Tuesday, 27 November 2012

Unforgiven


Samar-samar terdengar suara gesekan sandal dan aspal di depan rumah. Suasana hening. Tak ada kendaraan yang mondar-mandir meski rumahku ini di tepi jalan raya. Selang beberapa menit surauan azan berkumandang. Suasana masih saja hening. Hanya sesekali suara ayam berkokok.

Orang-orang di dalam rumahku masih ada yang terjaga namun tak beranjak memenuhi panggilan sang pencipta. Mereka mengerjakan pekerjaan yang entah apa. Penting atau tidak. Aku tak tahu. Menonton film, mengotak atik handphone, dan cuman berdiam meski mendengarkan surauan azan. Aku mencoba melihat ke luar rumah kudapati seorang lelaki paruh baya mengangkat sarung kotak-kotaknya. Ia bersama lelaki tua rentah yang lain menuju tempat ibadah umat Islam, Masjid.

Akupun diliputi rasa malas seperti mereka. Entah apa penyebab penyakit ini. Hingga seorang rasul seperti Nabi Isa tak tahu obatnya. Tak kuberi waktu diriku melamu dan mempertimbangan apakah pergi atau tidak. Aku mencoba melawan hingga berhasil lepas dari jeratan. Setan, sang penggoda, tak berhasil menahanku untuk menghadap ke hadapan sang pencipta. Tapi setan tak kapok. Dia mencoba menggodaku dengan pikiran duniawi. Sesaat ku mengangkat takbir terlintas pikiran duniawi.  Setan menggangguku dari segala penjuru arah kecuali di arah bawah. Semakin kucoba konsentrasi mengingat pencipta semakin gencar godaan setan. Benar kata penceramah bahwa semakin seorang mencoba beriman maka semakin besar juga godaannya. Maka tak jarang katanya seorang ustadz mengaji melakukan tindakan senono pada santrinya.

Subuh ini entah apa yang aku pikirkan sehingga begitu kerajingan menuju baitullah. Iya, Aku butuh pengamunan. Ampunan adalah maaf yang diberikan kepada sebuah tindakan yang tercela, tapi, karena berbagai pertimbangan, sudah dimaafkan. Jadi ampunanmerupakan hasil dari pertimbangan yang menyebabkan sikap mengalami perubahan.

Zaman sekarang manusia hanya mengurangi dosa. Kaki tangan iblis senantiasa melepas pesonanya yang akan menjebak manusia mengikuti jalan sesat, jalan iblis. Perempuan cantik untuk lelaki, materi berlimpah untuk dikorupsi, jabatan yang nyaman untuk kebutuhan fana. Ini hanyalah segelintir godaan sementara. Sedangkan nikmat tak terkira besarnya Aku lupakan.
Tujuh belas tahun aku mengenal Islam, agamaku. Namun aku merasa belum benar-benar mengenal dan tahu serta tak menjalankan ajaran agamaku ini. Shalat aku lalaikan, jarang berbuat baik kepada orang tuaku, merusak alam, tak berbuat baik terhadap makhluk lain. Parahnya lagi aku sombong, aku ego dan tak mau mengakui kesalahanku. Oh…Allah ampuni Aku. Aku lalai. Berlumur dosa. Aku selalu lupa denganmu dan mengkhianati perintahmu.

Setiap kali datang panggilan-Mu, Aku lebih mementingkan urusan duniaku yang fana, tak kekal, dan penuh dengan pelanggaran atas jalan-Mu. Sekarang Aku bingung apakah bagaimana Aku memohon maaf. Apakah Kamu dengan mudah memaafkanku?

Aku takut dan malu berdoa maaf terus karena pasti Aku langgar lagi. Ya, Aku pesimis akan menjalankan perintahmu dengan sempurna. Aku bukan nabi. Aku juga bukan wali dan kyai yang telah Kau takdirkan dan Kau latih mejadi wakilmu untuk menjalankan nilai-nilai luhurmu. Aku takut menjadi pembela agamamu jika hanya membenci makhluk lain seperti iblis dan pengikutnya, ciptaanmu juga. Aku hanya mau hidup damai dengan makhluk lain. Apakah Aku salah? Jika Aku membenci Iblis apa bedanya Aku dengan mereka yang membenci manusia.

Seandainya Aku mempunyai permintaan, maka aku minta saja menjadi tempat dudukmu, jika ada, yang akan selalu berada di bawahmu. (*)

Tuesday, 20 November 2012

Ibu dan Ritualnya

Sang fajar masih belum menunjukkan kilaunya. Suasana di rumahku yang terletak di tengah gang Kompleks Pasar Minasa Maupa, Keluarahan Tompobalang, Somba Opu, Gowa masih sepi. 

Sesekali hanya terdengar suara tapak kaki dan suara tikus yang berada di atas loteng. Aku sudah lama di tinggal di sini. 

Dulunya tempat tinggalku mempunyai banyak lapangan. Kami, anak-anak kompleks ini, begitu bebas memilih lapangan untuk bermain bola atau hanya memainkan permainan tradisional seperti Cangkek, Santo ataupun Asing.

Aku dan keluargaku sudah tinggal di daerah ini sejak 1997. Dulu rumahku hanyalah hamparan sawah yang datar. 

Namun, semakin tahun berganti, satu persatu bangunan didirikan. Di samping kanan, sebelah kiri, depan dan belakang rumahku hampir tak ada lagi area yang lowong. 

Jika aku naik ke lantai dua hanya tembok dan seng yang terlihat. Semuanya cepat sekali berubah. Hanya sepuluh tahun berselang hamparan sawah ini telah dipenuhi dengan betong. Semuanya telah tergerus oleh zaman modern.

Namun budaya keluarga kami hampir tak ada yang berubah. Ibuku mempunyai kebiasaan yang tak pernah tergerus zaman dan perilaku modern. Setiap pagi sebelum menuju tempat aktivitasnya, Ia mengambil air dari botol minuman mineral. 

Air ini Ia usapkan ke kening terus ke kedua kelopak matanya setelah itu Ia bersitkan ke seluruh ruangan yang berada di sekitarnya. Akupun iseng bertanya namun Sang Ibu menatap nanar dan membentak. “Ha...teamako akkuta’nangi (kamu jangan bertanya),” bentaknya kepadaku.

Sejak saat itu, akupun hanya diam dan memperhatikan ritual Ibu setiap subuh. Ritual ini adalah segelintir ritual-ritual aneh Ibu. 

Suatu ketika Ayahku sakit namun tak ada dokter yang tahu jelas apa penyakitnya. Ia pun memboyong Ayahku ke “orang pintar” (dukun). Segala macam hal yang dikatakan dukun itu diterima mentah-mentah oleh Ibu dan Ayahku. Maka bertambahlah ritual dari Ibuku. Ia tetap mempercayai perkataan dukun itu meski sakit Ayahku tak kunjung sembuh.

Air dan Celana Dalam Ayah
Sejak kecil kedua adikku tak pernah akur. Ketika mereka ketemu pasti ricuh. Suara teriakan saling memaki setiap hari memecah ketenangan rumah. Entah apa masalah mereka sehingga saling beradu mulut dan fisik bak dua ekor singa jantan. Akupun biasanya tak kuasa untuk melerai.

Suatu ketika, Aku pulang dari sekolah dan membuka kulkas kulihat segelas air dan terdapat celana dalam di dalamnya. Aku langsung jijik dan ingin membuang air itu. “Siapa orang bodoh menaruh air dengan celana dalam di dalamnya,” gerutuhku.

Sesaat air ini akan kubuang, Ibu melihat dan menghentikanku. Ia pun menyuruh aku meletakkan kembali air tersebut di dalam kulkas. “Untuk apa air dan celana dalam di dalam kulkas?,” tanyaku. 

“Itu diminum kedua adikmu karena sering berkelahi,” jawabnya. Akupun spontan bertanya. “Kenapa mereka diberikan minuman dengan celana dalam di dalamnya dan ini celana dalam siapa,” tanyaku balik. “Itu celana dalam milik ayahmu agar mereka berkelahi lagi,” tegasnya.

Aku tak tahu apakah kedua adikku meminum air tersebut. Yang jelas mereka tak tahu. Namun setelah peristiwa itu, Aku tak pernah lagi melihat kedua adikku berkelahi. Ibu meyakini ritual tersebut.

Mungkin ritual ini tak masuk akal, irrasional, tak terjangkau oleh nalar. Namun ketika dewasa, saya tak pernah lagi menganggap hal tersebut tak masuk akal. 

Karena memang hidup ini memang tak masuk akal. Tradisi dan ritual orang-orang dahulu mereka yakini dan jalankan secara turun temurun. Apakah akan berhenti di tangan kita? Entahlah. Aku masih ragu. (*)

Sunday, 18 November 2012

Manusia Tidak Tercipta dari Tanah dan Air

Jasad Slobodan Milosevic sedang diangkat oleh warganya 
Ada manusia tamak namun ada juga manusia bersyukur. Ada manusia diliputi penyakit hati, dengki, iri, benci namun ada saja manusia yang baik, senang jika saudaranya bahagia, dan tak pernah merasa susah dengan keadaan yang diberikan Tuhan kepadanya. Ada manusia kaya, kikir kepada dirinya dan orang lain. Namun ada juga manusia kaya yang selalu bersedekah, membantu dirinya dan orang lain. Ada manusia yang ketika mudah berjiwa udtadz namun ketika dewasa berjiwa preman. Namun ada juga manusia yang dulunya berjiwa iblis ketika dewasa berjiwa malaikat. Siapakah kamu sebenarnya manusia? Bukankah elemen tubuh manusia satu dengan lainnya sama. Manusia punya darah, ada daging, otak dan elemen tubuh lainnya. Akal adalah jawabannya. Tapi mengapa akal tak mencegah untuk bersifat seperti iblis. Justru sifat negatif merasut dan membuat manusia terjerembab ke dalam lubang gelap nan sesat.


Perselisihan belakangan ini di Nusantara baik di Makassar maupun di daerah lain memperlihatkan sifat atau wujud dari sifat manusia yang pemarah, benci dan dendam hingga membunuh. Apakah itu sifatmu manusia? 

Dahulu kala ketika perang dunia berkecamuk pembantai manusia terjadi di sana sini. Nazi membantai penduduk beragama Yahudi. Pemimpin Serbia Slobodan Milosevic mengobarkan perang Balkan dan membantai ribuan warga Muslim di Bosnia. Agresi Militer Belanda dibawah pimpinan Kapten Wasterling membantai 40,000 jiwa di Sulawesi Selatan. Manusiakah yang melakukan ini? Saya menjawab manusialah yang melakukan ini. Manusia yang pembenci, merasa diri paling unggul, merasa diri adalah Tuhan. 

Pertanyaan yang lagi-lagi bergema dalam diri, Siapakah manusia sebenarnya? Jika manusia seperti Hitler, Slobodan Milosevic, dan Kapten Westerling tapi mengapa Allah swt. Mengatakan manusia adalah mahkluk yang mulia. “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam…” (QS. Al-Isra:70). 

Ratusan tahun telah dihabiskan oleh manusia untuk mencari jati dirinya. Namun tak ada yang bisa menjawabnya. Dr. Alexis Carrel (1973-1944), seorang ahli beda asal Francis mencoba untuk membuka tabir tentang hakikat manusia akan tetapi Ia tak mampu memahaminya dan justru makin bingung sehingga ia mengeluarkan buku yang diterjemahkan berjudul Manusia, Mahkluk tak Dikenal. 

Prof. Dr. Ahmad Syauqi Ibrahim dalam bukunya “Misteri Potensi Gaib Manusia” mengatakan bahwa Manusia adalah makhluk hidup yang berakal; tidak berwujud fisik; bersifat kekal-tidak bisa mati-karena rohnya kekal; dan tidak terbatas oleh waktu. Manusia bukanlah fisik; fisik itu adalah raga manusia. Lantas manakah yang disebut manusia? Manusia tak diciptakan dari tanah dan segumpal darah (air) hanya raga manusia diciptakan dari materi itu. 

Sehingga Saya bisa menjawab orang-orang yang mempunyai rasa dengki, benci, iri, tamak, pembunuh adalah mereka yang tak mengenal jati dirinya atau membohongi jati dirinya. Cara mengetahui hakikat manusia adalah mempelajari roh, jiwa dan akal terlebih dahulu. 

Seandainya Sifat Manusia seperti Tubuhnya 

Sebuah cerita tentang ibu dan anak, suatu saat Amir sedang santai di beranda rumahnya. Ia mengerjakan tugas kuliah untuk dikumpul besok. Ia semester V. Dosennya sudah berjanji jika tugasnya masuk maka nilai A sudah menanti. Sang bunda pun memanggil Ia untuk ke rumah sakit dan menjaga ayahnya yang sedang sakit keras. Ibu: “Nak kamu ke rumah sakit dulu menjaga ayahmu entar Ibu nyusul, Saya siapkan dulu baju dan makanan,” pinta sang ibu. Amir: “Saya kerja dulu tugas saya bu.” Sejam kemudian ada telpon dari keluarga di rumah sakit bahwa Ayah Amir telah meninggal 5 menit yang lalu. Penyesalan pun menyelimuti Amir. “Seandainya saya lebih cepat maka saya akan ada di samping Ayah,” sesalnya. 

Menunda adalah sifat yang tak dimiliki oleh tubuh manusia. Jika seorang manusia lapar maka lambung akan mengeluarkan asam klorida sehingga merangsang otak untuk cepat memenuhi kebutuhan ini. Kaki akan bergerak menuju sumber makanan dan tangan masukkan makanan ke dalam mulut. Sel darah putih tak akan menunda membunuh kuman dan bakteri yang mengancam tubuh. Sel tak akan menunda membagi dan menyalurkan makanan kepada sel yang tetangganya. Paru-paru tak akan menunda mengeluarkan gas CO2 karena jika menunda keinginan dari organ maupun bagian tubuh lainnya akan berakibat fatal yang membuat manusia itu mati. Semua peraturan telah disepakati oleh bagian tubuh. Jika melanggar maka langsung ditindak. 

Mereka mempunyai sifat peduli, tak iri, tak benci, dan menyakiti bagian organ lainnya. Usus tak mementingkan dirinya sendiri dengan memonopoli makanan. Ia kemas dan edarkan hingga bagian tubuh yang paling sulit dijangkau. Kaki tak akan iri dan benci kepada kepala meski kaki sering merasakan kesusahan dengan selalu di bawah. Kulit tak akan pamrih memberikan perlindungan kepada daging meski kulit selalu tersiksa dengan cuaca dingin dan panas. 

Seandainya manusia mempunyai sifat seperti tubuhnya. Pasti hidup akan damai. (*)

Thursday, 15 November 2012

Manusia Berevolusi dan Kembali ke Titik Nol

Sejak zaman Yunani kuno orang-orang telah banyak memperbincangkan dan mempertanyakan darimana manusia berasal dan tujuan manusia diciptakan. Plato, Aristoteles, Carolis Linnaeus, Galileo, Kepler dan banyak lagi ilmuwan mempertanyakan asal usul kehidupan manusia. Aristoteles (384-322 SM) terkenal dengan teori yang kita sebut dengan teori Abiogenesis. Teori Abiogenesis ini menyatakan bahwa makhluk hidup yang pertama kali menghuni bumi ini berasal dari benda mati yang berasal dari lumpur. Teori ini bertahan dan menjadi keyakinan ilmuwan hingga abad 17.

Namun pendapat Aristoteles dibantah oleh ahli yang tak sepaham dengan teorinya dan memunculkan teori Biogenesis. Teori Biogenesis adalah suatu teori yang mengemukakan bahwa asal kehidupan suatu makhluk hidup berasal dari makhluk hidup pula. Semboyan teori Biogenesis adalah “omne vivum ex ovo” (makhluk hidup berasal dari telur) “omne vivum ex vivo” (makhluk hidup berasal dari makhluk hidup yang telah ada). Pernyataan inilah yang menginspirasi pemuda asal Shrewsbury, Shropshire, Inggris, Charles Robert Darwin. Mahasiswa Teologi Universitas Cambridge. Minat tersebut mendorongnya bergabung secara sukarela dalam ekspedisi pelayaran dengan sebuah kapal bernama H.M.S. Beagle, yang berangkat dari Inggris tahun 1832 dan mengarungi berbagai belahan dunia selama lima tahun. Darwin muda sangat takjub melihat beragam spesies makhluk hidup, terutama jenis-jenis burung finch tertentu di kepulauan Galapagos. Ia mengira bahwa variasi pada paruh burung-burung tersebut disebabkan oleh adaptasi mereka terhadap habitat. Dengan pemikiran ini, ia menduga bahwa asal usul kehidupan dan spesies berdasar pada konsep "adaptasi terhadap lingkungan".

Menurut Darwin, aneka spesies makhluk hidup tidak diciptakan secara terpisah oleh Tuhan, tetapi berasal dari nenek moyang yang sama dan menjadi berbeda satu sama lain akibat kondisi alam.  Namun Darwin saat itu tak mampu menjelaskan tentang variasi pada mahkluk hidup. Hal ini pun Ia tuliskan tentang keragu-raguan di dalam bukunya The Origin of Species pada bab Difficulties of the Theory. Kesulitan-kesulitan ini terutama pada catatan fosil dan organ-organ rumit makhluk hidup (misalnya mata) yang tidak mungkin dijelaskan dengan konsep kebetulan, dan naluri makhluk hidup. Darwin berharap kesulitan-kesulitan ini akan teratasi dengan penemuan-penemuan baru.

Namun sapa nyana banyak orang mengartikan negatif penemuan dari Darwin ini. Bahkan sebagaian pemuka agama menyatakan Darwin sesat. Namun tak sedikit ilmuwan dan pemimpin kala itu yang menganggap Darwin adalah inspirasi. Harun Yahya menyebut Hitler, Musolini dan Karl Max adalah pengikut Darwin. Hitler dengan Nazi-nya jelas-jelas menganut dan menerapkan paham Darwinisme yang menyatakan bahwa spesies yang unggullah yang akan survive, sementara spesies yang lemah akan punah. Dengan menempatkan bangsa Jerman sebagai ras Arya yang unggul, dia melakukan pembantaian terhadap jutaan kaum Yahudi dan kaum lainnya. Meski sudah tiada, saat ini pengaruh orang–orang tersebut tidaklah sepenuhnya hilang.

Teori ini menurut saya berakhir pada perdebatan siapa pencipta manusia dan mahkluk hidup lain. Saling silang pendapat tak akan pernah berakhir hingga bumi ini benar-benar musnah. Kematian tokoh akan memunculkan orang-orang lain dari paham matearalis dan paham agama. Apakah Tuhan akan duduk manis dan menjadi penonton saja atas perdebatan ini?

Evolusi Manusia Modern
Teori Darwin yang menyatakan bahwa hanya mahkluk yang mampu beradaptasi yang akan bertahan, menurut saya adalah sebuah kebenaran absolut. Masyarakat modern sekarang mempraktekkan hal itu. Teori adaptasi dan seleksi alam tertanam dalam jiwa manusia saat ini.  Semboyang yang terkenal adalah siapa yang kuat akan bertahan yang sering disebut hukum rimba. Contoh kecil, Anda tak akan bisa menjadi seorang pemimpin daerah jika tak mempunyai uang dan pengaruh. Hanya orang-orang berduit banyak yang bisa menjadi bupati dan gubernur, bukan seorang ilmuwan yang hanya mengandalkan kecerdasan dan kepintaran.

 Evolusi manusia modern berawal sejak Revolusi Industri di Francis. Semua kegiatan manusia dibantu dengan mesin. Transportasi, makanan, pertanian,  hingga  peralatan senjata, semua diproduksi secara massal. Petani bermigrasi menjadi buruh pabrik, sawah dan kebun mereka tinggalkan. Anak desa tak mau menjadi petani, maunya menjadi pegawai kantoran. Anak nelayan tak mau menjaring ikan, maunya menjadi aparat negara. Mahasiswa tak mau jalan kaki maunya naik motor atau mobil ke kampus. Pemimpin tak mau mengunjungi rakyatnya maunya dia yang dikunjungi. Namun beda cerita jika pemilihan akan dimulai. Semuanya ingin kemudahan. Semuanya membutuhkan energi besar.

Sejak Revolusi Industri memang semua menuntun manusia pada kemudahan. Ingin makan ada makanan cepat saji, Ingin bertemu kolega dan keluarga ada telpon dan internet. Ingin ke Jakarta tinggal naik pesawat, dua jam kemudian sampai ke Ibukota Indonesia.

Menurut data Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bapennas) tahun 1999 produksi Indonesia Bahan Bakar Minyak dan bahan bakar fosil berupa gas alam, panas bumi, batubara  mencapai 95%. Konsumsi kebutuhan energi di Indonesia berdasarkan kebutuhan rumah tangga, transportasi dan industri berdasarkan Outlook energi Indonesia tahun 2011 yang dikeluarkan BPPT, dijelaskan bahwa konsumsi energi pada kurun waktu 2000 – 2009 meningkat dari 709,1 juta SBM pada tahun 2000 menjadi 865,4 juta SBM pada tahun 2009 atau meningkat rata-rata 2,2% pertahun. Sumber energi yang digunakan sebagian besar masih bergantung dari energi yang berasal dari fosil. Hal ini tak jauh berbeda dengan sumber energi Indonesia tahun 2012.

Hasilnya atmosfir dipenuhi dengan gas CO2, yang sangat beracun untuk manusia dan hewan tingkat tinggi. Panas bumi meningkat, pencemaran lingkungan tak terkendali, percepatan pencairan es di kutub utara, anomali cuaca, kekeringan, kebanjiran, dan kekacauan yang membuat dunia ini semakin cepat musnah.

Manusia telah membuka kotak Pandora berupa fosil mengandung CO2 yang dikubur oleh Tuhan di dalam perut bumi. Hingga datang manusia yang lapar akan energi dan ingin hidup mudah. Sehingga menyebabkan bumi ini akan kembali ke masa awal bumi menurut paham Abiogenesis, dimana tak ada manusia, hewan multiseluler, dan tumbuhan tingkat tinggi. Hanya ada hewan uniseluler, panas bumi mencapai 4.000-5.000oC. Keadaan ini tidaklah mustahil terjadi melihat fenomena sosial dan alam yang terjadi.

Tak dapat ditampik lagi bahwa Revolusi Industri telah membawa kehidupan mahkluk hidup tak terkecuali manusia semakin dekat dengan penderitaan dan kehancuran. Manusia kembali lagi ke titik nol, titik awal asal usul mahkluk hidup menurut sekali lagi teori Abiogenesis.

Manusia cuman memperlambat kehancuran bumi. Suhu di bumi mencapai kenaikan 1 derajat setiap tahun. Apalagi ditambah dengan aktivitas berupah penggunaan gas karbondioksida dan beracun lainnya secara berlebihan. Maka, kehancuran mahkluk hidup akan lebih cepat lagi. Solusinya porsi energi terbarukan mesti lebih banyak. Sumber energi mesti ramah lingkungan. Energi nuklir mesti dilirik. Pusat alam semesta menggunakan energi nuklir yang bisa dikonversi ke bumi. Anak cucu kita mempunyai hak untuk hidup di bumi ini nantinya. Keputusan terakhir semua kembali pada kesadaran diri dan pemimpin politik semua Negara. Apakah akan memperlambat atau mempercepat kehancuran bumi. (*)


Sunday, 11 November 2012

Sulawesi Selatan Butuh Pemimpin Visioner (Catatan Menuju Pemilukada Gubernur Sulsel)


“Padahal, ada yang lebih baik, yaitu jika kita berbuat semata-mata demi kebaikan, menyadari hal itu benar, tanpa memedulikan apa akan mempersulit diri sendiri atau bagaimana sikap orang lain.” Stephen R. Covey, penulis buku 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif.

Untuk menjadi pemimpin yang visioner, Stephen R. Covey mengajak kepada kita untuk berpikir lebih dalam, pemimpin itu juga akan mati dan semua sepak terjangnya ketika memangku jabatan akan dipertanggungjawabkan. Rakyat yang Dia pimpin akan memberikan penilain atas apa yang telah mereka rasakan. Apakah memuji, mencela atau bahkan menghardik.

Tapi bukan penilaian rakyat yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin tapi apakah mereka telah berbuat hal-hal yang benar untuk kebaikan. Mahatma Gandhi bukan hanya sosok pemimpin politik yang berhasil membawa India bebas dari cengkraman Inggris, tetapi juga ia menjadi simbol kekuatan spiritual. Gandhi percaya bahwa ahisma, tanpa kekerasan, amat penting untuk mencari kebenaran. Menyerang lawan dengan menjelek-jelekkan ataupun membuka aib seseorang akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Gandhi hidup sederhana, tidak egois. Tak sedikit pemimpin yang gila harta dan jabatan justru terjungkal. Meski mereka sesungguhnya sudah kaya dan berkuasa namun tetap merasa miskin dan tidak punya kuasa. Joko Widodo mungkin mempunyai ciri-ciri Gandhi. Bekerja untuk kebaikan dan diyakinikan juga oleh dirinya sendiri. Kita merindukan sosok pemimpin seperti mereka. Bekerja untuk kebaikan.

Bagi saya pemimpin adalah teladan. Jika seorang calon pemimpin diterpa isu-isu negatif maka jalan satu-satunya adalah marah. Namun kemarahan ini meski mereka ubah menjadi kasih sayang. Energi negatif ini mereka ubah menjadi energi positif. Malcolm X pernah mempraktikkan hal tersebut dan berhasil.

Jika sudah menjadi motor penggerak perubahan positif. Maka sekarang persoalannya adalah bagaimana energi positif itu sampai ke rakyat. Jawabannya adalah konsisten. Jika terus konsisten maka energi ini akan mengkristal dan terpatri ke dalam hati dan jiwa rakyat. Membiasakan diri dan rakyat akan gaya kepemimpinan yang visioner dan revolusioner menurut kebaikan yang benar. Seorang pemimpin mesti rendah hati, mensyukuri atas apa yang diberikan Tuhan. Menjadikan pekerjaan ini sebagai calling finding atau panggilan jiwa. Pemimpin dipilih oleh Tuhan, rakyat adalah tangan Tuhan.

Bahaya Kekuasaan
Ada sebuah kisah dari negeri tirai bambu, seorang gubernur di Tiongkok (dinasti tang), bernama Pai Le-tien melihat biksu melakukan meditasi di atas pohon. Rahib terkenal dengan nama Niao-ke ‘Sarang Burung’. Gubernur Pai berkata: Alangkah bahayanya engkau dengan kedudukan seperti di atas pohon.” Niao-ke menjawab. “Kedudukanmu jauh lebih berbahaya daripadaku.” “Aku gubernur, aku tidak melihat bahaya padanya.” “Nah, engkau tidak mengenali dirimu sendiri. Bilamana nafsu keinginanmu membakar dan hatimu terombangambing, apalagi yang lebih berbahaya dari itu?” Kisah ini mencoba mengingatkan akan bahaya sebuah jabatan.

Kisah ini sama halnya dengan gunernur terpilih nanti. Seorang gubernur yang mengikuti nafsu untuk berkuasa dengan jalan-jalan korupsi, berbuat semena-mena, tidak acuh terhadap rakyatnya, maupun menindas rakyatnya. Sikap ini adalah malapetaka untuk rakyat.

Menjadi Rakyat Antisuap
Kurang dari 3 bulan lagi Sulawesi Selatan akan memilih pemimpin, pemilihan gubernur. Ketiga calon sudah terpilih untuk bertarung menuju DD 1. Manuver politik dari para calon untuk menjadikan dirinya gubernur sudah dimulai jauh hari sebelum penetapan calon. Daerah-daerah di Sulsel yang hampir tak pernah dijamah oleh mereka, kini makin intens dikunjungi. Rakyat Sulsel menjadi target mereka. Mudah-mudahan ketika terpilih nanti, kegiatan ini mereka lakukan dan tak hanya muncul ketika sang pemimpin mau dipilih.
Memang berat menjadi pemimpin, ada banyak kriteria. Punya massa, punya pendukung loyal, punya tim yang kuat dan kompak. Namun kata orang-orang, kriteria utama adalah uang. Seorang calon gubernur setidaknya mesti punya uang sekurang-kurangnya Rp20 Milyar untuk maju bertarung. Membayar kerja tim, membeli suara partai pendukung maupun kebutuhan lainnya. Terkait suara rakyat, ada sebuah prinsip klasik “Anda Jual Saya Beli”. Suara sekarang harus dibeli. Sangat jarang yang mau memberikan suaranya jika tak diberi imbalan, meskipun imbalannya tak seberapa ketimbang kesejahteraan jangka panjang jika rakyat memilih pemimpin yang tepat.

Jika rakyat menerima suap. Apa bedanya kita dengan anggota DPR dan DPRD yang menerima terjerat kasus suap. Mengapa kita mesti menghardik mereka jika kita mau juga suap. Lucu sekaligus miris melihat rakyat yang demikian.

Selain itu rakyat yang memilih nanti mesti mempunyai hati nurani bukan karena nafsu berupa imbalan jabatan ataupun harta. Menurut Nurcholish Madjid , kesucian manusia bersumber dari hati nurani manusia sendiri. Nurani ini bersifat abadi, konstan, tidak berubah, karena manusia selalu berpihak pada nilai-nilai kebenaran. Jadi jika saat kita tak menggunakan hati nurani maka kita tak lebih dari hewan yang lebih mengutamakan nafsu. Hati nurani ini akan selalu berkata benar dan tak ingkar.

Akhirnya semua keputusan berada di tangan rakyat dan pemimpin nanti, mau dibawa kemana Sulsel, apakah ke jalan kesejateraan atau ke jalan kesesatan. Sinergitas sangat diperlukan. Rakyat yang tulus memilih pemimpin tanpa suap dan cerdas melihat calon pemimpin. Pemimpin yang berpihak pada kebaikan, bertanggung jawab, serius dengan pekerjaannya, sederhana, tidak korupsi, punya idealisme dan cerdas. (*)


Daftar Rujukan

Sutanto, Yufuf dkk. 2011. The Dancing Leader. PT. Kompas Gramedia Utama. Jakarta.
Muhammad Monib dan Islah Bahrawi. 2011. Islam dan Hak Asasi Manusia dakam Pandangan Nurcholish Madjid. PT Gramedia Utama. Jakarta.
x

Wednesday, 7 November 2012

Mahasiswa dan Idealisme

Mahasiswa harus idealis! Pernyataan ini dapat Anda sanggah ataupun dukung. Tak jarang pandangan sebagian masyarakat menempatkan mahasiswa sebagai wakil sebenarnya yang membelah hak-haknya. Namun ada pula mahasiswa yang berpura-pura idealis. Kenyataanya mereka munafik.

Idealisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat terbitan Gramedia mempunyai tiga arti, pertama aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai salah-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami; kedua hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna; ketiga aliran yang mementingkan khayal atau fantasi untuk menunjukkan keindahan dan kesempurnaan meskipun tidak sesuai dengan kenyataan.

Dari pengertian di atas semua mengarah kepada kesempurnaan hidup atau cita-cita tertinggi. Tapi cita-cita hidup yang mana? Karena tiap mahasiswa mempunyai cita-cita yang berbeda. Kita spesifikkan ke cita-cita yang menurut saya idel untuk siapapun. Kesejahteraan, hidup tenang, tidak kelaparan, mendapat keadilan, dan damai. Tapi apakah ini cukup untuk manusia? Saya kira tidak. Karena manusia adalah makhluk yang tak mempunyai parameter yang jelas tentang cita-cita, karena cita-cita mudah berubah menurut ruang dan waktu.

Berbicara sepakat dan tidak sepakat. Dari ketiga pengertian tentang idealisme ini, maka saya sepakat, idealisme adalah aliran yang mementingkan khayal atau fantasi untuk menunjukkan keindahan dan kesempurnaan meskipun tidak sesuai dengan kenyataan.

Seorang yang idealis memang tak jarang diperhadapkan dengan hal-hal yang membuat mereka justru jauh dari ke-idealisan-nya. Seperti yang dikatakan oleh penulis buku “Tuhan Sang Penggoda” M. Arief Budiman, semakin Anda mengejar cita-cita tinggi tapi Anda akan diperhadapkan kenyataan yang membuat Anda semakin jauh dari cita-cita itu.

Memang berat terus dalam ke-idealisme-an. Karena tantangannya sering datang dan skala besar. Tantangan berupa godaan materi dan peningkatan derajat status sosial ataupun iming-iming jabatan yang wah. Mempertahankan idealisme memang berat, hingga sampai-sampai kita bergumam tak sanggup. Tuhan pun mengakui mempertahankan sesuatu itu memang berat. Hal ini Ia sebutkan dalam salah satu kitab sucinya, Al-Qur’an. Shalat bagi muslim merupakan kewajiban diakui Tuhan berat. Hal ini diungkapkan dalam surah Al-Baqarah ayat 45. “…Dan (Shalat) itu sungguh berat, kecuali orang-orang yang khusuk.” Khusuk berarti sungguh-sungguh. Sama hal dengan Idealisme membutuhkan kekhusukan atas orang-orang yang memegangnya.

Tak banyak yang bisa melewati tantangan ini, namun bukan berarti tak ada yang bisa melewatinya. Mahasiswa berpotensi, karena mempunyai khayalan tinggi, anilisis tajam dan keberanian untuk berbeda dengan elemen masyarakat lainnya. Tinggal eksekusi tepat dan matang yang mesti belum.

Hegemoni menjadi mahasiswa memang tak pernah ada habisnya diceritakan. Namun hegemoni ini semakin terkuras habis ketika sang mahasiswa sudah tak menyandang lagi statusnya. Cita-cita tinggi seakan hilang tak berbekas.

Tak sedikit mahasiswa yang kehilangan idealismenya ketika menjadi alumni. Karena idealisme tak sesuai dengan khayalan dengan realitas yang ada. Maka sang mahasiswa kecewa dan meruntuhkan sendiri ke-idealisan-nya. Sekarang Anda yang masih berstatus mahasiswa persiapkan untuk menghadapi realitas tersebut.

Thomas Alfa Edison, Orville dan Wilbur (Wright Bersaudara), Albert Enstein adalah contoh seorang yang kukuh dengan idealismenya. Tak terpengaruh dengan realitas yang ada saat itu.

Mark Elliot Zuckerberg, mantan mahasiswa Harvard University dan Mercy College, tak terpengaruh dengan godaan materi. Ketika Facebook ingin dibeli Microsoft pada tahun 2007, CEO Microsoft Steve Ballmer merayu Mark dengan uang sebesar US$ 15 miliar. Opsi lain dari tawaran Microsoft adalah setiap enam bulan sekali Microsoft akan membeli 5% saham Facebook, sehingga pengambilalihan perusahaan direncanakan akan selesai 5 sampai 7 tahun lagi. Akusisi itu memang tidak pernah terjadi, namun Microsoft membeli 1,6% saham atau sebesar US$ 250 juta. Mereka semua adalah pengkhayal “kelas berat”.

Semoga Mahasiswa masih tetap kukuh, sepakat, dan teguh dengan idealismenya. (*)

Tuesday, 6 November 2012

Sejarah Singkat Teori Evolusi

Akar pemikiran evolusionis muncul sezaman dengan keyakinan dogmatis yang berusaha keras mengingkari penciptaan. Mayoritas filsuf penganut pagan di zaman Yunani kuno mempertahankan gagasan evolusi.

Jika kita mengamati sejarah filsafat, kita akan melihat bahwa gagasan evolusi telah menopang banyak filsafat pagan.

Akan tetapi bukan filsafat pagan kuno ini yang telah berperan penting dalam kelahiran dan perkembangan ilmu pengetahuan modern, melainkan keimanan kepada Tuhan.

Pada umumnya, mereka yang memelopori ilmu pengetahuan modern mempercayai keberadaan-Nya.

Seraya mempelajari ilmu pengetahuan, mereka berusaha menyingkap rahasia jagat raya yang telah diciptakan Tuhan dan mengungkap hukum-hukum dan detail-detail dalam ciptaan-Nya.

Ahli Astronomi seperti Leonardo da Vinci, Copernicus, Keppler dan Galileo; bapak paleontologi, Cuvier; perintis botani dan zoologi, Linnaeus; dan Isaac Newton, yang dijuluki sebagai "ilmuwan terbesar yang pernah ada", semua mempelajari ilmu pengetahuan dengan tidak hanya meyakini keberadaan Tuhan, tetapi juga bahwa keseluruhan alam semesta adalah hasil ciptaan-Nya.

Albert Einstein, yang dianggap sebagai orang paling jenius di zaman kita, adalah seorang ilmuwan yang mempercayai Tuhan dan menyatakan, "Saya tidak bisa membayangkan ada ilmuwan sejati tanpa keimanan mendalam seperti itu.

Ibaratnya: ilmu pengetahuan tanpa agama akan pincang.

"Salah seorang pendiri fisika modern, dokter asal Jerman, Max Planck mengatakan bahwa setiap orang yang mempelajari ilmu pengetahuan dengan sungguh-sungguh, akan membaca pada gerbang istana ilmu pengetahuan sebuah kata: "Berimanlah". Keimanan adalah atribut penting seorang ilmuwan.

Teori evolusi merupakan buah filsafat materialistis yang muncul bersamaan dengan kebangkitan filsafatfilsafat materialistis kuno dan kemudian menyebar luas di abad ke-19. Seperti telah disebutkan sebelumnya, paham materialisme berusaha menjelaskan alam semata melalui faktor-faktor materi.

Karena menolak penciptaan, pandangan ini menyatakan bahwa segala sesuatu, hidup ataupun tak hidup, muncul tidak melalui penciptaan tetapi dari sebuah peristiwa kebetulan yang kemudian mencapai kondisi teratur.
Akan tetapi, akal manusia sedemikian terstruktur sehingga mampu memahami keberadaan sebuah kehendak yang mengatur di mana pun ia menemukan keteraturan. 

Filsafat materialistis, Darwin yang bertentangan dengan karakteristik paling mendasar akal manusia ini, memunculkan teori evolusi di pertengahan abad ke-19.(*)

Pucak di Ujung Kepunahan

Tak banyak yang tahu keada­an Pucak Teaching Farm (PTF) se­karang ataupun mengenal tempat ini. Dahulu me­mang kebun agro­wisata ini sa­ngat terkenal hing­­ga mampu me­ng­­eks­por hasil per­­ta­ni­annya ke ka­bu­paten lain.

Kebun ini ter­­letak di Desa Pu­cak, Kecamat­an Tanralili, Kabupaten Maros. Pu­cak Anda dapat tempuh dengan menggunakan jalur darat dengan menggunakan kendaraan motor maupun mobil. Jarak dari Makassar ke Pucak sekitar 35 kilometer.


Jalan ke tempat ini dulunya adalah aspal namun sekarang jalannya sudah rusak. Tempat ini milik mantan Gubernur Sulsel HZB Palaguna. Sejarah PTF dimulai pada tahun 1988. Ketika itu luasnya hanya 4 hektare.
Tanaman yang dibudidayakan adalah mangga dan jeruk. Awal tahun 2000, pemilik mulai mengarahkannya untuk agrowisata dan mulai membangun beberapa fasilitas pendukung.

Konsep teaching farm mun­cul dari kesenangan pe­mi­­lik­­­nya melakukan inovasi di Bi­­dang Usaha Tani (Farm). Ke­­tika itu, pemilik­nya meme­gang jabatan tertinggi di Pro­vinsi Sulawesi Selatan sehingga dalam mengambil sebuah kebijakan yang dirasa perlu melakukan uji coba. 

Beberapa uji coba yang sudah dilakukan dan telah menunjukkan hasil adalah budi daya jeruk siam, budidaya ikan nila dan ikan mas, penangkaran rusa jenis Rusa Timor, dan peternakan kam­bing Boerawa. 

Produksi jeruk siam dari PTF tahun 2008 adalah sebanyak 45 ton dan telah dipasarkan di beberapa kabupaten. Penangkaran rusa juga mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan, dari jumlah enam ekor kini telah mencapai 70 ekor. 

Ditambah lagi jenis burung yang didatangkan dari luar Sulawesi seperti burung rangkong dari Kalimantan dan Burung Merak dari Pa­pua. 

Namun sekarang keada­annya berubah seratus delapan puluh derajat. Binatang dan area perkebunan terlihat tak terawat dengan baik. Sekarang, area perkebunan dipenuhi dengan sampah dari pengunjung. 

Kandang binatang kotor dan tak terawat, binatang yang tinggal di sini satu persatu mati karena tak terurus dengan baik. Binatang itu makan apapun yang ada. Apabila diberi roti akan dimakan, diberi biskuit pun lahap ditelan. Pengunjung leluasa memberikan makanan maupun mengganggu binatang tersebut. 

Ada yang menusuknya dengan kayu, ada yang melemparinya dengan batu, ataupun ada yang membuatnya merasa tak aman. Setiap hari, minggu, dan bulan mereka mendapat perlakuan seperti ini. 

Tahun lalu masih ada beberapa jenis burung kini sudah menghilang. Rusa Timor yang dulunya mencapai 70 ekor kini jumlah tak cukup 10 di kandangnya. 

Tempat menginap memang bertambah namun orang-orang yang ke sini tak sama lagi dengan tahun-ta­hun berdirinya tempat ini. Ke­giatan mereka kebanyakan ha­nya berwisata sangat jarang da­tang ke sini untuk meneliti. 

Apabila terus dibiarkan Pucak tak terurus bukan tak mungkin tempat ini akan meng­alami “kepunahan”, se­mua spesies akan mati, la­pang­an pekerjaan bagi kar­yawan akan hilang, dan ma­syarakat Sulsel terkhusus Ma­ros akan kehilangan tempat yang pernah membesarkan namanya. (*)

Menyoal tentang Jurnal Ilmiah






Surat edaran Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Dikti Kemdikbud) yang menjadikan publikasi karya ilmiah tiket lulus mahasiswa terus menuai pro kontra. Terkhusus pada kalangan pendidik terlebih lagi perguruan tinggi swasta.

Ihwal munculnya himbauan ini karena publikasi jurnal ilmiah sangat menyedihkan dan plagiasi yang merajarela di Indonesia. Dengan 160 ribu akademisi dan peneliti yang dimiliki, setiap tahun Indonesia hanya mampu memublikasikan kurang dari 500 jurnal ilmiah secara internasional (Suaramerdeka.com,12/3/12). Kondisi itu tertinggal jauh dari negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Thailand, Vietnam dan Filifina.

"2001 hampir semua sama jumlah publikasi jurnal, namun semakin ke sini Indonesia semakin tertinggal, terutama dari Malaysia, Turki, China," jelas Nuh. (detikcom, 27/2/12). Tak ayal untuk mengatasi persoalan ini maka pemerintah mengeluarkan himbauan yang dikemas dalam bentuk surat edaran yang bersifat “memaksa”.

Peraturan ini mengharus segera terlaksana bulan Agustus 2012 mendatang. Memang surat dari pemerintah masih dalam batas himbauan namun isi surat menyebutkan keharusan yang dengan kata lain mau tak mau mesti dilakukan. Tak ada yang menyangkal himbauan ini berat karena mahasiswa mesti menerbitkan tulisan yang masuk dalam skala jurnal ilmiah. Tentunya dalam membuat karya ilmiah tak segampang menulis celoteh ataupun tulisan yang biasa kita lihat di majalah atau koran.

Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia yang merupakan refrensentasi perguruan tinggi swasta menolak kewajiban memublikasikan karya ilmiah mahasiswa di jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan. Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi), Edy Suandi Hamid, berujar bahwa jangan sampai jurnal yang ditelurkan oleh mahasiswa bukanlah jurnal yang sebenarnya diakui oleh dunia internasional.

Perkataan dari ketua Aptisi ini memang beralasan. Peraturan dari pemerintah ini terlihat sangat tergesa-gesa yang langsung mengumumkan kepada semua universitas. Namun perlu diingat, kemampuan dari setiap universitas sangat beragam. Alangkah tak elok rasanya jika universitas sekaliber UI, UGM dan ITB disejajarkan dengan universitas yang nun jauh di provinsi kecil.

Tapi perlu dicatat, Negara Indonesia adalah negara yang masih masuk dalam kategori negara berkembang. Jika kalangan pendidikan hanya kebanyakan teori dan takut akan cercaan masyarakat dunia sungguh adalah sifat yang kalah sebelum berperang. Sesuatu itu dapat dinilai kalau sudah ada. 

Bagaimana kita mengetahui jurnal yang ada benar atau tidak kalau belum terlihat hasilnya. Di sini juga akan terlihat fungsi dari pembimbing apakah memang laik menjadi seorang pembimbing. Adapun itu jika nantinya kualitasnya di bawah standar maka akan ada paremeter yang nyata menilai jurnal buatan anak Indonesia . Ketimbang hanya menakutkan persoalan yang belum terjadi. Selanjutnya diperbaiki secara bersama-sama.

Pemerintah beralasan bahwa kebijakan ini dikeluarkan karena publikasi ilmiah dari Indonesia sangat menyedihkan. Fakta ini memang benar adanya tahun lalu Indonesia kalah telak dari Malaysia yang memublikasikan lima kali lebih banyak. 

Padahal pemerintah telah menyiapkan insentif untuk peneliti yang yang akan meneliti. Dengan diadakannya peraturan ini pemerintah melalui Kemendikbud optimis dapat mengungguli Negara di Asia dengan potensi 400 ribu lulusan tiap tahunnya.

Selain itu kasus plagiat tak lepas dari motif pemerintah mengeluarkan himbauan ini. Di Makassar sendiri masih banyak persoalan tentang kasus yang satu ini. Bahkan universitas terkemuka di daerah ini pernah terjerat kasus plagiasi dan pembuatan skripsi (karya ilmiah). 

Jika permasalahan tetap dibiarkan maka bukan tak mungkin mahasiswa akan menjadi generasi pengikut dan mudah untuk diarahkan. 

Hal ini juga akan berimplikasi kepada tak adanya lulusan yang kompetitif untuk bersaing dengan negara lain. Apabila sudah demikian maka bangsa ini hanya akan berperilaku konsumtif dan tak produktif.

Alasan selanjutnya yakni mendorong tumbuhnya budaya ilmiah, dapat diakui budaya ilmiah di kalangan mahasiswa sangat rendah. 

Baik antar mahasiswa maupun dosen dengan mahasiswa. Hal ini terlihat proses belajar mengajar. Dialektika yang terbentuk saat kuliah hampir tidak ada, kebanyakan sistem yang ada pun terkesan satu arah yakni dosen menjelaskan kemudian mahasiswa mendengarkan.

Setelah itu tak ada dialek yang terbentuk antara kedua elemen ini. Mahasiswa pun sudah merasa puas dengan ceramah sang dosen sehingga pengetahuan tertahan pada ilmu dosen tersebut. Apabila dosenpun tak meningkatkan derajat keilmuannya maka lulusan yang dihasilkan akan sama saja dari tahun ke tahun. 

Hasilnya ilmu yang ada pada seorang mahasiswa ataupun alumnus adalah cloning dari dosen. Mahasiswa pun jarang melaksanakan penelitian secara berkala. Penelitian yang dilakukan juga terkesan menggugurkan kewajiban yang hanya dikerjakan saat skripsi ataupun pembuatan tugas akhir.

Alasan ini menjadi perhatian yang cukup untuk memahami motif pemerintah dan memikirkan konsekuensi membuat jurnal untuk kehidupan. Seyogiyanyapun jurnal tak terbatas sebagai bahan untuk gagah-gagahan dengan negara lain atapun hanya sebatas eksploitasi. Alasan pemerintah melalui surat edaran Dirjen Pendidikan Tinggi atas himbauan membuat jurnal adalah suatu kekeliruan. 

Banyak orang meginterpretasikannya bahwa jurnal hanya dibuat berdasarkan atas kalah jumlah. Mestinya pemerintah memasukkan alasan yang diungkapakan oleh jajaran Kemendibud di dalam media cetak ataupun online tersebut ke dalam surat edaran. Siapapun pasti akan menilai alasan pemerintah hanya kalah jumlah dari Malaysia sehingga keluarlah peraturan ini.

Selanjutnya pro kontra yang ada di kalangan pendidik mesti diselesaikan secara bijak. Ada baiknya pemerintah legowo duduk bersama dengan pihak yang terkait yang menolak publikasi karya ilmiah. Jika perang argumentasi yang muncul hanya akan memunculkan perdebatan semu. 

Artinya kita memperdebatkan sesuatu yang belum terlaksana namun sudah ribut dengan konsekuensi negatif yang belum tentu terjadi . Ketakutan sebagian dari elit pendidik kampus sangatlah besar tentang adanya jurnal ilmiah ini namun masukan ini mesti tetap diapresiasi oleh pemegang kuasa pendidikan. (*)











Bangsa Indonesia, Sadarlah!

MASIH belum kering di ingatan peristiwa kekerasan pemuda di Makassar yang menewaskan 2 mahasiswa. Kini muncul lagi kekerasan pemuda yang lagi-lagi meminta tumbal.

Kekerasan ini bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2012 lalu. Tawuran antar dua kelompok pemuda melibatkan warga kompleks Kusta dan kompleks Rotas di Jalan Dangko, Makassar. Akibatnya tiga orang terluka, seorang polisi dirawat di rumah sakit dan seorang wartawan terkena busur.

Selain di Kota Makassar, kekerasan juga terjadi di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung yang melibatkan pemuda Bali Nuraga Kecamatan Way Panji dengan warga Desa Agom Kecamatan Sidomulyo. Akibatnya tiga warga tewas dan dua luka berat.

Kekerasan ini pun masih berlanjut sehari kemudian yang menyebabkan tiga orang kembali tewas.

Dari data terakhir sudah 14 orang yang meninggal. Hingga kini suasana di Kabupaten Lampung Selatan masih mencekam. Kaum perempuan dan anak-anak masih takut untuk kembali ke rumahnya masing-masing.

Motif terjadinya tawuran ini masih simpang siur, ada yang mengatakan hanya masalah sepele, bersinggung perasaan dan masih banyak lagi alasan yang tak jelas, yang jelas tawuran ini melibatkan antar dua etnik.

Jika itu hanya masalah sepele mengapa mesti dibesar-besarkan? Apakah sebanding alasan tersebut dengan korban jiwa yang jatuh? Apakah hanya dengan bersinggungan perasaan sebanding dengan terbunuhnya orang? Apakah pihak yang pelaku tawuran merasa untung jika merusak, melukai atau bahkan membunuh seseorang sebagai ajang untuk melampiaskan sakit hati? Semua pertanyaan ini ada baiknya diskusikan bersama.

Namun apapun motif tawuran antar pemuda ini menghasilkan kesimpulan yang sama yakni korban jiwa dan material.

Sebagian besar paradigman pemuda sekarang adalah apabila ada permasalahan mesti di selesaikan secara “jantan” yakni dengan adu kekuatan yang tak jauh dari cara-cara kekerasan.
Menurut saya cara-cara kekerasan bisa diambil jika permasalahan itu bersangkutan dengan permasalahan bangsa. Namun definisi bangsa sekarang dipandang sempit yakni jika sudah tak satu suku misalnya suku Makassar maka kita tak satu bangsa. Padahal bangsa Indonesia itu luas, mencakup dari Sabang hingga Marauke bukan hanya dalam kabupaten apalagi desa.

Tak ada salahnya mencontoh bangsa lain yang multietnis, multiculture dan banyak agama.

Amerika Serikat pernah mengalami permasalahan suku yakni antara kulit putih dan kulit hitam namun sekarang sudah dapat terselesaikan. Hingga terpilihnya presiden yang berasal kulit hitam pertama, Barack Obama, yang menunjukkan toleransi antar suku.

Berbicara tentang perselisihan antar suku, di negeri ini memang sudah sering. Poso, Maluku, Kalimantan Tengah porak-poranda dengan perselisihan antar etnis ini. Bahkan Poso pun kembali bergejolak saat ini dengan ditemukannya dua anggota polisi terbunuh.

Permasalahan etnik memang menjadi rentetan sejarah yang buram dalam perjalanan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia terkhusus pemuda mesti berpikir perilaku tawuran bukan lagi zamannya.
Permasalahan yang diselesaikan dengan jalan kekerasan memang harus sudah dihentikan. Sangat banyak permasalahan bangsa yang lebih membutuhkan pemikiran bersama. Pemuda mesti berpikir maju.


Perang sesungguhnya adalah menjadikan bangsa Indonesia terpandang, maju dan masyarakatnya sejahtera. Globalisasi adalah tantangan bangsa ini yang sebenarnya. Sampai kapan kita akan terus tenggelam dalam perilaku primitif?


Baca juga di Tribun Timur.com edisi 6 November 2012.