Dear Diary: Aku adalah Pelacur (3)



Hingga suatu siang sehabis mata kuliah writing. Aku bertemu dengan pengkhianat cintaku, Arsyad. Ketika melihatku dia tak langsung menghindar. Aku pun mengejar Dia namun tak kudapati dirinya.
          “Arsyad, Tunggu! Aku mau bicara denganmu” teriakku.
Namun Arsyad tetap tak peduli denganku. Ia tetap berlari. Menerobos taman kampus. Menabrak orang-orang yang berjalan di lorong kampus. Orang-orang di kampus memelototiku. “Sudah gila Dia? hingga berteriak histeris di tengah kampus,” bisik seorang mahasiswi. 

Nafasku terasa sesak mengejar Arsyad. Apa daya Ia terlalu cepat. Kesempatanku berbicara dengan lelaki pengkhianat sirna sudah. Dia menghilang entah kemana. Bagaikan ditelan bumi.

Kecewa meliputiku. Benci semakin besar. Rasa cinta yang dulu ada kini telah pupus. Bagaikan tablet yang jatuh ke danau. Hilang tak berbekas. Tak mungkin kembali lagi ke wujudnya menjadi tablet. Aku sangat terpukul. Jiwaku kosong. Serasa ingin mati. Kiamat seakan sudah terjadi padaku.

Kejadian hari ini membuatku mengurung diri dalam kamar. Aku tak mau makan. Apalagi mengingat tingkah laku Arsyad yang drastis berubah. Setiap Aku memikirkannya. Air mata ini terus saja mengucur tanpa Aku sadari. Sangat menyakitkan. Aku sangat terpukul. Mungkin ini yang dinamakan sakit hati. Setiap Aku merasa tegar. Saat itu juga perasaan sakit hatiku terus menusuk. Hari ini Aku berjanji tak akan setia lagi dengan seorang lelaki. Lelaki semua sama. Mereka adalah pengkhianat. Tukang selingkuh. Aku bersumpah akan membalas perlakuan ini pada mereka.

Setelah Aku membaca diary Ibu pada bagian kedua ini. Aku merasa sangat kasihan pada kisah Ibu ketika masih kuliah dulu. Kisah ini memang tak pernah Ibu ceritakan kepada kami, anaknya. Mengapa Arsyad tega mencampakkan Ibu yang sangat cinta kepadanya? Mengapa Arsyad tak mau bertemu dengan Ibu? Bagaimana kelanjutan kisah Ibu selanjutnya? Mengapa nama teman Ibu  sama dengan adik dan kakakku? Pertanyaan ini yang Aku mau cari tahu.
Tak terasa sudah sejam aku membaca kisah Ibu. Aku pun menyimpan kembali diary-nya di tempat semula. Biarlah Aku simpan rasa penasaranku terlebih dahulu. Besok Aku akan kembali membaca buku ini.

“Lisa, dimana kamu?”teriak Ibu kepadaku dari arah dapur.
“Iya bu, Saya datang,” sambutku dengan mengendap-endap, jangan sampai ada seorang yang tahu Aku dari ruangan ini.
“Nak, bantu Ibu menyiapkan makan malam,” pinta Ibu kepadaku.
Makan malampun tiba. Ayah, Ibu, Aku, Erni dan Raya duduk bersama di meja makan. Ayah dan Ibu kelihatan sangat perhatian. Sangat mesra. Aku hanya terdiam dan menatap kosong akan kemesraan mereka. Ibu seperti tak pernah mendapat masalah dalam hidupnya. Everything is fine. Mungkin janjinya di diary-nya Ia tepati. Ia tak akan mengingat kembali kisahnya saat masih kuliah dulu. Aku terus teringat diary Ibu. Hingga Ibu membangunkanku dari lamunan.
“Nak, ada apa, kamu mengkhayal yah?” tanya Ibu.
“Kamu memikirkan siapa, pasti seorang anak laki-laki yah, Ayo mengaku!” goda Ibu kepadaku.
“Tidak! Ibu bercanda saja,” jawabku cepat.
Ibu memang benar. Aku memikirkan Arsyad. Mengapa ada seorang laki-laki yang kejam begitu? Mudah-mudahan Aku tak mendapat lelaki seperti Arsyad.

Sehabis makan malam dengan keluarga kecilku, Kami pun langsung menuju kamar masing-masing. Kami bersaudara masing-masing mempunyai kamar pribadi. Rumah kami cukup luas. Hidup  kami masuk dalam kalangan strata menengah ke atas. Ibu seorang guru SMA. Ayah seorang pengusaha sukses. Setiap minggu Ayah bersama karyawannya keliling daerah. Ayah jarang di rumah. Cuman tujuh hari dalam sebulan Ayah tinggal di rumah. Seminggu itu hanya untuk melepas kangen pada keluarga dan sisanya mengambil pakaian.
Hari ini Aku berangkat ke kampus Unesa bersama Ayahku. Kami banyak mengobrol tentang kisah pertemuan Ayah dengan Ibu. Ayah mengatakan pertemuan pertama dengan Ibu terjadi setelah mereka sama-sama lulus dari tempat kuliah masing-masing. Ibu kuliah di Unesa, kampusku sekarang. Sedangkan Ayah berasal dari Universitas Negeri Parepare. Waktu itu, Ayah tinggal di Parepare sedangkan Ibu tinggal di Gowa. Pertemuan mereka terjadi ketika Ayah melancong ke Gowa 23 tahun silang. Ayah bertemu Ibu di suatu pelatihan. Ayah sekelompok dengan Ibu. Di sinilah benih-benih cinta mulai ada. Hingga tak membutuhkan waktu lama, mereka pun naik pelaminan. Ayah sampai sekarang memang tak tahu aktivitas ketika Ibu masih kuliah. Dengan siapa Ibu berhubungan? Siapa teman-teman Ibu?Ini semua tak pernah Ibu ceritakan kepada Ayah. Aku berpikir memang Ayah tak tahu masa lalu Ibu termasuk diary yang kini menjadi istrinya.
 
Tak habis ceritaku dengan Ayah akhirnya Aku sampai juga di kampus. Sebelum Aku turun dari mobil. Ibnu, my best friend, sudah menunggu. Ibnu memang sudah menjadi sahabat karibku sejak masih mahasiswa baru dulu. Perhatiannya kepadaku melebihi teman-teman lain. Aktivitas kuliah, tugas, kerja kelompok selalu kami kerjakan bersama. Bahkan teman se kampus menganggap kami pacaran. Padahal tidak. Justru setelah Aku membaca diary Ibu, Aku mencoba menolak semua kebaikan Ibnu kepadaku. Aku tak mau bernasib seperti Ibuku yang dicampakan oleh lelaki yang baik padanya.

Kelas sudah bubar. Ibnu mengajak Aku ke kanting kampus. Kami cuman berdua. Canda tawa mengiringi makan siang kami. Tiba-tiba Ibnu melontarkan kata-kata ingin berpacaran denganku.

“Bagaiman kalau status hubungan kita ditingkatkan menjadi berpacaran,” kata Ibnu sambil tertawa lepas.
“Kamu serius Ibnu?”jawabkan mendesak.
“Iya, aku serius,” tegas Ibnu kembali.

Aku pun kembali teringat dengan diary Ibuku. Ibnu mirip dengan Arsyad. Kebaikannya sama dengan kekasih Ibuku ketika kuliah. Aku menolak ajakan Ibnu. Aku beralasan tak mau dulu berpacaran. Tapi sebenarnya Aku takut Ibnu seperti Arsyad. Aku tak mau bernasib seperti Ibuku. 

bersambung lagi....tunggu kelanjutannya di lain kesempatan.

 

My Friends

Twitter Updates

Soundofmind in Android