Demokrasi dan Seks

Entah apa yang terjadi dengan perilaku masyarakat sehingga di zaman yang serba modern ini hingga moralpun terasa termodernisasi. Iya, modernisasi moral terkhusus masalah pribadi semacam seks didiskusikan dan ditampilkan dengan enteng saja di berbagai cetak, broadcasting (TV) dan portal media. Saya tidak tahu alasan para “sutradara” media sehingga menjadikan isu seks sebagai suguhan untuk menarik pembaca dan penonton. Yang jelas seks adalah isu “seksi”.

Sekadar intermezzo, tulisan ini terinspirasi dengan tayangan di salah satu tv swasta berbau seks. Seorang wanita didaulat menjadi host berperawakan jelita dan tentunya hot. Diskusi tengah malam pun dimulai dengan mengangkat isu seputar hubungan, cara berhubungan, dan pengalaman berhubungan narasumber.

Isu seks sekarang memang bukan lagi barang baru. Isu ini sudah merambah berbagai kehidupan masyarakat lewat berbagai media. Bahkan anak sekolah dasar pun sudah terciprat. Film kartun, Animasi, sinetron, telenovela, film korea tak jarang membawa isu seksi ini. Apakah ini masuk dalam kategori kebebasan pers?

Perangai seks memang tak lepas atas tatanan yang mengatur masyarakat. Adalah sistem demokrasi yang menjadi regulasi dalam masyarakat Indonesia yang diakui pemegang kekuasaan. Demokrasi yang diagung-agungkan para pemegang kuasa di tanah ini memang hampir melegalkan semua bentuk perilaku sosial yang ada di masyarakat. Tak terkecuali Tempat Hiburan Malam (THM) dan Lokalisasi untuk para pencari kenikmatan seks pun telah ada di berbagai kota besar. Tentunya isi dari tempat-tempat ini begitu mengumbar syahwat, memamerkan kemolekan tubuh si penjual jasa dan minuman yang memabukkan.

Tak dapat ditampik Indonesia adalah negara penduduk Islam terbanyak di dunia. Namun negara ini tetap melegalkan tempat-tempat yang berpotensi melunturkan dan menghilangkan moral. Dalam ajaran Islam memang sangat mengharamkan perilaku-perilaku yang mengumbar syahwat. Namun kenapa tempat tersebut melenggang bebas dan di-media-kan lagi? Namun saya berpikir ini adalah tantangan umat ini. Sejauh mana masyarakat Islam bisa tahan atas godaan. Godaan materi dan kenikmatan seks.

Tak sedikit yang tergoda dan masuk ke area nikmat ini. Meski dia mempunyai legalisasi agama Islam. Namun ini mungkin dimaksud dengan hak kebebasan warga negara yang diyakini mereka. Setiap warga negara mempunyai hak untuk bebas melakukan aktivitas dan tindakan apapun. Segala sesuatu yang mengekang dan membelenggu langkah dan tindakan mesti ditiadakan.

Kita mesti mengingat manusia mempunyai watak dasar yang disebut zoon politicon, makhluk yang memiliki hasrat dan potensi untuk mengatur dan mengelola kekuasaan atau kekuatan. Termasuk kuasa dari dalam dirinya. Jadi seorang manusia mempunyai kuasa untuk mengeluarkan dan mengatur hasratnya termasuk seks.

Ada hubungan yang menarik antara Demokrasi dan seks. Demokrasi memberikan ruang seluas-luas kepada pengikutnya untuk mengekpresikan diri. Sedangkan seks adalah salah satu hasil dari ekspresi dari dalam diri.

Saya menganggap Demokrasi tidaklah salah. Yang salah adalah orang mengartikan sempit dan tak berdasar atas nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Ini adalah salah satu sistem yang dibuat oleh manusia untuk kebaikan bersama. Saya setuju dengan pendapat mantan Ketua PB HMI Anas Urbaningrum, demokrasi adalah konsep menghadirkan Tuhan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Adalah sangat sulit melepaskan nilai-nilai agama, hal-hal yang transenden dari kehidupan. Apalagi kehidupan berpolitik dan bernegara. Kehadiran Tuhan dalam bentuk nilai-nilai perennial: kebaikan, keadilan, kebahagiaan, kedamaian, keamanan, dan kesejahteraan.

Kebebasan berekspresi dalam demokrasi mesti diartikan kebebasan bertanggungjawab. Bukan kebebasan tak terbatas dan tanpa konskuensi. Elaborasi agama dan sistem tatanan masyarakat seperti Demokrasi adalah kunci untuk menghadirkan Tuhan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (*)


 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android