belia. Ia telah melakukan hal yang tak senonoh padaku ketika aku belum tahu arti dunia. Ia adalah mantan pengasuhku sekaligus pamanku. Aku diperlakukan layaknya seorang tahanan. Menyiksaku. Menekanku. Mengurungku. Bahkan ia sering mencabuliku. Ia memang mempunyai kelainan. Ia tak suka perempuan. Ibu dan ayah menitipku padanya. Maklum orang tuaku sering keluar daerah. Aku tak berani melapor kepada ayah maupun ibu. Aku takut dia membunuhku. Ia memang sering mengancamku supaya tak melapor. Aku turuti saja. Aku takut terjadi celaka pada orang tuaku. Dua tahun aku jalani penyiksaan batin dan fisik dari pamanku. Aku sudah tak tahu berapa kali dia melakukan tindakan tak senonoh padaku. Hingga aku berani melawan dan meninggalkan luka pada wajahnya. Aku membuat bekas sayatan pisau pada mukanya. Hingga dia menaruh dendam padaku. Akhirnya ia menjalani hukuman. Sepuluh tahun dia berada di balik jeruji penjara.

Namun tiga tahun lalu ia sudah bebas. Ia kemudian menerorku. Ia mau membunuhku. Waktu itu aku benar-benar bingung. Tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya kuputuskan meninggalkanmu. Supaya kamu tak terlibat masalahku. Aku takut kamu disakit.

Setelah meninggalkanmu, aku menanggapi terornya. Aku menerima tantangnya. Aku meninggalkan Kota Sungguminasa. Aku hijrah ke Kota Bali. Dia mengikutiku. Akhirnya pertarungan pun dimulai. Dia pasti ingin membunuhku. Aku pindah ke universitas swasta di sana. Aku tinggal seorang diri. Aku berhasil menghindarkan kau dengannya. Aku sangat tahu siapa orang ini. Setiap hari dia menerorku dengan cara mistis dengan menaruh pasir hitam dan bunga tujuh rupa. Memberi surat tantangan dengan belati dan darah. Enam bulan ia menerorku dengan berbagai macam cara. Namun aku tak menanggapi. Setiap kali aku mendapat teror. Setiap itu pula aku berpindah tempat. Entah berapa kali aku berpindah tempat. Aku benar-benar tak tenang. Aku pun sempat ingin bunuh diri. Namun dirimulah yang membuat aku tetap tegar, Ainu.

Hingga suatu hari teror itu tak datang. Aku tak tahu mengapa teror itu berhenti. Aku pun lupuk. Ternyata dia menyiapkan jebakan untukku.

Ketika aku pulang di rumah kosku. Polisi Sudah menungguku. Ia meletakkan narkoba di kamarku. Aku tak tahu bagaimana caranya narkoba itu ada di rumahku. Aku tak bisa mengelak. Aku berpikir benar-benar akan berakhir di penjara. Tak akan bisa melihatmu lagi. Hingga suatu hari ketakutanku ini mulai tak terbukti.

Bersambung….

JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAMKU!