Selalu Sendiri dan Kesepian



Malam ini sangat dingin. Sedingin es balok.  Aku hendak menuju rumah karib untuk mengerjakan analisis data penelitian untuk skripsi. Skripsi yang aku kerjakan sejak pertengahan tahun lali kini menuju pada tahap seminar hasil. Hal ini berarti tinggal selangkah lagi menuju ujian meja. Ujian terakhir merengkuh gelar sarjana. Kecepatan motor yang sering aku pacu hingga 80 km/jam kini hanya 30 km/jam. Sangat lambat. Hawa Makassar yang membuatnya demikian.
   
Setelah sekitar satu jam setengah mengerjakan analisis data bersama teman sekelas ketika masih aktif  kuliah. Akhirnya analisis selesai. Kami menghabiskan waktu hingga pukul 10 malam berbincang tentang masa depan. Sudah banyak rencana kami. Hingga tak terasa malam semakin larut. Aku pun pamit. Motor kembali aku pacu dengan kecepatan yang sama. 30 km/jam. Setelah 30 menit mengendarai motor, aku tak langsung pulang. Aku singgah di sekretariat lembagaku untuk menyelesaikan analisis data skripsiku.  
Sekitar pukul 11 malam, aku membaca tweets temanku di Medan. Ia terlihat sendiri dalam tulisannya di micro blog ini. Aku mencoba membalasnya dan ia pun membalas. “Soalnya selama ini. Selalu jalan sendiri aku nya sim, semuanya sendiri.”

Aku pun merasa sama dengan teman yang satu ini. Sampai sekarang aku tak mempunyai sahabat yang benar-benar mengerti aku. Tak ada yang memberikan tangannya di saat aku terjatuh. Tak ada sahabat yang mengingatkan aku di saat aku tersesat. Bahkan ibu hanya memikirkan uang saja. Semuanya serba uang. Ia hanya menjadi temanku di saat aku punya uang. Dan menjadi orang lain di saat aku kekurangan uang.

Mengerjakan semua sendiri. Semua yang kita lakukan tak ada yang mengapresiasi atau mengoreksi. Benar dan salah tak ada pada kita.

Malangnya lagi, orang yang selama ini yang aku anggap sahabat ternyata memilih orang lain untuk melepaskan kesepiannya. Tak memberitahuku bahwa ia sepi. Ia lagi sendiri. Ia butuh bantuan. Padahal dulu aku sangat senang ia mau menjadi sahabatku, my bestfriend. Sekarang aku tak tahu apa ia masih pantas dijadikan bestfriend. Bukankah bestfriend selalu ada di saat kita kesepian dan sering tak ada di saat kita senang. Aku sangat iri dengan mantan politikus Partai Demokrat Angelina Sondakh. Bukan teman, ibu, pacar yang menjadi motivator dan tempat curhat. Di saat dia jatuh ada ayahnya yang menjadi sahabatnya.

Tapi tak mengapa. Mungkin aku ditakdirkan memang tak mempunyai sahabat. Hanya teman. Yang hanya penasaran dengan kisah hidup kita. Mereka tak peduli sama sekali.

Mudah-mudahan yang membaca tulisan ini tak bernasib sama dengan aku maupun teman di Medan sana. Jika kamu mempunyai sahabat, jangan sampai disia-siakan. Kedinginan itu sangat tak mengenakkan dan sepi. Kehangatan sahabat selalu membuat keceriaan, gembira, masalah langsung hilang meski seberat apapun.  (*)

 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android