Dominasi Teknologi Atas Tuhan


Menulis judul ini Saya merasa merinding dan sedikit gila menyebut sebuah barang bisa mengalahkan Tuhan. Pencipta manusia. Pengatur hidup manusia. Namun fenomena dominasi teknologi atas perhatian kepada Tuhan baik kita sadari maupun tidak perlahan-lahan sedang terjadi. Pembangkangan terhadap Tuhan memang sudah terjadi sejak masa Adam dan Hawa. Qabil membunuh saudaranya Habil dan melanggar perintah Tuhan terhadapnya. Firaun mengaku dirinya adalah Tuhan. Pembuat Kapal Titanic menganggap Tuhan pun tak bisa menenggelamkan kapal hasil ciptaannya. Vocalis The Beatles John Lennon mengungkapkan pernyataan Bandnya lebih terkenal daripada Tuhan. Menurut Saya semua ini adalah upaya-upaya untuk mendominasi kepemilikan dan kekuasaan Tuhan. 

Stagment ini saya angkat melihat pembicaraan dengan enam teman di kampus. Saya bertanya, mana yang lebih Kamu sering ingat/perhatikan? Ponsel Kamu atau Tuhan? Lima dari mereka menjawab ponsel sedangkan dan teman yang satu hanya diam. 

Banyak manusia percaya kepada alat-alat canggih di rumah sakit ketimbang doanya kepada Tuhan. Semua aktivitas manusia didasarkan atas perhitungan komputer hingga mengenyampingkan nilai dan norma Tuhan yang berlaku di masyarakat. Hingga kabar terbaru kurikulum pendidikan Indonesia akan menghapus mata pelajaran sekolah di Indonesia yang membahas tentang Tuhan. Kurikulum ini terinspirasi oleh sistem pendidikan yang berlaku di Amerika Serikat dan Korea Selatan. 

Atas dasar ini saya mengambil sebuah hipotesis bahwa memang perhatian kita kepada Tuhan sudah kalah dengan buatan manusia sendiri seperti teknologi. Suatu pertanyaan besar di sini adalah mengapa sebuah teknologi bisa mengalahkan perhatian kita atas Tuhan? 

*** 
Suatu sore yang ramai di Kampus UNM Parangtambung. Ramai akan aktivitas teman sebaya mengurus “tiket sarjana” mereka yakni skripsi. Ramai akan aktivitas mahasiswa semester awal mengejar senior mereka hanya untuk membubuhi tanda tangan kartu kontrolnya. 

Selintas kemudian lewat sekumpulan wanita berperawakan jelita. Seorang wanita menenteng tas bermerek Prada. Make-up membuat dirinya seperti artis yang baru saja tenar. Ibarat Luna Maya yang lagi berlenggak-lenggok di atas Catwalk. Mata memandang lurus ke depan. Tak acuh dengan aktivitas kampus. Entah wanita ini mahasiswa atau bukan yang jelas dia membawa peralatan seorang mahasiswa. Ia memeluk buku, teman-teman di sampingnya juga membawa peralatan belajar. Kecurigaan saya mereka adalah mahasiswa. Entah mereka mahasiswa jurusan apa. 

Di sisi lain seorang mahasiswi asik memainkan gadget-nya dengan tak memperhatikan seorangpun di sekelilingnya. Ia tertawa, cekikikan, hingga tertawa terbahak-bahak. Inilah mungkin yang disebut autis oleh orang-orang. Tapi saya tak setuju dengan pendapat mereka. Saya lebih senang memandang peristiwa ini sebagai kesenangan dengan teknologi. Bercengkrama dengan orang-orang di dunia maya bak bercanda gurau dengan orang di samping kita. Tak ada yang aneh. 

Kampus memang bukan lagi sebagai ajang untuk menuntut ilmu. Gaya berpakaian, selera teknologi dan mesti makanan cepat saji adalah pemandangan sebagian mahasiswa sekarang. Khusus untuk selera teknologi menurut laporan detik.com, dalam satu dekade terakhir, peranan ponsel bisa dibilang kian masuk terlalu dalam di setiap relung kehidupan manusia. Ponsel kini menjadi satu-satunya perangkat yang tak bisa lepas selama 24 jam penuh. Dari aspek kehidupan, setiap orang di dunia selalu mengecek ponselnya minimal setiap 30 menit sekali. Tercatat juga bahwa 4 dari 5 orang di dunia selalu menggunakan ponselnya untuk texting. Baik itu untuk SMS, chatting, mengirimkan email, dan lainnya. 

Kemudian, 44% responden lebih memilih untuk mendahulukan ponselnya ketimbang mengambil dompet dari sakunya. Lainnya, 7 dari 10 orang di dunia mengaku tetap membawa ponselnya dalam keadaan aktif ke ranjang saat hendak tidur. Fenomena juga ini yang melanda penduduk di Indonesia temasuk masyarakat intelektualnya berupa dosen dan mahasiswa. 

Seorang di zaman sekarang akan terlihat ketinggalan zaman bila tak mempunyai barang satu ini. Sama halnya dengan teman-teman yang berada di kampus. Hampir tak ada mahasiswa yang mempunyai ponsel ataupun gadget

Ponsel hampir-hampir mengalahkan kebutuhan primer. Bahkan Ponsel ini hampir–hampir menyamai perhatian terhadap Tuhan manusia. Di sini kita tak akan beragumen panjang lebar tentang apa dan siapa Tuhan manusia. Karena setiap orang memaknai berbeda tentang Tuhan. Belum lagi aktivitas yang lainnya yang berhubungan dengan keduniawian. 

Jalan Panjang Teknologi 

Sebelum tahun 1000 pemimpin manusia adalah pemuka agama. Apapun perkataan agama maka itulah yang benar. Hingga tahun 1400 kepemimpinan ini berpindah ke tangan orang-orang dari golongan borjuis yang berasal dari golongan pengusaha dan pedagang saat itu. Akhir tahun 1700-an adalah awal babak baru peralihan dari kaum borjuis keturunan raja-raja terganti ke orang-orang yang bergerak di bidang industri. Hingga saat ini orang-orang yang menguasai dunia adalah negara atau bangsa yang melek akan teknologi. Amerika Serikat, Rusia, Jerman, Jepang, Francis, dan yang teranyar China dan Korea Selatan adalah negara penguasa teknologi. Negara-negara ini berdiri kerajaan teknologi yang digunakan oleh setiap orang di dunia ini. 

Amerika dengan Google, NASA dan Facebook-nya. Jerman dengan BMW dan industri mobil mewah lainnya. Rusia dengan peralatan perang dan ahli antariksanya. Jepang dengan Industri kendaraanya. Francis dan China dengan industrinya. Terakhir Korea Selatan dengan teknologi komunikasinya. 

Dikatakan penguasa jika banyak orang yang bergantung padanya. Hampir tak ada masyarakat modern di dunia ini yang tak menggunakan Facebook dan Google, tak menggunakan motor atau mobil. 

Hampir semua manusia berlomba-lomba untuk mengekploitasi alam. Menebang pohon tanpa diikuti dengan reboisasi. Mengeruk isi bumi hanya untuk kekayaan. 

Disadari atau tidak ketergantungan ini sekali lagi mengalahkan perhatian manusia akan Tuhan. Semoga tak berlanjut kebiasaan seperti ini. Amin.(*)

 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android