Thursday, 28 February 2013

Selalu Sendiri dan Kesepian



Malam ini sangat dingin. Sedingin es balok. 

Aku hendak menuju rumah karib untuk mengerjakan analisis data penelitian untuk skripsi. 

Skripsi yang aku kerjakan sejak pertengahan tahun lali kini menuju pada tahap seminar hasil. 

Hal ini berarti tinggal selangkah lagi menuju ujian meja. Ujian terakhir merengkuh gelar sarjana. 

Kecepatan motor yang sering aku pacu hingga 80 km/jam kini hanya 30 km/jam. Sangat lambat. 

Hawa Makassar yang membuatnya demikian.

Setelah sekitar satu jam setengah mengerjakan analisis data bersama teman sekelas ketika masih aktif kuliah. 
Akhirnya analisis selesai. 

Kami menghabiskan waktu hingga pukul 10 malam berbincang tentang masa depan. Sudah banyak rencana kami. 

Hingga tak terasa malam semakin larut. Aku pun pamit. Motor kembali aku pacu dengan kecepatan yang sama. 30 km/jam. 

Setelah 30 menit mengendarai motor, aku tak langsung pulang. Aku singgah di sekretariat lembagaku untuk menyelesaikan analisis data skripsiku.

Sekitar pukul 11 malam, aku membaca tweets temanku di Medan. Ia terlihat sendiri dalam tulisannya di micro blog ini. Aku mencoba membalasnya dan ia pun membalas. “Soalnya selama ini. Selalu jalan sendiri aku nya sim, semuanya sendiri.”

Aku pun merasa sama dengan teman yang satu ini. 
Sampai sekarang aku tak mempunyai sahabat yang benar-benar mengerti aku. 

Tak ada yang memberikan tangannya di saat aku terjatuh. Tak ada sahabat yang mengingatkan aku di saat aku tersesat. 

Bahkan ibu hanya memikirkan uang saja. Semuanya serba uang. Ia hanya menjadi temanku di saat aku punya uang. Dan menjadi orang lain di saat aku kekurangan uang.

Mengerjakan semua sendiri. Semua yang kita lakukan tak ada yang mengapresiasi atau mengoreksi. Benar dan salah tak ada pada kita.

Malangnya lagi, orang yang selama ini yang aku anggap sahabat ternyata memilih orang lain untuk melepaskan kesepiannya. 

Tak memberitahuku bahwa ia sepi. Ia lagi sendiri. Ia butuh bantuan. Padahal dulu aku sangat senang ia mau menjadi sahabatku, my bestfriend. 

Sekarang aku tak tahu apa ia masih pantas dijadikan bestfriend. Bukankah bestfriend selalu ada di saat kita kesepian dan sering tak ada di saat kita senang. 

Aku sangat iri dengan mantan politikus Partai Demokrat Angelina Sondakh. Bukan teman, ibu, pacar yang menjadi motivator dan tempat curhat. Di saat dia jatuh ada ayahnya yang menjadi sahabatnya.

Tapi tak mengapa. Mungkin aku ditakdirkan memang tak mempunyai sahabat. Hanya teman. Yang hanya penasaran dengan kisah hidup kita. Mereka tak peduli sama sekali.

Mudah-mudahan yang membaca tulisan ini tak bernasib sama dengan aku maupun teman di Medan sana. Jika kamu mempunyai sahabat, jangan sampai disia-siakan. 

Kedinginan itu sangat tak mengenakkan dan sepi. Kehangatan sahabat selalu membuat keceriaan, gembira, masalah langsung hilang meski seberat apapun. (*)

Thursday, 21 February 2013

Dear Diary: Aku adalah Pelacur (7)



Seminggu kemudian Erni pindah rumah. Kami tak tahu alamatnya sekarang. Menghilang tanpa kabar. Tak pamit pada kami, sahabatnya. Aku dan Raya bertanya-tanya. Mengapa Erni melakukan hal demikian?Apakah  ada hubungannya dengan kedatangan lelaki misterius ketika Erni melahirkan?

Dugaan kami memang tak salah. Lelaki yang datang erat kaitannya dengan Erni. Lelaki yang datang di hari kelahiran anak Erni adalah Razak. Lelaki yang menghamili Erni. Aku tak habis pikir mengapa Erni kembali ke pelukan Razak. Mungkin cinta Erni begitu besar, meski Razak sudah mempunyai anak dan istri. Memang cinta selalu tak bisa ditebak.

Mulai hari itu kami tak pernah lagi bertemu dengan Erni. Aku pun mulai melupakan Arsyad sedikit demi sedikit meski tiap malam wajah dan perhatiannya masih menghantuiku.

23 Januari 1988, Saat ini Aku dan Raya sudah semester enam. Akhir semester ini kami akan berangkat Kuliah Kerja Nyata (KKN). Hal ini berarti kami akan segera menyelesaiakan studi. Kami sudah mempersiapkan semua persiapan menuju tempat KKN. Aku sudah membeli koper, hasil jerih payahku mengajar sebagai tentor lembaga bimbingan belajar. Raya! jangan ditanya, dia sudah membeli perlengkapan  dari awal semester enam lalu.

Hari yang dinanti pun tiba. Aku dan Raya siap untuk menuju rimbah pengabdian. Kami berdua ditempatkan di daerah yang sama. Kotamadya Parepare. Kata orang-orang Parepare ini dijuluki Bandar Madani karena di kota ini hampir sepanjang pantainya adalah pelabuhan. Banyak barang luar negeri melalui pelabuhan ini. Baik yang legal hingga ‘barang gelap’ alias ilegal. Aku dan Raya ditempatkan di area perbukitan Parepare, LemoE nama daerah ini. Saya juga heran kok bisa sama dengan Raya. Mungkin takdir yah. Suasana alam di kawasan ini pedesaannya masih terasa. Tak sama dengan daerah lain di Parepare. Beton-beton yang mendominasi. Tak jauh beda dengan Makassar. Namun Parepare sangat bersih.

Rumah staf kelurahan LemoE pun menjadi posko kami. Kami berlima di sini. Aku dan Raya dari Bahasa Inggris. Helmi dari Pendidikan Bahasa Indonesia. Budi dari Pendidikan Sejarah. Terakhir Anti dari Pendidikan Matematika. Kami memilih Helmi jadi Koordinator KKN tingkat Kelurahan atau lebih keren dipanggil Korlu. Aku menjadi bendahara. Tak butuh waktu seminggu kami sudah akrab. Tempat KKN bukan hanya ajang bersosialisasi tapi juga ajang memadu kasih. Namun aku tak mau lagi menjaling kasih dengan orang lain. Aku sudah merasakan perih dari lelaki. Aku tak mau merasakannya dua kali.

Hampir dua minggu kami menempati daerah ini. Hampir semua rumah tokoh masyarakat kami sudah sambangi. Setelah dua minggu kami berada di posko ini. Tiap pagi seseorang meletakkan bunga Edelweis. Bungan kesukaanku. Di sana terdapat sepucuk surat. Untukku. Tertulis dari pengagum rahasia. Romantis sekaligus misterius. Kenapa ada orang yang menerorku di pagi buta. Aku tak tahu betul siapa dia. Aku sangat penasaran. Siapa dia. Hatiku seakan kembali terbuka untuk lelaki. Bunga Edelweis pemberian lelaki misterius itu aku simpan. Aku senang. Sangat senang. Serasa hatiku ikut berbunga.

Namun semua bunga di hatiku terasa layu ketika memikirkan Arsyad. Hancur. Aku langsung membuang semua bunga Edelweis yang diberikan oleh pengagum rahasiaku. Dan meninggalkan pesan untuknya supaya tak mengirimkan aku bunga lagi. Namun ia bandel dan tak menghiraukan perkataanku. Dia tetap mengirimi aku bunga. Bahkan hampir setiap hari. Hingga suatu hari ia menuliskan sebuah surat. Entah ini puisi atau memang curahan hatinya. Isi suratnya berbunyi:

Pertama aku mengenalmu, kamu terlihat pendiam, pemalu, jutek dan ada hal yang engkau takutkan dan benci dari lelaki. Hal ini terlihat dari pandanganmu yang sangat tajam dan sinis kepada tiap lelaki yang menatapmu. Tak terkecuali aku. Saya pernah memperhatikanmu dan melempar senyum dan kamu membalasnya dengan muka datar, pandangan  sinis, dan membuang muka. Ada apa denganmu? Aku merasakan kamu pernah terluka oleh kaum kami. Kaum Adam. Aku pernah mencoba menanyakan namun kamu seakan melihat kami sebagai musuh dan harus dihindari. Dari tingkahmu itu membuat hati aku tergerak. Kamu sedang sakit. Kamu perlu ditolong. Inilah yang menyebabkan aku mengirimkanmu bunga Edelweis. Supaya kamu kembali ceria. Aku sangat senang melihatmu tersenyum mendapati bunga ini. Meski setelah itu kamu murung dan kembali sinis pada lelaki. Aku sangat senang. Saking senangnya. Hingga melompat dan berteriak. Aku tak tahu ini cinta atau apa. Yang jelas aku suka kamu ceria. Aku tak akan berhenti mengirimkan kamu bunga Edelweis. Hingga kesedihan kamu benar-benar hilang. Dari pengagum rahasiamu.  
           
Aku sangat kaget membaca surat ini. Mengapa dia bisa membaca pikiranku. Aku langsung menanyakan kepada Raya. Aku curiga ia yang mempermainkan aku dengan menaruh bunga Edelweis. Hanya dia yang tahu sifatku dan kebencianku pada lelaki. Namun Raya benar-benar tak tahu. Ia sudah bersumpah bukan dia yang menaruh bunga dan menulis surat untukku. Teman-teman yang lain juga tak ada yang mau mengaku. Aku makin bingung dengan surat ini. Entah siapa yang mengirim. Mengapa ada orang asing yang langsung bisa mengetahui perasaanku. Mana mungkin seorang lelaki baru, bisa mengetahui perasaanku.  Aku malah curiga itu adalah Arsyad.
Bersambung…

JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAMKU!

Tuesday, 19 February 2013

Kisah Delisa dan Empat Lelaki



Malam itu menjelang pukul 00.30 WITA. Saya tak jadi pulang ke rumah. Takut mengganggu keluarga yang pasti sudah tidur. Maka arah motorku pun berubah haluan menuju sekretariat lembagaku. Tak cukup 10 menit, motor telah membawaku ke tempat tujuan. Suasananya masih ramai. Masih ada anggota terjaga. Maklum akhir-akhir ini banyak pencurian. Mungkin mereka berjaga-jaga jangan sampai peristiwa serupa terjadi.

Karena lelah, langsung saja  kuhempaskan tubuh ini pada setumpuk sofa tak berangka. Saya menyebutnya demikian karena tinggal sofanya yang ada. Rangka kursi entah kemana. Sekilas termenung saya teringat cerita salah satu karib tentang sebuah novel. Katanya ceritanya bagus. Mengharukan. Diangkat dari kisah nyata. Tsunami Aceh, Desember 2004 silam. Judulnya Hafalan Shalat Delisa. Karya Tere Liye. Saya pun memanggil teman yang mempunyai film-nya. Kata teman pun mengamini permintaan saya. Film-nya ada.

Mungkin teman-teman yang sudah menontonnya tahu betul seluk belum. Inci per inci. Detik demi detik alur film ini. Plot cerita film ini memang tak begitu rumit seperti karya sineas mapan yang sering saya tonton. Delisa dan keluarganya terkena dampak bencana Tsunami. Ibu dan saudarinya meninggal. Hanya Delisa yang selamat. Selanjutnya Ia mampu bangkit dari keterpurukan. Mampu ceria. Meski dengan kaki satu.

Dari plotnya cerita Delisa memang sederhana. Namun pelajaran yang diberikan kepada pembaca maupun penonton sangat berarti. Menyetuh jiwa.

Itu kisah Delisa yang saya dapat rasakan. Saya tak tahu perasaan ketiga teman yang juga menonton malam itu.  Namun secara visual mereka juga ikut merasakan kesedihan Delisa. Bahkan seorang teman sengaja mematikan lampu. Mungkin Ia tak terlihat sedang meneteskan air mata. Entahlah, ini mungkin hanya spekulasi. Saat film tiba pada titik klimaks, seorang teman berinisial A ‘menyatu’ dengan kegelapan. Mengambil posisi paling belakang. Sambil mencuri-curi pandang. Setelah klimas usai, Ia pun bergegas pergi. Mengambil sofa selanjutnya membaringkan badan dengan muka menghadap ke bawah. Saya tak tahu alasan ia meninggalkan film yang belum tuntas. Apakah bosan?Ngantuk. Atau malah tak tertarik dengan scene final Hafalan Shalat Delisa. Namun saya menduga ia tak mau melihat akhir film ini.

Berbeda dengan saya dan kedua teman yang masih setia di depan laptop. Hingga akhir film kedua teman hanya sesekali tertawa, sisahnya dan kebanyakan terdiam. Bahkan saya melihat air di mata mereka. Saya tak tahu apakah itu akibat menahan kantuk, pantulan cahaya laptop, atau mata yang berkaca-kaca (terharu). Entahlah hanya Tuhan dan mereka yang tahu. (*)

Friday, 8 February 2013

Harta, Takhta dan Wanita

Akhir-akhir ini begitu banyak pemandangan tentang korupsi yang melibatkan figur partai politik, konspirasi untuk takhta, tergoda wanita  muda nan cantik. Hal ini mengingatkan kita perkataan Rasulullah Muhammad SAW, Berhati-hatilah kau terhadap tiga perkara yakni harta, takhta dan wanita.

Penuturan sang Nabi memang sudah terbukti namun saya tak yakin banyak orang yang sadar akan pesannya 14 abad yang lalu. Buktinya hingga saat ini banyak orang yang terjerat dan terjungkal dengan tiga godaan terbesar seorang pemimpin, presiden, wakil rakyat, nelayan, petani, penjual asongan, anak sekolahan, pedagang.  Semua elemen masyarakat mulai dari pucuk tertinggi hingga golongan masyarakat bawah.

Pemimpin kita kebanyakan terjerat pada masalah perampokan uang rakyat yang beken disebut korupsi. Saya pernah berdiskusi dengan pengusahan asal Kabupaten Gowa. Saya pun bertanya mengapa dia menambah terus usahanya. Padahal usaha yang ada sudah sangat cukup. Ia dengan tegas memberikan jawaban karena saya masih lapar. Lapar ini semakin bertambah ketika target dan usaha saya meningkat. Saya masih mau lagi terus membeli lebih, mempunyai barang yang tak semua orang miliki. Rumah gedong. Istri cantik. Mobil mewah. Jabatan terpandang. Semua ingin saya miliki.

Saya memang belum pernah merasakan harta berlimpah hingga miliaran juta. Namun pengalaman membuktikan, banyak uang atau harta akan semakin membuat saya semakin lapar. Semakin ini kaya lagi hingga hidup semakin mudah, Semakin dipandang tinggi, tak diremehkan sesama manusia. Namun manusia selalu berada pada pilihan yang sulit. Lingkungan yang ada yang sering memaksa untuk terus lapar, terus tak puas.

Harta memang selalu membuat orang bisa melakukan apa saja. Hingga merampok pun akan dijalanani tak memandang orang itu orang terpelajar baik moral dan intelektual. Celakanya lagi para figur yang nyata-nyata kita kagumi menusuk kita dari belakang. Mereka mencuri uang rakyat yang memang diperuntukkan untuk kebaikan bersama. Namun naas juga melihat rakyat sekarang pemikirannya tak jauh beda dengan pemimpin. Untuk memperjelas ini saya mau memberikan contoh hubungan pemimpin dan rakyat yang penuh kong kali kong. Seorang yang ingin menjadi kepala daerah baik bupati maupun gubernur mesti mengeluarkan uang yang sangat banyak. Membayar tim sukses, membeli media, membayar rakyat. Poin terakhir adalah hubungan yang paling nyata dengan rakyat. Membeli rakyat di sini berarti membayar rakyat supaya memilih si calon kepala daerah. Membayar rakyat sangat mahal. Hasilnya juga sering kali pahit.

Hal inilah yang menjadi poin kenapa seorang pemimpin korupsi karena ingin membayar hutang politiknya kepada donator saat dia mau naik menjadi kepala daerah.

Sekali lagi manusia memang selalu kalah dari lingkungan. Hanya sedikit yang mampu bertahan dan berjalan pada jalur yang benar. Hidup sederhana sekarang sudah dianggap tak layak.

Takhta menjadi tujuan seseorang setelah mendapat harta banyak. Sering kali persoalan satu ini membuat seseorang melakukan hal-hal yang tak bermoral. Seperti menjatuhkan, memfitnah, men-gibah-kan. Pokoknya semua jalan, tak peduli benar atau salah, yang membuat lawan kita jatuh. Tak dipilih. Hingga kitalah yang melenggang menjadi pemimpin. Apakah setelah terpilih para pemimpin kita tak berpikir ini buruk?Entahlah seseorang yang dibutakan oleh takhta yang bersifat sementara memang ibarat narkoba yang nikmat namun mematikan.

Seorang yang berada di puncak memang tak ada kebutuhan selain dipuji, dianggap tinggi, dihormati. Seolah-olah ingin disamakan dengan Tuhan.

Terakhir adalah wanita. Wanita memang menjadi cobaan yang berat untuk para pemimpin kita. Sering kali seorang pemimpin tersandung dengan makhluk satu ini. Ada banyak magis yang dikeluarkan wanita sehingga membuat lelaki kalang kabut sampai-sampai berlutut di depannya. (*)

Wednesday, 6 February 2013

7 Februari 2013, Happy Milad @SMS




Hari ini adalah hari yang menggembirakan sekaligus menyedihkan untuk kamu. Gembira karena kamu melangkah ke tahap kedewasaan, kematangan berpikir, memasuki dunia baru.

Namun juga menjadi kesedihan karena kamu harus meninggalkan masa-masa remaja. Mesti beranjak ke jalan kedewasaan. Meninggalkan masa muda. Masa yang mungkin indah. Ceria.

Hal ini adalah kodrat seorang hidup di dunia. Pasti akan meninggalkan. Bahkan pertemuan kita tadi sudah kita tinggalkan. Hanya Tuhan yang berwenang mempertemukan kita lagi.

Meski ulang tahun adalah budaya orang-orang barat. Yang sering diklaim sebagai atheis. Namun kita mesti menanggapi prosesi berkurangnya umur sebagai ajang instropeksi diri. Apakah kamu sudah berbuat yang benar? Apakah kamu sudah mencapai cita-cita? Bagaimana hubunganmu dengan pencipta dan manusia?

Semua pertanyaan ini hanyalah sebagai dari bentuk muhasabah. Yang tak lain akan menjadi pijakan untuk selalu pada jalur yang benar. Muhasabah ini juga sebagai kompas kehidupan. Mengingatkan kau disaat lupa.

Karena hidup ini sebenarnya dijalani sendiri. Kamu yang menjalani bukan siapa-siapa. Semua kebaikan dan keburukan yang kau lakukan akhirnya akan kembali kepadamu.

Saya pun teringat kata Rasulullah, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt.”

Kita mungkin baru berkenalan. Masih asing. Namun itu tak mengurangi hal yang akan aku sampaikan. Selamat milad. Umur 19 tahun masih muda. Masih banyak tantangan kehidupan.(*)

Best Friend Saja Ketimbang Pacaran



Sejak aku mengenal seseorang kemudian hati berkomitmen untuk berlanjut ke jenjang selanjutnya, akan  berakhir pada tataran pacaran. Kalau sudah jenuh maka putus adalah jalan satu-satunya.  Hal ini pernah terjadi awal tahun 2009. Ketika itu aku berteman dengan salah satu pendengar setia radio komunitas kampusku. Ia anak baik. Ramah. Aku jatuh hati padanya. Ia juga demikian. Aku sebenarnya tetap ingin berteman. Namun ia mau menaikkan status menjadi pacaran. Aku menuruti saja karena nanti dianggap tak perhatian. Takut rasaku berkurang kepadanya.

Tak lama berselang kami jalani sebagai status pacaran. Kata kakak yang sering dia tuturkan kini berganti menjadi sayang. Laiknya pasangan yang lagi kasmaran. Sebentar-sebentar sms masuk. Sekadar menanyakan kabar. Menyapa sedang melakukan apa. Atau hanya melepas rasa rindu dengan mendengar suara masing-masing. Sebulan berlalu, entah apa yang terjadi kata-kata itu terkikis. Bagaikan ombak ganas menyapu jejak-jejak perpaduan kasih yang kami ukir. Abrasi. Hilang tak berbekas.

Kami terlena. Tak mempersiapkan akan ada masa-masa jenuh. Kami terlalu naïf bahwa cinta hanya perasaan senang yang ada. Tak ada rasa susah. Hal ini memang paling memungkinkan terjadi waktu kami masih berumur 18 tahun. Masih labil.

Mulai hari itu saya berkomitmen tak akan menjaling hubungan ketika masih berpikir cinta adalah kesenangan.

Alasan aku menulis tulisan ini karena merasakan dan perlahan-lahan mantap memahami cinta itu bukan hanya hubungan antar sesama. Antara laki-laki dan perempuan. Antara anak dan sanak keluarga. Antara Tuhan dan hambanya. Namun cinta itu sangat universal. Cinta adalah teman. Tak ada sahabat tanpa ada rasa cinta. Inilah mungkin pemahaman aku sekarang. Mungkin Anda yang membaca beda. Tak sama. Tak sepakat dengan persepsiku.
Akhir-akhir ini aku merasa dekat dengan seseorang. Ia sangat-sangat bisa masuk kriteria pacar.  Enak dan nyaman ketika bertemu. Banyak kesamaan di antara kami. Namun ia tak mau mengambil jalan itu. Aku pun demikian. Kami mengambil jalan bersahabat saja. Pilihan yang sangat demokratis. Namun  tetap menggunakan perasaan kami masing-masing.

Namun sisi ini sama dengan yang aku rasakan empat tahun lalu. Masih terlihat baik. Tak ada pertengkaran. Namun akan sama saja nasib hubunganku jika kami memilih jalan pacaran. Pengalaman berbicara bahwa hubungan ini tak akan bertahan lama. Karena target sudah terpenuhi.

Namun jalan sahabatlah yang kami pilih. Tak akan ada saling menjatuhkan, yang ada saling mendukung. Membangunkan jika ada yang terjatuh. Menegur jika salah satu dari kami salah arah. Saling memotivasi jika perasaan sedang terdegradasi oleh tantangan kehidupan. Mengulurkan tangan sebelum sahabat membutuhkan bantuan. Merasa sedih jika sang sahabat terluka. Merasa senang jika dia tertawa. Tetap senang jika tak dilibatkan dalam kesenangan sahabat. Memahami sifat dan karakter masing-masing. Akan sangat menyesal jika terjadi hal yang buruk antar keduanya. Saling menerima kekurangan dan kelebihan.

“People never know how special someone is until they leave, but maybe sometimes it’s important to leave, so they are given that change to see how special that someone really is!” –Ali Nitka

Jika kata-kata ini bisa membuktikan, tak apalah. Ini mungkin adalah konsekuensi. Semua yang kita lakukan mempunyai resiko. Meski hal itu untuk kebaikan terlebih lagi keburukan.

Hubungan selanjutnya akan ditentukan oleh kami berdua dan tentunya orang-orang terdekat kami. 

Monday, 4 February 2013

Dg Kanang Bekerja Bak Lelaki (1)


Malam baru berlalu satu jam, Dg Kanang (44) telah bangun dan mempersiapkan dagangannya untuk dipasarkan subuh nanti. Jam sudah menindih pukul 01.30 WITA, suara sudek bertumbukan dengan wajang sudah memecah malam di rumahnya, Kompleks Pasar Minasa Maupa, Jalan Swadaya 3 No. 1, Kelurahan Tompo Balang, Kecamatan Somba Opu, Gowa.

Dia biasanya dibantu oleh suaminya, Dg Suro. Namun kadang kala Dg Kanang sendiri. Suaminya sering keluar daerah. Mengurus proyek kontruksi. Dg Suro adalah kontraktor.

Menjadi penjual makanan jadi dijalani Dg Kanang mengingat suaminya sering sakit-sakitan. Selain itu Ia juga tak mau hanya berdiam diri menunggu iuran bulanan dari suaminya. Maklum suaminya baru mendapat uang jika proyeknya baru selesai. “Bisa tiga hingga enam bulan lagi baru bapak (Dg Suro) memberi saya uang. Sedangkan hidup harus berjalan tiap hari,” ungkapnya dengan mata manatap tajam.
Belum buka toko Dg Kanang, pelanggan sudah memenuhi area jualannya. “Angngapa ni sallo kamma (Kenapa lama sekali)” teriak salah satu pelanggan yang langsung menyabet roti pia.

Dg Kanang hanya menjawab lambat bangun karena mengurus anak dan rumah. Selain sebagai penjual makanan jadi, ia juga harus mengurus keluarganya. Ia mempunyai dua orang putra dan seorang putri. Putra tertuanya bernama Ismail. Masih kuliah di salah satu universitas negeri di Kota Makassar. Sedang putrinya masih menjalani sekolah dasar. Si bungsu masih berumur lima tahun. Putranya yang terakhir ini yang sering membuat ulah. Sering tak tidur hingga larut malam. Hal inilah yang membuat Dg Kanang sering kali lambat bangun.

Profesi sebagai penjual makanan jadi sudah dijalani Dg selama delapan tahun. Suka duka dia sudah kecap. Mulai dari mendapat materi berlebih hingga sakit satu bulan yang mesti ia jalani. Menjadikan rumahnya bertingkat dua. Menyekolahkan anaknya hingga jenjang universitas.  “Saya cuman lulusan SD, jadi anak saya mesti lebih tinggi lagi,” katanya sambil melayani pelanggan satu persatu.

Semua ini Dg Kanang lakukan semata-mata mengubah nasib keluarganya menjadi lebih baik. Ia tak mau lagi melihat anak-anaknya putus sekolah seperti dia. Dulu Ia putus sekolah karena ekonomi keluarga dan tak adanya kesadaran keluarga dalam hal pendidikan.

Menjadi penjual makanan dirasa Dg Kanang cukup memuaskan. Untung 200 ribu perhari ia kantongi. Jika pelanggan sepi paling kurang 100 ribu ia dapatkan. Pendapatan ini jika dihitung-hitung, setiap bulan ia bisa mendapatkan 4 hingga 6 juta per bulan. Gaji Pegawai Negeri Sipil jauh tertinggal. “Lumayan untuk membayar iuran bulanan seperti listrik dan air dan uang jajan kedua anaknya,” terangnya.

Anak tertuanya memang sudah tak pernah meminta uang. Ia sudah kerja sebagai tentor di salah satu bimbingan belajar  Makassar.  Hal ini pula yang sedikit mengurangi beban keluarganya. Setiap bulan Ismail dapat memberikan Dg Kanang uang sekitar 500 ribu rupiah.

Dg Kanang memberikan pesan kepada anaknya agar supaya dapat hidup mandiri dan berusaha semaksimal mungkin untuk meraih cita-cita. “Soal uang saya tak pernah persoalkan yang penting anak-anak dapat terpenuhi kebutuhannya, baik sekolah maupun uang,”tutup Dg Kanang. (*)