Eko pun Menyindir Kampus Makassar

Prof Eko Budihardjo
Selasa, 11 Desember di Makassar. Siang itu mendung. Aktivitas di sekretariat Lembaga Penerbiatan dan Penyiaran Mahasiswa (LPPM) Profesi UNM terlihat banyak orang mondar-mandir dan saling berbicara tentang liputan, kegiatan DJAa yang sebentar lagi akan dihelat, dan tentunya deadline tabloid yang sudah mengejar mereka. 

Seorang dewan redaksi terlihat sedang sibuk dengan mata melirik liar mencari buku yang tepat untuk “disantap” siang ini. Matanya pun berhenti pada “Buku Kenangan Manunggal Anniversary 30 Manunggal-ing Pamikir”. Bukunya berwarna coklat dengan sampul dan kertas yang wah. 

Melihat buku ini mengingatkan Dia 2010 silang. Dia pernah ke Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Manunggal, penerbit buku ini, di Universitas Diponegoro (Undip). Waktu itu dia bersama Rahmat Fadhli, Pemimpin Umum LPPM Profesi periode 2011-2012, mengikuti Seminar dan Pelatihan Jurnalistik Nasional (Semdiknas). 

Lembar per lembar Ia baca. Mulai dari sekapur sirih hingga bernostalgia dengan nama-nama pengurus LPM Manunggal. Katanya, Nurul Huda sekarang sudah jadi Pemimpin Umum. Dulu dia adalah seorang reporter yang pintar membaca pikiran. Makrus Ali dulu adalah bendahara panitia Semdiknas yang menurutnya lucu. Rio tak jelas karakternya karena tak pernah muncul saat Semdiknas. Astri dulunya sering membawa kamera meski dia bukan seorang fotografer. Terakhir Septian adalah orang yang tak banyak bicara. Katanya dia sudah menjadi Kepala Litbang. 

Bacaan selanjutnya yakni sambutan dari Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, hingga Pemimpin Umumnya Nurul Huda. Selanjutnya membaca bagian lain. Akademisi judul bagian pertama. Tulisan pertama milik mantan Rektor Universitas Diponegoro Eko Budihardjo. Dalam tulisannya dia banyak bernostalgia saat menjadi pengurus Manunggal dan Rektor Undip. Canda, tawa, meledek adalah aktivitas yang pernah Ia lalui ketika masih aktif di koran kampus Manunggal. Kemudian dia menceritakan ketika menjadi rektor Undip. Kebiasannya yang selalu lesehan bersama mahasiswa dengan Koran kampus terus berlanjut. Saat Dia ditanya tentang kebiasaannya lesehan dengan mahasiswa oleh mahasiswa asal Makassar. “Saya pikir, itu mungkin yang tidak dilakukan oleh para petinggi perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta di Makassar, sehingga seringkali terjadi tawuran antar mahasiswa. Bahkan sampai merusak kampusnya sendiri.” Tulis Eko dalam Buku Kenangan Manunggal Anniversary 30 Manunggal-ing Pamikir. 

Eko adalah mantan ketua Forum Rektor Indonesia (FRI). Sekarang menjabat Ketua Pembina YPSDM FRI. Pernah mengikuti tes menjadi calon gubernur Jawa Tengah 2008 silang. Banyak mendapatkan penghargaan dari berbagai Awards dan kampus. Pakar Arsitektur dan budayawan. Menjabat jabatan strategis di organisasi dalam dan luar negeri. 

Tak ada yang salah ketika mantan rektor sekaliber Eko Budihardjo mengkritik gaya kepemimpinan rektor di Makassar. Bayangkan saja kasus tawuran yang terjadi hampir tak pernah putus setiap tahunnya. Yang terbaru adalah bentrok antara mahasiswa dan warga dengan polisi 10 Desember 2012 di Jalan Urip Sumoharjo. 

Peristiwa ini memang sudah sangat tak terkendali, di luar batas, ekstraordinary. Sudah seharusnya solusi yang dihadirkan juga bukan yang biasa-biasa saja. (*)

 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android