Monday, 31 December 2012

31 Desember

Hari ini, 31 Desember, adalah tanggal dan bulan paling buntut di tahun masehi. Masa berakhirnya VOC di tanah nusantara, Uni Soviet dibubarkan. Hari ini juga rakyat Indonesia berduka terhadap malam tahun baru 2002 di Bali. Amrozi cs, yang diduga dalangnya, meledakkan bom di malam tahun baru. Akibatnya malam pergantian tahun di tanah dewata menjadi malam kelam, mencekam, dan yang paling buruk untuk dikenang.

Namun tanggal ini juga menjadi kelahiran manager Manchester United (MU) sir Alex Ferguson dan penyanyi rap tenar asal Korea Selatan, Psy. Tak ada yang bisa menyangsikan prestasi mereka berdua. Alex Ferguson telah menangani MU sejak 1986. Sudah puluhan prestasi ia berikan kepada klubnya. Psy telah mengguncang dunia dengan lagu dan tarian Gangnam Style.

Hari ini juga saya lahir di sebuah desa kecil bernama Bissoloro, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Dua puluh tiga tahun lalu.

Selama dua puluh tiga tahun berkarir di dunia ini hampir tak ada berbeda. Hanya bertambah tua, masih sifat yang sama, pekerjaan yang sama tahun lalu, mahasiswa dan layouter. Saya menyadari potensi dalam diri ingin terus meluap, bergejolak.

Akhirnya dari sekian stagnan hidup selama 22 tahun di penghujung tahun ini ada secercah keberhasilan. Saya dapat menyelesaikan sidang proposal sebagai syarat untuk skripsi. Dapat membuat lebih dari 20 tulisan dalam dua bulan. Dapat membuat novel yang kelanjutan kisahnya ada yang menantikan. Masih dapat menghasilkan uang sendiri dengan bekerja. Tak buruk. Tapi masih perlu resolusi pada tahun selanjutnya. Perbaikan masih perlu. Jangan cepat puas.

Tahun depan pasti lebih sulit. Tantangan makin besar. Jadi mesti menambah kapasitas diri baik pengetahuan dan mental. Apalagi persaingan untuk mencari pekerjaan makin sengit.

Selanjutnya aktivitas mahasiswa masih berlanjut. Insya allah tahun 2013 selesai. Aktivitas menjadi seorang pekerja media mudah-mudahan masih berjalan. Menulis untuk kebaikan  harus terus berlanjut. Kedekatan dengan Tuhan mesti lebih intens dan khusuk. Tahun 2012 sebagai muslim, Saya anggap belum memenuhi standar untuk menjadi hamba Allah yang beriman dan bertakwa. Tahun 2013 Saya mesti membuat suatu prestasi. Saya ingin membuat sebuah novel yang dibukukan. I want to improve my quality of life. Tapi Saya juga ingin mempertahankan kesederhanaan hidup. Tak mau terjerumus ke dalam hegemoni kesenangan tak bermakna.Hanya sesaat. (*)

Saturday, 29 December 2012

Dear Diary: Aku adalah Pelacur (5)



Akhirnya kami tiba di depan rumahku. Tak ada seorang pun menyambut kami. Aku mengajak Ibnu masuk namun dia tak mau. Nanti ada fitnah katanya. Akhirnya Ibnu menancap motor cross-nya. Aku memperhatikannya pulang hingga menghilang di belokan kompleksku. Tak lama Ibnu beranjak. Erni datang bersama seorang lelaki. Mereka mengendarai mobil Toyota Avanza. Mereka terlihat akrab. Tak sempat Aku berkenalan, lelaki itu meluncurkan kembali mobilnya. 

“Siapa itu kak?”
“Oh dia temanku di tempat kerja,jawab kakak singkat.
Kok tidak mampir dulu?”
“Katanya sedang buru-buru, jadi lain kali dia singgah.”

Aku tak bertanya lagi.
Sehabis mengganti pakaian Aku langsung menuju ruang rahasia. Aku mencari diary milik ibuku. Aku kembali membaca bagian selanjutnya. Judul bagian ketiga ini “Aku, Erni dan Raya”. 

            Dear Diary,
Hari ini, 28 Oktober 1986,  hampir dua bulan Arsyad meninggalkan Aku. Selama itu pula sakit hatiku menusuk. Aku belum bisa melupakan Arsyad. Bayang-bayang wajah dan tingkah lakunya masih menghantuiku. Aku merasa tak berarti lagi hidup di dunia ini tanpa Arsyad. Aku masih tak percaya dengan keadaan ini. Aku selalu berharap ini adalah mimpi. Hingga Aku terbangun dan Arsyad sudah berada di sampingku.

Berulang kali Aku mencoba bunuh diri namun Erni dan Raya selalu menyelamatkanku. Dua Minggu lalu Aku melakukan tindakan gila, mengiris nadiku. Tak ada seorang pun di kos malam itu. Erni sedang tak ada di rumah. Raya keluar membeli makanan dan perlengkapan sehari-hari. Seketika pun darah mengucur. Kucuran darah semakin deras. Aku hanya menatap kosong waktu itu. Tak memedulikan nasibku akan berakhir. Hingga Aku tak sadarkan diri. Aku merasa telah mati.

Aku terbangun dan melihat jarum infus telah menusuk bagian tanganku. Bekas irisan pisau sudah diperbam. Raya dan Erni telah menungguiku di samping pembaringanku.
“Dimana Aku?
“Kamu di rumah sakit Ainulia,jawab Erni.
“Di mana Arsyad?”
“Ainu… Arsyad tak ada di sini.”
“Dimana kekasihku?” Suaraku semakin meninggi.
Semua orang menatapku. Erni dan Raya mencoba menenangkanku. Suaraku semakin keras saja. Aku menjerit. Histeris. Kamarku menjadi gempar.
“Nyebut Ainu, nyebut. Astagafirullah!” kata Raya seraya menenangkanku.
Beberapa saat Aku menjerit, datang seorang suster. Ia menyutikkan sebuah obat penenang. Aku kembali tak sadarkan diri.

Upaya bunuh diriku ini tak sampai ke telinga orang tuaku. Mungkin Erni dan Raya tahu mereka tak akan bisa menerima kenyataan ini. Aku pun tak akan menyalahkan mereka jika tak memberikan kabar kepada orang tuaku di kampung. Aku juga sadar akan membuat kecewa jika kabar memalukan ini sampai ke mereka.

Seminggu Aku rawat inap di rumah sakit. Uang perawatan dibayar oleh Erni dan Raya. Uang kiriman bulanan mereka gunakan untuk menuntaskan biaya rumah sakitku. Saat Aku keluar dari rumah sakit. Raya mengatakan kepadaku ada kiriman dari orang tuaku. Isinya sepuluh liter beras, ikan kering, pisang dua sisir dan uang saku sebanyak Rp10.000 serta sepucuk surat dari ibuku. 

            Untuk Anakku tersayang Ainulia,
            Assalamu Alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh
Bagaimana kabarmu anakku, semoga sehat wal afiat selalu. Kami di kampung baik-baik saja. Ayahmu sering menceritakan ananda kepada sanak keluarga di sini. Ia membanggakan ananda akan menjadi orang sukses yang akan mengangkat harkat dan martabat keluarga. Sampai-sampai Ayah menolak ajakan besan dari kepala desa. Katanya, “Anakku hanya akan aku kawinkan dengan pria yang ia cintai,” tolaknya.

Oh iya, Bagaimana kabar pacar ananda, nak Arsyad? Semoga dia juga sehat. Sampaikan rasa terima kasih kami kepadanya atas kiriman pakaian dan kebutuhan pokok lainnya. Ayahmu juga selalu membanggakan pacarmu itu. Ia menceritakan kepada hampir semua orang kampung bahwa ananda menjalin kasih dengan anak orang kaya. Ibu malu karenanya. Tapi entah mengapa ayahmu masih saja percaya diri akan ucapannya.

Sudah dulu yah Ainu, kalau ananda sempat balas surat ini! Jaga kesehatan! Banyak belajar! Doa kami mengiringimu selalu.

Assalamu alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh
Ibu dan Ayah

Air mataku mengalir sejadi-jadinya setelah membaca surat ibu. Aku semakin terpukul. Merasa bersalah. Ibu masih menganggap Aku dan Arsyad masih bersama. Aku tak akan bisa melihat reaksi ibu dan ayah jika melihat keadanku saat ini. Apalagi jika mereka mengetahui bahwa Aku sudah tak menjalin lagi hubungan dengan Arsyad. Pasti Ayah akan syok dan bias-bisa mengikuti jejakku untuk bunuh diri. Aku tak mau mereka mengetahui keadaanku ini. Aku pun mengatakan kepada Raya dan Erni untuk tak memberitahukan keadanku kepada mereka.

Tak ada yang berubah setelah Aku keluar dari rumah sakit. Hatiku tetap gundah gulana. Wajah Arsyad masih terlukis dibenakku. I still remember my lovely. Apalagi kata-kata ayah yang membanggakan Arsyad semakin menggerus hatiku. Sejak saat itu, hatiku tak lagi mempunyai ruang untuk lelaki lain.  

Raya dan Erni mencoba mengobati luka batinku dengan mengajakku jalan, menyibukkanku dengan aktivitas kuliah, mengajakku masuk ke lembaga kemahasiswaan, hingga mengenalkanku dengan lelaki lain.
“Ainu…besok kita jalan-jalan ke Air Terjun Takapala, Malino yuk,” ajak Erni.
“Benar Ainu, aku juga mau berwisata nih, apa lagi libur akhir semester ganjil,” sambung Raya.

Aku hanya terdiam dan menganggukkan kepala. Pertanda setuju.

Hari libur yang dinanti Erni dan Raya pun tiba. Mereka mempersiapkan keberangkatan kami. Bekal perjalanan, pakaian ganti, akomodasi, dan carter mobil pun mereka sudah urus. Aku tinggal berangkat. Biaya tak ada yang kutanggung. Semua mereka yang bayar. Setelah menempuh perjalanan selama  dua jam. Akhirnya hawa dingin Malino menyambut kami. Kabut menghalangi pemandangan. Rendahnya suhu memaksa kami memakai baju berlapis tiga. Kami bermalam di penginapan dekat Air Terjun Takapala. Dua hari kami di Malino. Hawa dingin Malino mampu membekukan traumaku. Aku sudah dapat tersenyum. Keceriaanku kembali sedikit demi sedikit. Aku sudah dapat mengobrol lepas dengan sahabatku Erni dan Raya.

Sepulang dari Malino, Aku kembali beraktivitas seperti biasa.
Upaya mereka sejengkal demi sejengkal membuahkan hasil. Aku sudah tak mengurung lagi di dalam kamar. Aku sudah tak mau lagi bunuh diri. Tapi untuk urusan membuka hati pada lelaki lain belum bisa Aku lakukan.

Aku pun tak pernah lagi melihat Arsyad. Kata teman-temannya, ia pindah kuliah ke Jakarta. Aku juga tak terlalu memedulikan dia. Rasa ketergantunganku kepada Arsyad sudah sirna. Untuk memenuhi kebutuhanku Aku mulai kerja paruh waktu. Mengajar privat untuk anak SD hingga SMA, Aku ambil. Bekerja kasar di rumah makan pun, Aku sambar. Hasil dari kerjaan ini sudah mampu membiayai kuliahku dan kebutahanku sehari-hari. Aku mulai berpikir untuk bekerja lebih keras lagi untuk mengirimi orang tuaku uang.

Dear Diary
16 September 1987, Setahun berselang, setelah Aku merasakan pedihnya ditinggal kekasih tanpa alasan yang jelas. Aku sudah menjadi orang yang baru. Tahun ini memasuki satu setengah tahun Aku menjadi mahasiswi di kampus Unesa. Kesibukkanku semakin bertambah. Aku juga menjadi fungsionaris di lembaga kemahasiswa yang bergerak di bidang HIV/AIDS.

Kuliahku selesai sore ini. Aku, Erni, dan Raya berencana akan pulang bersama. Namun entah mengapa Erni membatalkan pulang bersama. Katanya dia akan ke toko serba ada (Toserba) untuk membeli sesuatu.

“Kalian duluan aja pulang, ada yang mau saya beli di Toserba dekat kampus,” kata Erni.
“Kami temani yah,” timpal kami bersamaan.
“Tidak usah, saya hanya sebentar,”selah Erni.

Entah mengapa hari ini Erni bertingkah aneh. Tak biasanya dia pergi sendiri. Biasanya bersama Aku atau Raya. Tadi pagi memang Erni lama sekali mandi. Biasanya dia paling cepat mandi. Mukanya pun pucat.

“Kemarin saya melihat Erni marah-marah di telpon, tapi saya tak mengetahui sebab dia marah,” ungkap Raya.

Aku dan Raya sudah berada di rumah. Erni belum pulang. Dia masih belanja di toserba dekat kampus. Lama kami menunggu namun Erni tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya. Kami sudah tidur. Suara teriakan terdengar dari dalam WC.

“ Itu suara Erni,kataku pada Raya.
“Benar, Ayo bergegas ke sana,” jawab Raya.
Setelah tiba di depan pintu WC. Tiba-tiba Erni memeluk kami berdua. Ia menangis. Kami tak tahu sebabnya.

Bersambung di lain kesempatan.....

JANGAN LUPA SUBSCRIBE AKUN YOUTUBEKU!


Dear Diary: Aku adalah Pelacur (4)



Aku sebenarnya mau menerima ajakan Ibnu. Aku cinta Dia. Namun Aku takut Ibnu menjadi Arsyad. Ibu mungkin sanggup namun Aku sangsi jika kejadian ini menimpa padaku. Aku sudah termakan kalimat-kalimat diary Ibu. Aku tak bisa membendung perasaan untuk menolak Ibnu. Meski hati ini mengatakan iya. Maafkan Aku Ibnu yang telah membohongimu.
“Maaf yah Ibnu, Aku belum siap, Aku mau sendiri dulu,” jawabku.
“Tak apa-apa Lis,” tanggap Ibnu dengan nada kecewa.

Ibnu tak memperlihatkan kekecewaannya dengan penolakanku. Dia tak memaksaku. Sikapnya membuat Aku tambah respect padanya. Perasaan cintaku padanya semakin besar. Tapi lagi-lagi kalimat-kalimat Ibu memaksaku untuk memendam rasa ini dalam-dalam. Sampai tak ada celah untuk meluapkan perasaan cintaku. Yang tak dapat Aku percayai sikap dan perhatian Ibnu tak berubah kepadaku.

Hari ini Ibnu berencana mengajakku mampir ke rumahnya. Tanpa berpikir panjang ajakannya Aku terima. Dalam perjalanan ke rumahnya Ibnu banyak bercerita tentang latar belakang keluarganya. Ayah Ibnu adalah alumni Unesa jurusan Bahasa Inggris angkatan 84.
“Ayah dulu kuliah di Jurusan Bahasa Inggris,” ungkap Ibnu
“Satu jurusan dong dengan Ibuku.”
“Memang Ibumu angkatan berapa?”
“Ibuku angkatan 86.”
“Berarti junior ayahku yah.”
“Benar. Siapa nama ayahmu?”
“Jalaluddin Rahmat.”
“Oh…Nanti Aku Tanya Ibuku, Apakah kenal dengan Ayahmu.”
“Iya. Ayahku sekarang tak berada di rumah. Dia keluar daerah.”
Andai Ayah Ibnu ada di rumahnya, Aku akan tanya tentang kisah Ibu dengan Arsyad. Mungkin saja Ayah Ibnu tahu kisahnya.

Tanpa terasa perjalanan kami serasa singkat. Aku dan Ibnu sudah sampai di rumahnya. Motor cross-nya Dia parkir  di bagasi. Rumah Ibnu sangat besar. Bertingkat dua. Model rumahnya ala Eropa. Dari luar terlihat bak istana. Ada taman luas di depan rumah. Berbagai macam tumbuhan dan bunga tumbuh di halaman. Mobil keren dan mahal berjejer di parkiran. Honda City dan Toyota Fortuner dibiarkan begitu saja terparkir tanpa ada pelindung cahaya matahari. Penjaga rumah terlihat siap siaga selalu.

Memasuki rumah, Aku semakin takjub dengan interior rumahnya. Tengah rumah ini sangat luas. Perabotan rumah terlihat sangat mahal. Kursi tamu terbuat dari kayu hitam bercap made ini Jepara. Terdapat lukisan dengan nilai seni tinggi dengan tanda tangan tangan, Affandi, Maestro Seni Lukis Indonesia. Aku merasa minder datang ke rumah Ibnu. Aku tak pernah menduga Ibnu adalah anak orang sukses. Setiap hari Ibnu ke kampus dengan pakaian yang lusu, tak pernah disetrika. Memakai motor cross dengan body lecet sana-sini. Tak pernah dicuci. Suara bising. Asap tebal mengepul.  Tak jarang motor Ibnu mendapat sindiran dan celaan. Dikatakan Obat nyamuk-lah.  Fogging -lah. Kaleng bekas-lah. Banyak lagi yang tak bisa Aku ungkapkan. Ibnu santai saja menanggapi sindiran dan celaan mereka. Dia justru percaya diri saja memakai motor cross-nya.

“Emang, apa kerjaan Ayahmu?”
“Ayahku kerja sebagai konsultan di Dinas Pendidikan Sulsel.”
“Pantas.”
“Pantas apanya Lis?”
“Pantas rumahmu besar, ayahmu orang kaya.”
Hari ini Aku seperti orang yang baru memasuki istana. Aku seperti orang bodoh melongok sana sini. Bertanya sesuatu yang tak penting. Kegirangan sendiri. Tak lama kemudian ibunya muncul.
“Ibnu siapa perempuan cantik ini,”
“Teman kelas Ibnu bu,”
“Kenalkan, aku Siska, ibu Ibnu,dengan uluran tangan mengarah kepadaku.
“Lisa bu, teman kelas Ibnu,sambutku.

Senyum hangat terpancar dari bibir ibu Ibnu. Ibu Ibnu pun mengajak kami menuju ruang makan. Semua makanan sudah tersedia. Sajiannya seperti restoran berbintang lima yang terlihat di televisi. Aku baru melihat makanan semewah ini. Paling tinggi yang pernah Aku tempati makan cuman di restoran cepat saji milik Negara Amerika Serikat. Itu pun bersama teman-teman. Ibu tak sempat membawa kami ke restoran. Ayah apa lagi, ia sangat jarang  di rumah. Meski kami bisa juga ke restoran. 

Suasana makan siang menjadi ajang nostalgia ibu Ibnu sewaktu masih kuliah. Aku hanya tertunduk. Menjawab jika ditanya. Habis itu kembali malu dan back to first position, menundukkan wajah. Tak terasa dua jam kami duduk bertiga di meja makan. Kami telah menyelesaikan santap siang satu setengah jam lalu. Selebihnya adalah cerita tentang kuliah ibu Ibnu, pertemuan ibu dan ayah Ibnu, masa kecil Ibnu. Hari ini Aku tahu banyak tentang keluarga dan Ibnu sendiri. Namun hal itu belum bisa menghancurkan bendungan rasa takutku untuk menyambut cinta Ibnu. Sehabis cerita panjang dengan Ibnu dan ibunya, Aku mohon diri.
“Sering-sering yah mampir ke rumah!”pesan ibu Ibnu.
“Pasti bibi,” jawabku sambil mencium tangannya.
Ibnu pun mengambil kembali motor cross-nya. Suara motornya sudah berderu. Aku sudah naik. Ibu Ibnu pun mengantar kami.
“Mengapa kamu tak naik mobil ke kampus?”
“Ah. Aku malas. Cewek-cewek kampus godain aku.”
“Kamu PD sekali akan digoda cewek-cewek kampus.”
“Lihat aja teman-teman yang pakai mobil ke kampus, mereka kan selalu digoda, uangnya diperas, terus ditinggalin oleh serigala-serigala berperawakan cantik bernama perempuan.”
“Kamu benar juga.”
“Saya juga melihat mereka masuk ke dunia hitam. Memakai obat-obatan, minum-minum hingga berakhir di panti rehabilitasi BNN. Akhirnya masa depan mereka hancur,”timpal Ibnu.
“Betul juga yah.”

bersambung 

JANGAN LUPA SUBSCRIBE AKUN YOUTUBEKU!


Friday, 28 December 2012

Kaleidoskop 2012: My Life, My Destiny

28 Desember 2012, Akhirnya penghujung tahun 2012 kian mendekat. Ada banyak cerita menghiasi perjalanan hidupku tahun ini. Mulai dari back to campus setelah melewati perjalanan panjang di dunia lembaga kemahasiswaan, Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Parepare, bertemu dengan teman baru sekaligus berpisah dengan teman lama. Inilah mungkin konsekuensi dari sebuah kehidupan.

Berbicara tentang back to campus, mungkin teman-teman yang membaca tulisan ini berpikir. Memang  ke mana saja selama ini?Maka saya menjawab Saya dari perjalanan yang panjang. Tiga tahun lamanya bergelut di dunia yang asing dan baru saya kenal. Jurnalistik, nama dunia itu. Diskusi, Isu, Protes, Kebebasan, Menulis. Ini adalah sebagian dari sisi-sisi dunia jurnalistik yang saya geluti. Ada banyak pengorbanan. Waktu, kuliah dan materi adalah segelintir dari kurasan pengorbanan Saya. Penggerogotan mental menjadi pengorbanan terbesar Saya. Dicaci dan ditolak menjadi makanan lazim ketika masih bergelut di dunia ini. Tapi hasilnya telah memberi manfaat saat ini. Saya bisa bekerja dengan gaji yang cukup untuk hidup sebulan.

Setelah kembali menjalani hari-hari menjadi mahasiswa pada umumnya, kuliah. Hampir semua aktivitas lembaga kemahasiswaan Saya tinggalkan. Saya kembali menjalani kuliah, praktikum, dan berdialog tentang keilmuan Jurusan Biologi. Setelah fokus dengan Ilmu Biologi setahun belakangan ini. Saya merasa religius dan merasa benar-benar manusia dikendalikan oleh kekuatan yang maha dahsyat, kekuatan Tuhan. Semakin Saya mencoba mendalami Ilmu ini, saat itu pula muncul pertanyaan yang tak bisa Saya dapatkan. Patah arang.

Namun ketidaktahuan ini semacam candu untuk terus mencari kebenaran di balik kebenaran.

Terlepas dari kuliah aktif selama setahun ini akhirnya tiba juga menjalani KKN. Aku mengambil KKN yang dipadukan dengan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di Kota Parapare. Nuansa di sana memang tak seperti daerah lain. Nuansa kota sangat terasa. Bak tak beranjak dari Makassar. Suatu kesyukuran karena Saya ditempat di daerah pedesaanya. Hingga nuansa pedesaan tetap kami rasakan. Saya menjalani masa-masa KKN di bersama delapan belas teman yang berasal dari empat fakultas berbeda. Ada dari Fakultas Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Fakultas Seni dan Desain dan terakhir Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, fakultas Saya. Suasana KKN memang sangat berbeda dengan suasana kampus. Bergaul dengan masyarakat baru, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan bekerja sama dengan teman baru. Saya anggap aktivitas ini sangat menyenangkan. Khazanah hidup semakin kaya.

Terakhir yakni pertemuan dan perpisahan dengan teman sejawat.  Pertengan tahun ini menjadi kado perpisahan untuk teman-teman kuliah. Lebih dari 3 tahun kami  bersama, akhirnya beberapa teman sudah hengkang dari kampus. Mereka telah menyelesaikan kuliahnya. Mulanya hanya lima kini hampir semua meninggalkan kampus. Setelah menjadi sarjana, sebagaian dari mereka melanjutkan studi ke jenjang selanjutnya, Strata dua. Ada yang menjadi tenaga honorer. Namun ada juga yang masih menganggur. Aku sekarang mencoba menyusul mereka.

Pertemauan dengan teman KKN menjadi kado saya juga di pertengahan tahun ini. Mereka semua berlatar belakang sangat berbeda. Ada Susi dengan badan atletiknya namun hatinya lembut. Ada Sufyan dengan ketekunannya. Ada Lisma dengan godaannya. Ada Imha dan Ewy dengan perhatinnya. Ada Aviv, Mul dan Ozy dengan kemeriahan dan keanggunan seninya. Ada Maryam dengan kepeduliannya kepada anak-anak. Ada Arina dengan kerajingannya memasak. Ada Kris dengan film koreanya. Ada Ode dengan kerajingannya di seksi antar surat dan perlengkapan. Ada Adin dengan kesiapannya untuk kerja kasar. Ada Kahfi dan Malwadi dengan kegigihannya memimpin posko. Ada Endang dengan kejutannya. Ada Maman yang akarba disapa Habibie dengan kemauannya untuk terlibat di segala aktivitas KKN. Terakhir yang hampir terlupa ada Indah dengan talk less do more-nya.
Mudah-mudahan kalian sehat dan tak terjadi malapetaka sehingga kalian lupa dengan kebersamaan kita selama tiga bulan di Kota Bandar Madani. Akhir dari perpisahan Kita disuguhi dengan cucuran keringat plus air mata. Bahkan yang tak akan pernah saya lupakan adalah Adin dan Aviv. Saya melihat mereka adalah style lelaki jantan zaman sekarang. Namun mereka sangat lembut dan ternyata terjadi juga hujan di mata mereka. Mungkin ini dulu yang Aku katakan untuk teman-teman KKN-PPL Lemoe. See you next time.

Cita-citaku sekarang tak muluk-muluk hanya ingin selesai di UNM tahun depan. Aku jalani saja kehidupan ini dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Punya kerjaan yang cukup untuk menabung. Entah peruntukan tabungan itu untuk lanjut sekolah atau sekalian menikah. Terakhir izinkan Saya menutup tulisan ini dengan mengutip kalimat Professional Speaker, Brian Tracy.

Setiap pria dan wanita sukses adalah pemimpi-pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka, berbuat sebaik mungkin dalam setiap hal, dan bekerja setiap hari menuju visi jauh ke depan yang menjadi tujuan mereka. (*)